Her Private Life

Her Private Life
Chapter 12 : Like A Broken Ship


__ADS_3

Airin bertanya dalam hatinya....


Apakah di luar sana masih banyak sesuatu yang lebih kuat dari ini?


Tentu saja itu kemungkinan ada.


Cian: "Aku masih tidak percaya mengapa kalian bisa memiliki hal-hal seperti kemudian aku tiba-tiba dapat meniru beberapa dari kemampuan kalian."


Airin: "Entahlah, sepertinya sebuah takdir jika kita di pertemukan disini."


Akira: "Kamu ... memiliki kekuatan seperti itu sepertinya tidak berbeda jauh dariku."


Cian: "Baiklah sampai disini dulu, aku akan segera kembali ke kelas mungkin untuk belajar mempersiapkan ujian pada jam selanjutnya segeralah kalian menyusul."


Kemudian dia mulai kembali ke gedung sekolah, yang tersisa kini hanyalah mereka berdua lagi.


Irin: "Mata apa yang kamu sembunyikan? Apa sebenarnya itu? Kamu......"


Akira: "..."


Irin: "Cepatlah jawab, apalagi yang kamu pikirkan!"


Irin: "Jangan bilang kamu memiliki mata yang sama seperti si lelaki yang menyebut dirinya story traveler itu?!!!"


Wajahnya Airin marah tapi terlihat lucu.


Akira: "Ahh, benar.... sepertinya tidak bisa di sembunyikan lagi ya~"


Irin: "Hah?" *~*


Irin tercenggang ternyata sesosok yang tertutup bayangan di dalam mimpinya sengaja menutupi identitas dirinya sebagai Akira.

__ADS_1


Irin: "Lalu, untuk apa kamu datang kesini? Apakah semua sesuai dengan harapanmu untuk menemukan cahaya lama mu?"


Akira: "Ya, seperti aku sudah menceritakan semuanya, saat-saat dimana aku berkeliling melihat ke semua garis waktu dunia yang berbeda, aku menjelajah kesana mencari kehidupan yang menarik".


Perjalanan hidupnya sebelumnya memang menyedihkan dan turun dari dunia Dewa mencari kehidupan yang menarik hanya sebagai penjelajah waktu dan cerita, hanya melihat-lihat dari langit keberadaan di atas dunia manusia juga masuk ke mimpi orang-orang, hal ini dapat menghiburnya sedikit meskipun tidak seberapa.


Akira: "Dulu memang benar aku mencari dan berharap bahwa kekasihku di bangkitkan lagi oleh suatu keajaiban. Dan jika itu terwujud aku tidak boleh mengulangi kesalahan lagi."


Akira perlahan turun ke dunia manusia sifatnya mulai menjadi seperti manusia yang rendah hati dan baik hati, semenjak hadirnya Irin dan bertemunya mereka di dunia ini, dia mulai melupakan tujuan lama nya untuk mencari Hisoka Yuna. Sepertinya dia tidak tahu bahwa sebenarnya Yuna sudah lama mati, kemudian rasa marah nya yang tersisa juga semuanya telah di matikan.


Namun Airin benar-benar sama seperti cinta lama nya, hampir tidak ada perbedaan di wajah mereka. Dia juga mengatakan hal-hal seperti ini.


Irin: "Jangan bercanda! Setiap orang di dunia ini memiliki kembaran wajah mereka bahkan itu mungkin akan ada lebih dari ratusan atau ribuan kembaran mereka di dunia ini."


Akira: "Begitukah? Tapi aku mulai merasa nyaman hidup disini, aku mempunyai teman sepertimu dan Cailian, lalu penggemar ku juga cukup banyak sepertinya."


Irin: "Hah? Kamu percaya diri sekali! Bagiku dirimu ini biasa saja, Ucap Irin dengan kedua tangan nya di pinggulnya.


Tetapi itu sebenarnya adalah kata-kata yang berbohong, dia sebelumnya tidak pernah merasa seperti jatuh cinta kepada anak laki-laki lainnya, namun dia memang memiliki ketertarikan sejak awal.


Irin: "Hahhh??"


Akira segera mendekat dengan wajahnya kemudian mulutnya mendekati telinga Irin dan berkata dengan nada mengejek.


