
Dengan cepat, Sora melompat ke atas tubuh ular dan menancapkan kedua pisau nya hingga merobek tubuh ular dengan robekan yang panjang.
SREEET....
"Arkghhhh!!!!!"
Ular besar itu berteriak sambil kesakitan.
Ular yang terjatuh dengan sekarat, di serang lagi oleh Cian yang memegang tonbak kayu nya, menusuk kepala ular besar itu hingga berkali-kali. Akan butuh sedikit waktu unuk memengal kepala besarnya jika hanya dengan pisau itu.
Cara lainnya adalah dengan menusuknya sekuat mungkin hingga menembus ke dalam tubuhnya sampai dia mati.
"Dia berhenti bergerak!"
"Sudah mati?"
"Kurasa begitu"
Kedua nya sambil menghela nafas lega...
"Sora kita harus meninggalkan tempat ini! mungkin saja ada lagi yang seperti ini dengan ukuran yang lebih besar! kita hanya memiliki senjata ini"
Sora hanya mengganguk dan mengikuti nya.
KLING!
"Hah? apa ini??"
Cian segera membuka ponselnya yang berbunyi, begitu pun dengan Sora...
[Status]
Level Up 0 --> 1
Nama: Caillian Nacht
Umur: 18 tahun
Tinggi: 162cm
Point: 17.000
Terbunuh: 1
...
[Status]
Level Up 0 --> 1
Nama: Sora Pearl
Umur: 18 tahun
Tinggi: 160cm
Point: 17.000
Terbunuh: 1
"Bagus! kita naik level!"
"Jadi begitu, kita harus membunuh monster buas lainnya?"
"Ya, lagipula uang kita bertambah lebih banyak dari sebelumnya yang tersisa tujuh ribu poin menjadi tujuh belas ribu poin"
"Belum, jangan membeli senjata dulu"
Saran Cian.
"Kenapa??"
"Kita harus mengumpulkan sedikit lagi untuk mendapatkan poin yang lebih banyak, dengan begitu kita bisa langsung membeli senjata kelas atas"
"Baiklah"
Keduanya masih tetap menyimpan tujuh belas ribu poin masing-masing untuk membeli senjata yang mahal dan lebih baik, total poin mereka adalah tiga puluh empat ribu poin.
Mereka makin tertarik untuk memasuki hutan dan membunuh monster lainnya, mengejar level secepat mungkin dan harus memenangkan permainan.
Akira dan Isami yang berjalan di tengah malam juga belum tidur, hutan yang mereka lewati juga agak berbeda dari sebelumnya.
Begitu banyak jaring laba-laba menyangkut di pepohonan, begitu tebal dan lengket.
"Apa ini?? jaring laba-laba?"
"Sepertinya, mengapa begitu besar?"
"Aku tidak tahu, tapi tetaplah waspada"
Sambil melangkah dengan hati-hati memperhatikan jejak mereka, berusaha tidak menginjak sesuatu yang salah. Tekstur tanah nya mulai aneh dan sedikit lengket di sepatu.
"Apa ini? sangat lengket!"
"Benar, waspada lah dengan langkahmu"
CREK!
"Apa itu?"
"Apa?"
"Bunyi?"
"Bunyi apa?"
"Yang kamu injak tadi"
Akira menggangkat sepatunya dan melihat ke bawah.
"Ini? laba-laba? besar sekali!!"
Laba-laba seukuran piring marang diinjak oleh nya hingga mengeluarkan suara hancur.
Beberapa saat kemudian, laba-laba yang terkecil mulai keluar dari setiap celah-celah pohon.
Tiba-tiba sesuatu menyerang mereka dengan sangat cepat...
"Apa itu!"
CRIKKK!!
__ADS_1
"Hah? jaring laba-laba? sial siapa yang melakukan ini??"
Kaki nya di serang dengan sebuah jaring yang benar-benar lengket di tanah, hingga membuatnya sulit bergerak.
Puluhan laba-laba yang lebih besar kemudian keluar dari celah pepohonan juga, dari atas pohon, dan dari dalam tanah.
"Sial! Akira lihat!! ada banyak sekali!"
"Isami potong jaring ini!"
"Oke!"
Isami dengan cepat bergegas memotong jaring yang menangkap kaki Akira. Mereka harus segera lari.
"Apa yang harus kita lakukan??"
"Lari!"
"Lari? lari kemana?? kita terkepung!"
