Her Private Life

Her Private Life
Leashes


__ADS_3

...3 januari 4079...


Di pagi hari ini, adalah hari normal seperti mereka biasanya pergi ke sekolah, ini masih menjadi hari kedua hukuman Isami dan Kiana.


Dimana Kiana harus mengikat kuncir rambut Cian dan di setiap kuncir nya di catok berputar-putar hingga tergulung, kemudian Isami tidak langsung ke sekolah dia harus ke rumah Irin lagi untuk melakukan tugasnya memakaikan kaos kaki Cian.


"Ngomong-ngomong kenapa harus di catok lagi?" tanya Kiana.


"Hmmpph? mencatok rambut itu bagus! kamu tidak pernah melihat alat seperti ini di tempat asal kalian?"


"Ya, tapi benda ini ku akui memang luar biasa, bisa meluruskan rambut, bahkan membuat rambut yang lurus bisa menjadi tergulung-gulung begini"


"Tentu saja, ini adalah alat yang sangat bagus, dan kamu Isami! lakukan dengan benar! jangan terlalu lama!"


"Bagaimana aku harus bertindak cepat? jika kaki mu daritadi bergerak terus!!"


"Sudah! lakukan saja! jangan mengoceh!"


Isami harus dengan cepat menyelesaikan nya dan segera berangkat ke sekolah, tapi sebelum itu dia harus mengembalikan dulu buku catatan Cian yang di pinjami nya kemarin.


Jika mereka semua di beri tingkatan kecerdasan di suatu sekolah, mungkin akan menjadi seperti;


Airin\=Akira>Caillian>Sora>Kiana>Isami


Pada dasarnya Airin dan Akira sama saja, Akira tidak bodoh, dia dapat belajar secepat Irin dan memahami situasi apapun dengan cepat, sementara Cian tetap berada di peringkat kedua di bawah Irin dan Cian.


Lalu di posisi keempat dan kelima akan di tempati oleh Sora dan Kiana, dua gadis ini seharusnya lebih berpengetahuan daripada Isami.


"Sudah selesai?"


"Ya!"


Kemudian dia segera mengeluarkan buku catatan Cian dari tas nya dan segera memberinya untuk langsung pergi.


"Tunggu!"


Isami: "?"


"Mau kemana kamu?"


"Tentu saja langsung ke sekolah! aku harus pergi menyetor tugas ini secepat mungkin dari siswa yang lain di kelasku"


"Begitukah? kenapa catatan itu hanya di letakkan di meja? harusnya kamu mengisi di tas ku juga" nada memerintah yang songgong.


"Hah? tas itu hanya berjarak dua meter darimu! tidak bisakah kamu mengisi nya sendiri? itu bukanlah hal yang sulit!"


"Kamu harus mengingat perjanjian kekalahan mu! lakukan semua perintah yang kuberi!"


Dengan wajah marah Isami mengambil lagi buku catatan yang dia letakan di meja dan memasukan buku tersebut ke dalam tas Cian.


"Hah! terlalu banyak perintah!"


Kemudian dia pergi keluar dari rumah sendirian tanpa Akira dan Irin, dia langsung pergi ke sekolah sepagi ini, tepat masih jam setengah enam.


"Tunggu, kenapa dia pergi begitu cepat?"


tanya Kiana.


"Entahlah mungkin dia terdesak oleh tugas lain lagi?" jawab Irin.


Isami biasanya datang terlalu cepat bukan karena dia rajin untuk menyapa guru, memberi tugas, ataupun semacamnya, dia hanya datang langsung ke kelas, meletakan buku tugasnya di atas meja guru, dan segera duduk di tempatnya untuk tidur.


Jika Isami tidak pergi keluar di jam istirahat, maka itulah yang dia lakukan, tidur, bahkan dia pernah tertidur pada jam pelajaran.


Akira sengaja datang terlambat sedikit, menunggu sekolah ramai pada jam setengah tujuh, itu adalah waktu yang tepat untuk rencana lanjutannya.


"Akira? kenapa kamu tidak mengikuti mereka bertiga?" tanya Sora.


"Ah? aku? aku akan datang sedikit terlambat untuk melakukan rencanaku"


"Hmm? rencana apakah itu?"


"Membalas perbuatan anak-anak nakal di sekolah itu, ngomong-ngomong bisakah kamu memegang kepalaku??"

__ADS_1


"Kepalamu? untuk apa??"