"Aku dapat membaca pikiranmu lho~"


Ekspresi Irin berubah memerah dan menjadi sangat malu seperti ingin membuka tanah yang dalam dan mengubur dirinya saja sampai mati karena tenggelam dalam rasa malu. Dia segera berlari pergi ke kelas menyusul Cian, Akira cukup senang karena mengetahui hal itu membuatnya tersenyum lagi.


Kemudian bel masuk berbunyi lagi, ini adalah jam ujian kedua setelah istirahat. Airin membuang mukanya dan agak mulai agak malu menatap Akira. Ujian kelas di mulai lagi,


lembaran satu persatu di bagikan ke setiap murid.

__ADS_1


Akira: "Aku akan menyelesaikan tugas ini lebih dulu! Tcihihihi"


Beberapa jam pun berlalu dan waktu sepulang sekolah, Akira berjalan sendirian itu berniat mencari tempat sepi lagi untuk memindahkan dirinya. Tiba-tiba suatu tangan menariknya, dan dia segera menoleh ke belakang.


Akira: "Irin???" yang kam-"


Irin: "Aku ingin bertamu di rumahmu, bisakah aku melihat keadaannya?"


Akira sedikit agak ragu untuk menunjukan rumahnya, sepertinya terlihat baik-baik saja dari luar tetapi di dalamnya seperti kapal pecah.


Akira: "Ihh, baiklah tapi jangan mengeluh tentang apapun yang ada di sana, okeh?"


Irin: "Humm" mengangguk dengan senang.


Mereka berpindah lagi ke tempat rumah Akira, rumah nya benar-benar berantakan, sulit untuk membayangkan harus merapikan semua ini dan harus di mulai dari mana?


Irin: "Apa-apaan ini?"


Akira: "Oh sebuah kucing yang menggangu terkadang kejar-kejaran bersama tikusnya, aku kesulitan menangkap mereka, hingga semua hal-hal yang mereka lewati merusak perabot-perabot rumahku dan kucing yang entah siapa pemiliknya malah tinggal di sini dan mengasah-asah kukunya di sofa setiap hari."


Sebenarnya itu bukanlah kucing liar yang kotor seperti kucing jalanan, itu hanyalah kucing sejenis Persia milik orang lain. Mungkin majikan lama nya malas memberinya makanan, hingga suatu hari Akira menjadi penghuni baru rumah nomor delapan ini dan memberinya makanan setiap hati, tidak heran dia akan selalu berada disini, Akira ternyata adalah lelaki yang menyayangi hewan.


Irin: "Mungkin aku akan membantumu membersihkan ini semua tapi kali ini tidak boleh ada sihir! Aku ingin kamu membersihkan ini semua dengan hal bisa layaknya manusia normal, dan jadilah manusia normal."


Memang benar, sesekali terasa capek itu akan terasa seperti telah melakukan sesuatu hal yang besar dengan penuh usaha, itu cukup menyenangkan untuk dinikmati sebagai manusia biasa. Terkecuali benda-benda rusak seperti piring yang pecah dan sofa yang robek di perbolehkan menggunakan sihir.


Karena benda ini memang layaknya pepatah nya "Nasi sudah jadi bubur" itu tidak akan bisa di perbaiki lagi, namun sihir dapat melakukan hal-hal seperti itu.


Sambil mengemas barang-barang yang kotor, Irin berjalan-jalan untuk memeriksa mungkinkah ada ruangan yang masih kotor untuk segera di bersihkan? Namun tanpa sengaja ada satu ruangan lagi yang di lihatnya tertutup dengan pintu tanpa ada cahaya dari dalam yang terpantul keluar, dia segera mencari tahu tempat ruangan itu.


Awalnya dia mengira kalau ini adalah gudang yang di gunakan untuk menyimpan barang-barang bekas, namun ketika dia mencoba membuka pintu tersebut, ternyata pintu ini tidak terkunci. Dia segera masuk ke ruangan yang gelap gulita perlahan menciptakan cahaya kecil untuk mencari saklar lampu.

__ADS_1


Ketika saklar lampu di temukan dia segera menyalakannya dan "Pufff" sebuah lampu menyala dengan teratur satu persatu ke setiap arah. Ruangan ini tidak terlalu besar, tapi hawa nya sangat dingin dan lembut.


Airin perlahan berjalan menginjak lantai keramik putih yang benar-benar bersih di bawahnya, lantai ini benar-benar licin. Seperti lantai yang berada di rumahnya yang Setiap hari di sapu dan di pel tanpa membiarkan debu-debu tertinggal.


__ADS_2