Her Private Life

Her Private Life
My drawing assignment


__ADS_3

Airin yang bosan berada di bawah kembali ke kamar nya untuk bersantai.


Sementara yang lainnya tetap berada di bawah.


Namun selain bersantai, yang biasanya dia kerjakan adalah tugas sekolahnya, dia tidak pernah memiliki kesibukan lain, kecuali membaca dan melihat-lihat beranda online.


Sekali membuka beranda online itu bisa membuatmu kecanduan untuk terus melihat hal-hal lain seperti karya-karya orang lain yang menembus beranda mu. Tiktok? Instagram? apalagi selain itu? masih banyak lagi, di setiap tren yang ada akan memenuhi beranda dengan tren yang di gunakan oleh banyak orang, namun cara mereka yang berbeda-beda dalam membuat nya.


Tidak, dia harus mematikan ponselnya, agar tidak menggangunya mengerjakan tugas, lagipula dia sedang memikirkan apa yang sedang di lakukan Akira biasanya.


Lembaran per lembaran di kerjakan, tugas ini seharusnya sangat banyak, namun baginya, memiliki banyak nilai dan paraf dari guru adalah hal yang menyenangkan untuk di koleksi, ini seperti membuatmu menjadi siswa yang rajin.


Entah paraf guru itu bagus atau jelek, itu berharga sebagai nilai dari setiap tugas yang di berikan.


Irin benar-benar gelisah jika nilainya mendapatkan B, B mungkin adalah nilai yang cukup bagus, namun itu masih tetap di bawah nilai delapan puluh lima. Setidaknya dia harus mendapatkan A meskipun hanya A biasa, bukan A plus.


Lalu dengan tugas yang sangat banyak ini, apalagi yang akan kulakukan setelah lulus? melanjutkan kuliah? sepertinya tugas nya lebih banyak daripada ini.


Biasanya orang-orang mengerjakan tugas sambil mengumpulkan mood yang baik, berbeda dengan Irin, dia tidak butuh mood dan niat untuk mengerjakan tugas, dia hanya butuh nilai A itu untuk terpajang di seluruh tabel nilainya.


Irin hanya belajar bersama Cian soal tugas sekolah, meskipun dia lebih berperan dalam mengerjakan tugas, lagipula wanita yang menjadi teman baiknya hanyalah Cian, wanita lain tidak berniat berteman dengannya, lagipula mereka seperti memiliki sirkel pertemanan sendiri-sendiri.


Mereka mengerjakan tugas hanya mereka dengan mereka dan mereka lagi juga hanya mereka yang berada di dalam satu sirkel, bukankah itu tidak menyenangkan? kelas elit memiliki banyak yang seperti itu, lagipula sepertinya mereka selalu berencana menyingkirkan Irin dari posisi peringkat sepuluh besar di kelas.


Sirkel tertentu tidak harus diisi dengan seluruhnya wanita atau seluruhnya lelaki, itu juga bisa bercampur, mereka yang pandai terkadang hanya ingin berteman dengan yang pandai, lagipula soal pekerjaan, mereka tidak suka berbagi hasil pekerjaan mereka kepada teman lain.


Selain kelompok anak si paling pintar, ada juga kelompok yang biasa-biasa saja, tidak bodoh dan tidak pandai, namun berada stabil pada angka rata-rata, mereka tidak terlalu seperti sirkel pertemanan, namun seperti bagian anak-anak yang agak asik dalam bercanda, mereka akan membiarkan siapa saja bisa masuk ke dalam pertemanan mereka, bercanda, berbagi tugas, dan lain-lain.


Sementara Irin dan Cian adalah di posisi netral, hampir sama seperti Akira, dia mau berteman dengan siapa saja, bahkan lelaki yang lain di kelas mulai menyukai Akira, mereka pikir Akira adalah anak sok tampan yang terkenal dan tidak mau berteman, namun Akira adalah anak yang baik, tidak juga pendiam, terkadang jahil terhadap Irin atau Cian, itulah kesenangan nya.


Halaman satu...sudah!


Halaman dua...sudah!


Halaman tiga...sudah!


Sambil merapikan beberapa tugas yang sudah di kerjakan dan di tumpuk dengan rapi.


Beberapa tugas yang cukup merepotkan, semua ini adalah tugas dari guru yang berbeda-beda dengan satu lembar saja sudah harus menuliskan jawaban yang cukup panjang.


"Apa selanjutnya? halaman keempat yah~"


Lembaran tugas keempat di buka, hingga membuatnya sedikit binggung, entah kenapa harus ada tugas seperti itu lagi, ini tugas menggambar, tugas menggambar kelas ini tidaklah tugas menggambar yang setingkat seperti sekolah kanak-kanak, ini adalah tugas menggambar yang membutuhkan gambar indah untuk membuat nilai terbaik.


"Tugas menggambar lagi, tugas menggambar lagi, sepertinya aku hampir kalah soal bagian yang ini, aku tidak memiliki bakat menggambar, Huffht!!"


Sambil membuang nafas dengan sedikit kesal, beberapa menit kemudian terlintas di benaknya untuk membuat tugas ini.


