Her Private Life

Her Private Life
Animate inanimate objects


__ADS_3

Perlahan membuka pintu ruangan tersebut, dia melihat dua gambaran ini telah di lukis dengan sempurna, ruangan yang tadi rapih menjadi seperempat kotor dengan cat.


Irin benar-benar kagum dengan lukisan dirinya yang di gambar oleh Akira, berdiri di depan papan itu, dia melihat lukisan wajahnya sendiri kemudian mengalihkan pandangan pada tiga lukisan Yuna di tembok.


"Orang ini...benar-benar mirip denganku"


Lalu, dia melihat lukisan satunya lagi, itu adalah Akira yang menggambar dirinya sendiri dari contoh foto di ponsel Irin.


Setelah melihat semua nya dan Akira yang tertidur pulas di kursi panjang itu, Irin berinisiatif untuk membersihkan semua cat-cat yang mengenai lantai ini. Hanya dengan perintah nya untuk menghidupkan sapu dan pel lantai, benda mati ini hidup dan bisa berbicara dengannya untuk melakukan perintah yang dia berikan.


"Sapu, bersihkan semua pasir yang ada!"


"Lap, bersihkan semua cat yang jatuh di lantai!"


"Untuk pel, setelah sapu dan lap menyelesaikan tugasnya, tugasku adalah membuat kembali semua lantai ini licin dan berkilau, bagaimanapun caranya!"


Ketiga benda ini pun langsung mengeluarkan kata-kata yang seperti menerima perintah untuk dilaksanakan, semua di awali oleh lap, kemudian sapu, dan yang terakhir adalah pel.


Semuanya bergerak sesuai perintah Irin, yang perlu irin lakukan hanyalah memegang botol berisi cairan pembersih lantai itu, dia hanya perlu mencampur cairannya dengan sedikit air agar lantai nya tidak terlalu licin.


Setelah lap dan sapu menyelesaikan tugasnya, Irin hanya perlu menumpahkan semua campuran cairan lantai ini ke bagian lantai yang kotor tadi, kemudian pel akan melakukan tugasnya membersihkan semua lantai dengan cairan yang di tumpahkan ini, bukan hanya lantai yang kotor, Irin memerintahkan agar membersihkan semua bagian ruangan ini hingga ke ujung nya.


"Lalu di dapur? Apa-apaan ini!! Akira dan Isami memiliki begitu banyak tumpukan cucian piring!"


Gumam Irin.


Irin terpaksa harus menggunakan sihir sekali lagi untuk menghidupkan yang lain, tetapi yang di hidupkan kali ini adalah semua piring, gelas, dan sendok yang kotor, ini benar-benar menumpuk.


Hanya dengan menunjukan jarinya dan sinar biru menyala yang saling terhubung membuat semua benda mati ini menjadi hidup.


Irin awalnya mencari-cari dimana letak sabun cuci piring nya, namun setelah mencarinya dia menemukan sabun cuci piring ini, karena tempat cucian ini kecil, maka dia harus mencari loyang yang muat untuk seukuran piring atau lebih.


Menyalakan keran untuk mengisi dua per empat loyang dengan air dan mencampurnya dengan sabun cucian hingga berbusa-busa.


Dia ingin semua piring kotor mematuhinya untuk membersihkan diri mereka masing-masing, yaitu dengan berendam ke dalam loyang penuh sabun berbusa satu persatu kemudian pergi ke air yang mengalir dari keran ke bak cucian.


"Masuk! satu per satu! tidak boleh sekaligus!"


Satu per satu barisan di awali oleh para piring kotor yang masuk ke dalam loyang penuh sabun dan keluar dari loyang menuju air mengalir di bak, setelah piring, giliran sendok dan gelas.


Karena mereka tidak memiliki tangan atau kaki, maka Irin menciptakan mereka sepasang tangan dan kaki untuk berjalan sendiri, tangan dan kaki yang lucu.


Tapi jarak dari lemari piring dan bak cucian itu lumayan jauh, tidak mungkin mereka akan melompat ke bawah dengan sangat tinggi, maka dari itu Irin harus menggerakkan jari-jarinya di masing-masing piring untuk menerbangkan mereka masuk ke dalam lemari sesuai tatanan nya.