"Tarik-tarik rambutku, seperti hal yang di lakukan seorang ibu"


Wajah Kiana segera memerah, dia tidak menyangka Akira akan menyuruhnya menyentuh nya.


Hal ini seperti menyisir rambut, namun menggunakan tangan sendiri, dan ini bukan menyisir untuk merapikan rambutnya, tapi untuk menyentuh rambutnya secara acak agar dia merasa nyaman, hal ini biasanya membuatnya tertidur.


"Ngomong-ngomong, Akira? apa benar kamu berpacaran dengan Irin? kami bahkan tidak tahu"


"Hehehehe, tentu saja, aku juga sedikit menyukai Cian, namun terkadang terlalu banyak candaan antara aku dengannya, sehingga kami tidak bisa saling mengerti perasaan serius"


"Tunggu dulu...kamu sedikit menyukai Cian?"


Tanya Kiana.


"Mungkin begitu! Ahahaha jangan beri tahu siapa-siapa okeh? hanya kalian berdua yang tahu"


"Akira, ternyata kamu tidak cukup dengan satu wanita?? dasar!"


"Ahh? bukankah tidak apa? aku akan berencana menciptakan Harem ku! bahkan kalian berdua bisa menjadi bagian dari Harem ku juga"


Kiana: "Harem?"


Sora: "Harem?"


"Ahh benar! aku sedikit tidak mau menjelaskan, karena kalian sekarang memiliki ponsel masing-masing, kalian bisa mencari tahu artinya di Internet, kan??"


Dalam sekejap keduanya segera membuka ponsel mereka dan membuka Internet, bahkan Kiana yang sedang menarik-narik rambutnya segera berhenti dan membuka internet untuk mencari artinya. Kemudian ekspresi kedua nya berubah setelah tahu apa artinya.


Kiana: "Akira kamu bercanda lagi"


Akira: "Bercanda? kupikir aku tidak bercanda!"


Kemudian Akira yang di kursi segera memegang wajah Kiana dengan kedua tangannya dan menggoda nya.


"Bagaimana jika kamu mau menjadi harem ku saja? Kiana menikahlah denganku"


Dengan senyuman licik yang membuat wanita jatuh hati.


"Eh? apa itu??"


Kiana segera pingsan karena tidak tahan mendengar kata-kata Akira, jantung nya hampir berhenti berdetak karena berdetak terlalu cepat.


"Kiana! Kiana! apa yang terjadi??? sadarlah!"


Sora panik.


"Akira!! apa yang kamu lakukan padanya!"


"Aku? aku bahkan tidak melakukan apa-apa, aku hanya menyentuh kedua pipi nya dan mengajaknya menikah, dia segera pingsan begitu"


Kemudian Sora yang menahan tubuh Kiana yang pingsan di lantai sedikit panik dan bertanya lagi sambil menggerakkan tubuh Kiana agar dia sadar.


"Kiana! Kiana!! sadarlah!"


"A-A-A ku Ak-A-Akira..."


Hyuung PLAKK!!


Dia pingsan lagi...


"Sudahlah kalau begitu, sudah saatnya aku pergi, hahaha aku baru bercanda saja sudah membuatnya begitu, maafkan aku hahaha..."


Dia segera masuk sendirian dari gerbang sekolah dan tidak menuju kelasnya, tidak seperti kebanyakan anak yang pergi berdua dengan temannya, atau bertiga, bahkan berkelompok lebih dari itu.


"Nah sekarang! dimana kamu? Vanis, jangan berpikir untuk tidak datang ke sekolah hari ini"


Kemarin Akira sudah menyentuhnya dan menandai dirinya, jadi kapanpun dan dimana pun Akira akan memanggilnya, dia akan segera terpindah dari tempatnya tidak peduli sejauh apa itu.


"Hah? Ak-Aku? dimana?"


"Jangan berpikir untuk lari! sekarang...dimana delapan orang lagi temanmu?"

__ADS_1


"Mereka di belakang gedung biasa untuk berkumpul disana"


"Bawa aku kesana!"


Vanis segera menuntun Akira ke tempat delapan orang sisanya untuk membalas kembali mereka.


"Kalian disini rupanya!! jangan berpikir untuk bersembunyi dariku" sambil tersenyum.


Ketika semuanya mau bergegas lari, tiba-tiba mereka tertarik kembali dan sebuah kalung sudah berada di leher mereka, setiap orang dengan satu kalung, dan di setiap kalung terhubung dengan rantai.