Isami menggerakkan jari-jarinya melakukan hal yang tidak jelas.
"Isami, apa yang kamu lakukan??"
"Oh iya! betul juga, aku lupa bahwa kita tidak punya sihir...Sial! bagaimana ini, Akira?"
"Lawan saja!"
Kedua nya berlari bersamaan memukul semua laba-laba yang menerjang, laba-laba nya bergerak sangat cepat, terlebih lagi...ukurannya bukan seperti tadi yang seukuran piring makan, yang ini seukuran harimau.
PLAK!! PLAKKK! PAK!!
Akira terus memukul dengan tangan kosong, sementara Isami terus menyerang laba-laba yang menerjang dengan pisau kecil itu, hingga badan mereka yang robek mengeluarkan cairan lengket.
"Sial! mengenai tanganku! sangat lengket!"
"Baunya aneh, bukan??"
"Iya, Akira kita harus segera menyelesaikannya"
"Ayo!"
SANG! SING! SING!
Sudah sangat banyak laba-laba yang mereka hadapi.
KLING!
KLING!
KLING!
KLING! KLING! KLING! KLING.....
"Huh? apa ini? sangat banyak!"
Sebuah pemberitahuan masuk ke ponsel mereka dengan sangat banyak, namun mereka tidak bisa mengambil ponsel dan melihatnya.
"Tetaplah fokus, kita harus segera membunuh semuanya dulu"
Dalam beberapa menit...
Terus memukul dan menusuk...
Hingga semuanya selesai.
"Airin, bukankah mereka sudah kesulitan tanpa sihir seperti itu?"
"Tidak, aku percaya pada Akira dan Isami, mereka tidak akan kalah dengan mudah"
"Bagaimana dengan Cian?"
"Cian? astaga! aku lupa melihat mereka! kamu tidak mengawasi mereka tadi?"
"Umm...tidak...kupikir kamu juga sedang mengawasi tim Cian, jadi aku mengawasi tim Akira dari tadi"
"Kurasa sulit jika kita hanya melihat seperti ini"
"Jadi harus bagaimana?"
"Tunggu sebentar~"
Irin berlari ke lantai atas menuju ke kamar nya, dan turun kembali di ruang tengah membawa sebuah buku.
"Buku apa itu??"
"Buku harianku"
"Bukan harian?"
"Hmm, aku akan mempelajari hal yang ada jika saja masih ada lebih banyak sesuatu yang tidak aku ketahui di dalam buku catatan ini"
Lembaran lain dari buku di bukanya dengan tangan kiri nya yang memegang buku, namun buku itu tidak menyentuh telapak tangannya, hanya melayang di atas tangannya dengan cahaya biru bersinar.
Tangan kanan juga mulai mengeluarkan sinar yang sama dan semakin besar.
"Kiana..."
Kiana: "..."
Airin: "Mau mencoba sesuatu?"
"Mencoba sesuatu? apakah itu?"
"Sihir lain yang belum pernah ku pelajari"
"Coba saja, jangan bahayakan kita berdua, oke?"
"Oke"
Airin yang berdiri di samping Kiana sambil memegang buku catatannya yang bersinar akan mencoba sesuatu yang tertulis di dalam buku catatannya, berbeda dengan buku harian, ini adalah buku berisi catatan dengan semua sihir yang di miliki Hisoka Yuna. Jika benar dia bisa menggunakan semuanya, maka dia harus mencoba.
"Ritual sihir!! mulai!"
Kiana hanya diam sambil melihat apa yang akan di lakukan Airin pada mereka berdua. Dengan cahaya biru terang yang saling menghubungkan.
"Huh? tubuhku??"
Kiana agak khawatir dengan tubuh mereka yang perlahan menghilang dan seperti akan masuk menyatu dengan PC nya.
"Jangan khawatir, sepertinya ini adalah ritual Yuna itu dalam menggabungkan tubuhnya dengan sesuatu"
__ADS_1
"Menggabungkan tubuhnya dengan sesuatu?"
"Benar! tapi kali ini aku baru saja mempelajari nya"
Airin baru tadi membaca nya, tapi tidak semuanya, dia langsung mencoba karena penasaran. Tinggal menunggu hal apa lagi yang akan terjadi dan semoga saja tidak ada kesalahan dalam ritual seperti di catatan.
Hanya perlu membayangkan seperti apa dirimu jika menyatu dengan sesuatu...