Dalam lima menit saja, semuanya terselesaikan, ini benar-benar banyak jika di lakukan secara manual mungkin bisa memakan waktu lebih dari sepuluh menit, sihir itu benar-benar membantu.


Setelah semuanya selesai, Irin kembali ke lantai dua tempat ruangan Akira, dia harus membangunkan Akira, namun sedang memikirkan caranya, membangunkannya mungkin akan mudah.


Hidungnya terasa gatal


Apa ini?


Bergerak-gerak


HA...HAA...HACHOOO!!!


Akira terbangun dengan cepat karena bersin yang membuat hidungnya benar-benar gatal.


"Ahhh? apa ini?"

__ADS_1


Dengan kondisi tiga per empat sadar.


"Tadahhh!!!"


Sambil memegang seekor kucing


Rupanya Irin membangunkannya dengan meletakan ekor kucing di hidungnya selama dua menit.


"Oh, Irin...kamu sudah bangun?"


Berbicara sambil menahan rasa mengantuk, namun tidak bisa lagi tertidur.


Dia kemudian menggosok-gosok matanya untuk membuatnya tidak mengantuk lagi.


"Kamu harus bangun, kita harus segera mengantar tugas ini"


Akira mengangguk dan segera merapikan gambar untuk di gulung dengan karet, lalu menyimpannya ke dalam ruang simpanan, ketika mereka sudah sampai di sekolah, gambar-gambar ini akan di keluarkan kembali dari ruang sihir simpanan.


"Tunggu dulu, kenapa semuanya bersih? kamu membersihkan nya??"


"Tentu~"


Sambil tersenyum.


"Ah, pekerjaan ku sepertinya berkurang, tunggu sebentar aku mau ke bawah untuk minum"


Akira turun ke bawah namun Irin mengikutinya, mencoba mengambil gelas dan air untuk di minum, kemudian dia terkejut lagi.


"Hah? piring? semuanya bersih? Isami dimana? apakah dia? atau kamu?"


"Tentu saja aku, tumpukan piring nya benar-benar berantakan dan kotor! aku tidak menyukainya, kamu benar-benar mempersulit hidupmu"


"Benar, pertama, kamu harus turun mengambil gelas sendiri tanpa perlu menggunakan sihir untuk menciptakan gelas dan air, kedua, kamu tidak menggunakan sihir untuk membersihkan semua nya dengan mudah, kenapa?"


"Aku? kenapa? sepertinya aku mencoba sepertimu untuk mencoba tidak menggunakan sihir"


"Aku menggunakan nya, terkadang... tapi aku menggunakannya di waktu-waktu tertentu jika itu merepotkan, bukan berarti kamu tidak boleh menggunakan nya"


Selain Akira, Isami juga sudah jarang menggunakan sihir, layaknya manusia normal, mereka melakukannya, namun harusnya mereka bisa menggunakan sihir dengan benar untuk melakukan sesuatu, contohnya membersihkan cucian piring bertumpuk itu.


Kemudian terdengar suara menguap yang sedikit keras dari arah lain...


HOAHHHH...


Isami baru bangun, meskipun bekerja begitu keras sampai semalaman, namun dia masih bisa tidur begitu cukup dan bangun pagi, mengambil gelas untuk tujuan yang sama dengan Akira yaitu minum, mencuci wajah.


Namun dia juga agak terkejut dengan dapur yang begitu bersih.


"Irin ya? kamu membersihkan nya? wahh"


"Hmmm...hmmm...hmmm...."


Artinya benar, benar dan benar.


Setelah mengambil gelas untuk minum, Isami pergi lagi ke ruang tengah di sofa untuk duduk disana, membuka ponsel, menyalakan TV, mengambil makanan ringan dari kulkas.


Kebiasaannya sebelum sekolah adalah melakukan hal-hal tersebut, lagipula dia sedang mengumpul mood nya untuk menghadapi Cian lagi yang menyuruhnya memasang sepatu.


"Tenang Isami! tinggal tiga atau dua hari lagi!!"

__ADS_1


Kata nya dengan berbicara sendiri dengan nada agak kesal.


"Akira, aku akan pulang untuk mandi dan menggan-"


SLUPPP!!


"Ehhh??