Bahkan Vanis juga tiba-tiba terpasang kalung di lehernya dan dengan rantai yang totalnya semua sepuluh rantai dari masing-masing kalung, semua nya berpusat ke tangan Akira.


"Akan ku peringatkan lagi, ini adalah kalung slave, sebuah kalung yang digunakan untuk budak! turuti perintahku atau ada konsekuensinya"


Semuanya: "?" sambil ketakutan dan gemetar.


"Langsung saja ke intinya, kalian harus merangkak sepanjang jalan seperti gaya anjing, dan jika kalian melawan sedikitpun, maka kalian akan merasakan sensasi terbakar di dalam organ tubuh kalian!"


Lakukan!


Kemudian mulai dari gedung kelas mereka, Akira memegang sebuah rantai yang terikat menjadi sepuluh cabang pada sepuluh orang, dia berjalan dengan santai sambil menarik sepuluh orang ini seperti anjing.


Banyak siswa memperhatikan ini dan segera memotret juga merekam Akira yang tiba-tiba memerintah anak-anak nakal sekolah seperti itu!


"Itu! teman-teman Kenny!"


"Lihatlah! Akira memberi pelajaran pada mereka!"


"Tunggu? bukankah kemarin dia babak belur di keroyok?"


"Apa yang terjadi?"


"Akira melawan sepuluh orang itu?"


Banyak kata-kata mulai saling bertanya, karena tanpa terduga Akira sendiri melawan sepuluh anak-anak nakal itu, dan kini berita Kenny sebagai siswa yang membawa narkoba telah tersebar dan di ketahui oleh semua orang di sekolah.


Banyak siswa melihat Akira sebagai anak yang sangat berani, mereka mengira Akira hanyalah seorang anak lelaki tampan dan pendiam yang di sukai banyak gadis.


Irin dan Cian yang di kelas bahkan melihat beberapa siaran langsung dari beberapa siswa sekolah ini, itu adalah Akira yang menarik sembilan orang dengan kalung seperti anjing.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Irin.


"Entah? tapi kenapa dia tiba-tiba seperti itu?"


Cian juga tidak tahu apa-apa.


Mereka tidak tahu bahwa kemarin Akira di hajar habis-habisan oleh semua anak ini, namun, para guru tidak melarang perbuatan Akira yang menyeret mereka seperti anjing, itu karena para guru sudah tahu kabarnya bahwa Akira adalah murid yang melaporkan semua kasus ini.


Dengan begitu, semua murid yang menjadi korban perundungan terselamatkan dan tidak ada lagi ancaman bagi mereka, Akira bagaikan pahlawan bagi mereka, sangat berani menentang anak-anak nakal itu.


Airin: "Pahlawan? apa-apaan dia itu?"


"Ahh Irin~ lihatlah pacarmu itu ternyata dia begitu kejam, kamu pasti bertanya bukan? kenapa dia menjadi sekejam itu? benar, aku lah yang mengajarkan nya cara bertindak yang benar kuhuhuhu..."


Irin: "Iihhhh!!"


Sambil berdiri di tengah lapangan yang sangat luas dia berkata.


"Semuanya, anak-anak nakal ini tidak akan menindas kalian lagi!! mulai sekarang akulah yang akan menundukkan mereka!!"


Sambil tersenyum seperti penjahat, namun terlihat tampan bagi para gadis meskipun senyumannya jahat.


Kemudian banyak murid bersorak, lebih tepatnya sangat banyak murid perempuan yang bersorak.


"Tidakkah kalian lihat itu? mereka semua bersorak untuk ku! akulah pahlawan! aku adalah raja! benar! aku juga seorang Dewa!"


"Ahahahahahahaha..."


Anak ini, jauh dari harapan mereka, dia benar-benar tidak terlihat seperti penampilan nya yang terlihat pendiam, dia ternyata lebih licik dari wajahnya.


Setelah bosan dengan menghukum mereka, Akira melepaskan semua kalung dan rantai dari mereka dan membebaskan mereka.


"Satu lagi, teruntuk kalian yang tersisa, Vanis sudah menerima hukuman ku sepenuhnya, yang tersisa adalah kalian berlima, aku akan menunggu lagi waktu sepulang sekolah tepat di luar sekolah"

__ADS_1


Vanis hanya diam dan gemetar tidak berani berbicara atau menyuruh mereka lari. Mereka terpaksa harus menerima konsekuensi dari perbuatan mereka, Akira berjalan sendiri dan menuju kelasnya seakan-akan seperti biasa, seperti tidak ada apapun yang habis terjadi.


__ADS_2