Kedua nya tertarik menarik menjadi satu, meninggalkan tubuh mereka dan menghilang.
"Irin, tubuh siapa ini??"
"Entahlah? aku juga tidak tahu, tubuh wanita??"
Irin dengan cepat memutar jari-jari menciptakan sebuah cermin di depan mereka, hingga membuat keduanya sangat terkejut.
"Ini!!...ini...tubuh ratu??"
"Ini? tubuh Yuna??"
"Kenapa kita memakai tubuh ratu itu?"
"Aku juga tidak tahu, dan kita berdua menyatu di dalam satu tubuh ini, tenang...aku harus mencoba mempelajari yang keduanya"
Sepertinya bukan penggabungan seperti itu yang diinginkan Irin, itu sama seperti menggabungkan tubuhnya dengan orang lain, namun tubuh yang mereka pakai adalah tubuh Yuna si pemilik sihir dalam catatan.
"Airin! ratu memang benar-benar hampir mirip denganmu"
"Lupakan itu!"
Airin mengambil kembali buku catatan dan melayang di atas tangan kirinya, kembali membuka lembaran selanjutnya dan membaca nya hanya melalui pikiran. Cukup menyentuh buku itu saja pikirannya sudah terhubung dengan isi lembaran yang terbuka.
"Kurang lebih satu lagi..."
"Huh??"
Irin merentangkan kedua tangannya sampai tubuh ini melayang lima senti dari lantai dan makin tinggi, tubuh Yuna yang mereka gunakan makin bercahaya.
Namun, mereka seperti tertarik oleh sesuatu.
Irin sedang membayangkan bagaimana cara nya untuk menyatu dengan permainan nya sendiri sebagai room master, diikuti dengan Kiana sebagai wakilnya yang juga akan menyatu bersamanya di dalam permainan.
Layar PC tidak berefek apa-apa, namun asal tarikannya dari dalam sana. Menarik mereka ke dalam sebuah sistem di dalam komputer nya.
BLUSZZHZHZH...
"Kiana..."
"Kiana..."
"Bisakah kamu mendengarkan ku??"
"Airin..."
"Kamu dimana?"
"Aku bahkan tidak melihatmu"
"Tidak melihatku? sepertinya sama"
"Sangat gelap, entah gelap atau bukan"
"Aku seperti merasa berjalan"
"Berjalan di atas sesuatu yang tidak jelas"
"Tidak melihat siapa-siapa"
"Tapi aku bisa mendengar Kiana di dekatku"
"Suaranya bahkan bukan di dekat, tapi seperti dari segala arah"
"Apakah ritual yang kulakukan salah?"
Sebuah cahaya silau tiba-tiba mereka lihat dan sesuatu yang mereka lihat dan tidak bisa di jelaskan oleh apapun.
"Aku..."
"Aku..."
"Airin...ini?...apa??"
"Iya, aku melihatnya"
"Apa yang kamu lihat??"
"Semuanya!"
"Semuanya? apakah sepertinya sama sepertiku? aku tidak tahu bagaiaman menjelaskannya, inikah rencanamu?"
"Aku kurang yakin, namun sepertinya inilah dia"
"Kurang lebih seperti ini"
"Airin, suaramu dari segala arah, aku tidak melihat mu di mana pun"
"Sepertinya kita sama, apa jangan-jangan kita adalah satu?"
"Satu?"
"Benar! menyatu bukan secara fisik, namun non fisik, itu sebabnya kita tidak saling melihat"
"Lalu dimana tubuh kita??"
"Menghilang, kita menjadi bagian dari permainan"
"Bagian dari permainan?"
"Mungkin begitu, aku hanya mencobanya. Berharap tidak melakukan kesalahan"
Suara Kiana terdengar dari segala arah bahkan terdengar seperti aku sendiri yang berbicara dan mengeluarkan kata-kata itu, pasti dia merasakan hal yang sama, kami adalah satu sekarang, namun sepertinya bukan hanya aku dan dia...Tapi aku...dia...dan permainannya.
Kami tidak melayang...
Tidak terbang...
Tidak berjalan...
Seperti melakukan itu, namun rasanya aneh...
Apa ini?
__ADS_1
Keduanya berusaha saling memahami dengan penyatuan diri mereka, sekarang mereka adalah satu, Airin adalah Kiana, Kiana adalah Irin, dan keduanya adalah permainan itu sendiri.