Di tangan Akira sudah ada bajunya, Akira mengambil seragam sekolah Irin dari dalam lubang yang membuat tangannya bisa menembus untuk mengambil apapun di kordinat lain lubang itu.


Ketika dia menarik tangannya kembali, baju yang di ambil dari tempat lain sudah berada di tangannya.


"Ini...bajumu"


"Eh? kupikir kamu tidak akan menggunakan sihir lagi"


"Aku masih...aku akan menggunakannya, tapi sepertinya terkadang"


"Begitu yah? lalu aku harus pulang untuk mand-"


SWAPP!!


Ketika Akira menyentuh tangan Irin, dia langsung terpindah dalam sekejap di depan sebuah pintu kamar mandi.


"Kamu tidak perlu kesulitan, aku akan membantu...mandilah!"


"Baiklah kalau begitu, tap-"


"Handuk baru sudah ada di dalam"


"Uhhh!!! kamu memotong pembicaraan ku terus! setidaknya biarkan aku menyelesaikan kalimatku!!"


Kesal Irin sambil mencubit lengan Akira.


Di tempat lain, di rumah Irin, Cian sudah berada di ruang tengah menunggu Isami datang lagi untuk memakaikan sepatu dan kaos kakinya, sementara Kiana harus mengatur rambutnya hingga terkuncir dua dan tergulung-gulung di ujung.


Hanya dalam lima hari saja sesuai perjanjian dia bisa menikmati semua ini, menyuruh Kiana mengambil teh, makanan, ini, itu dan lain-lain. Yang membuatnya santai adalah soal tugas-tugas atau itu, semuanya sudah selesai, dia harus meminta Kiana menyelesaikan semua PR nya, jika Kiana tidak tahu jawabannya dia tinggal buka internet saja dengan ponsel yang di berikan Cian.


Soal tugas gambar, Kiana juga di suruh menggambarkan tugas gambarnya, mungkin melelahkan, itulah nasib bagi yang kalah. Namun, mereka hanya perlu bersabar karena tinggal tiga hari lagi, setelah itu tidak ada lagi status seperti pelayan atau budak.


Isami mungkin kesal, namun Kiana masih biasa saja, Kiana dan Sora sudah terbiasa sejak mereka di jadikan budak oleh ratu mereka. Di perbudak, di siksa, namun masih ada harapan yang membuat mereka bertahan hidup hingga sekarang, yaitu mematuhi perintah Yuna.


Sampai akhirnya Yuna tiada, dan tibalah Irin dan yang lain menyelamatkan mereka dari jiwa yang terkurung di sebuah toples sihir.


Andai mereka semua tidak saling bertemu, mungkin Sora dan Kiana akan terus menjadi dua wanita malang yang jiwa nya tersegel dan tubuh mereka yang terus membisu seperti patung, berdiri di sisi kanan dan kiri pintu sambil mengenakan baju pelayan selamanya, menunggu hari kiamat tiba untuk bersama dengan yang lainnya menuju alam baru, entah kapankah kianat itu akan terjadi, namun itu adalah hal yang tidak di ketahui siapapun.


Membuka Pintu...


"Kamu, akhirnya datang juga!"


Kata Cian.


Isami langsung mengambil sepatu dan kaos kakinya di tempat biasa, kemudian mulai menuju Cian, menyentuh kakinya untuk memasang kan semuanya, untung saja ini adalah kaki wanita, lagipula aroma nya harum, berbeda jika Isami di perbudak oleh lelaki, mungkin sepatunya akan berbau tidak sedap.


"Ahh...kuharap suatu hari nanti aku akan mengajak Akira dalam tantangan dan membuatnya kalah hingga bisa memperbudak nya"


"Kamu!! apakah bisa begitu? bagaimana jika kita adakan lagi tantangan game kedua? aku akan berada satu tim dengan Akira, kamu berdua dengan memilih Sora atau Kiana di posisimu, pilih salah satu"


"Begitu yah? baiklah aku menerimanya, aku tidak sabar menunggu kalian kalah, agar bisa memperbudak lagi"

__ADS_1


Pagi ini Cian tidak mencari kemana Irin pergi, mungkin dia tahu bahwa Irin pergi untuk meminta Akira menggambarkan tugasnya, yang dia pikirkan sekarang adalah membuat Isami menjadi budak di hari ketiga seperti sebelumnya.


__ADS_2