"Tunggu dulu...Akira! aku tau! Akira bisa menggambar, aku harus memintanya malam ini untuk menggambarkan ku"


Irin segera keluar dari rumahnya malam ini dan mengunjungi Akira untuk meminta menbuat tugasnya, harusnya mereka semua memiliki tugas yang sama.


Dia membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Akira untuk bertanya apakah dia ada di rumah.


Menunggu beberapa saat, namun tidak ada balasan, apakah yang terjadi? dia bahkan tidak aktif, Irin segera mengunjungi nya dalam beberapa menit.


...TOK...TOK...TOK......


Sambil mengetuk pintu, namun tidak ada yang membalas, Isami pasti masih berada di restoran tempatnya bekerja sehingga tidak bisa membukakan pintu.


Enam kali ketukan lebih, dan tidak ada respon sama sekali, jadi dia segera membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Dia segera berkeliling mencari Akira, hingga pada akhirnya ada satu ruangan di lantai atas yang menurut dugaannya Akira berada disana.


Rumah ini benar-benar sepi, seperti tidak ada penghuninya, sama seperti hati Isami, benar-benar hampa.


Akira sedang berada di ruangan ini, ruangan yang sebelumnya adalah ruangan pribadi dimana di sana ada tiga lukisan Yuna, kali ini dia sedang melukis sesuatu, itu tentu saja adalah tugas menggambar, daripada membaca dan membalas pesan-pesan dari para gadis-gadis grup itu, lebih baik dia mengerjakan tugas meskipun dia jarang mengerjakan tugas.


"Sial! lukisanku!! sangat bagus, Ah!"


Sambil menyentuh kertas nya di papan besar dan mengelus-elus lukisannya, dia benar-benar senang melihat gambarnya padahal itu baru saja jadi seperempat.


"Humphhssss...."


"Apa yang kamu lakukan?"


Tiba-tiba perasaannya langsung berubah seperti api yang padam dalam sekejap, sejak kapan ada orang selain dirinya disini, siapakah itu, namun dia segera berbalik karena tau itu adalah suara Irin. Itu pasti agak memalukan.


"Heh?"

__ADS_1


Sambil berbalik pada Irin dengan wajah binggung dan sedikit tidak bisa di mengerti.


"Hah, Heh, Hah, Heh?? apa yang kamu lakukan tadi??"


"*-*-*-Tid-tidak ada apa-apa aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya melukis untuk tugas ku, apa yang kamu lakukan disini?"


Sambil berbicara dengan gugup.


"Tidak melakukan apa-apa yah?"


Dia mulai gugup, berharap Irin tidak melihat hal yang barusan di lakukannya dan lukisan yang di gambarnya.


"Hmmm, kurasa kamu memang hanya sekedar menggambar"


Akira langsung tenang karena mengira Irin tidak tahu apa-apa dan tidak melihatnya tadi, kelakuan konyolnya.


"Memang aku hanya menggambar!!"


Tapi Irin bergerak ke arah papan lukis yang seperti tripod itu, melihat gambar apa yang di buat oleh Akira.


"Tidak! tidak! jangan berjalan kesana!!"


Kata nya dalam hati, Akira mulai panik dan mencari topik.


"Ehh...Um...Irin! tunggu sebentar!"


Sambil memegang tangan Irin dan menahannya untuk tidak kesana.


"Hah? apa?"


Akira tidak tahu harus berbicara apa, namun sepertinya dia kehabisan topik atau kata-kata untuk mengulur waktu.


Irin melanjutkan kembali untuk tetap berjalan ke arah papan, dan segera dia melihat dirinya yang di lukis Akira, namun baru jadi setengah dan belum sepenuhnya, membuatnya terkejut, tatapan kesal segera mengarah pada Akira.


"Akira, apa ini?"


"Ehh, Ahh, Wajahmu! aku melukis nya untuk tugasku, apakah itu salah??"


"Tidak, tidak ada yang salah kok"


Berjalan menuju Akira lagi, sambil tersenyum.


"Akira~ gambaran itu bagus"


"Hah? benarkah??" hatinya mulai tenang.


"Tapi..."


Irin melanjutkan kata-katanya yang bahkan Akira tidak akan menyangka hal itu.


"Apa-apaan dengan mengendus dan mencium gambar itu? atau menjilati lukisan itu tadi??"


Api yang kembali menyala berkobar seperti padam kembali lagi dalam sekejap.


"Hah? mengendus? mencium? menjilati? apa maksudmu? aku tidak melakukan apa-apa"


Kemudian Irin segara menarik rambutnya dengan kuat.


"Ahh, Ahh, sakit, tolong!"


"Katakan sejujurnya! aku melihat kamu melakukan itu tadi pada lukisan itu, lalu...itu adalah wajahku!!"


"Tidak! ampun! aku mengaku! aku melakukannya!!"


Sambil menjerit kesakitan karena Irin menarik rambutnya.


"Baiklah! aku ingin menggambar wajah pacarku sebagai tugas sekolahku, kemudian hal tak terduga terlintas di pikiranku, mungkin iblis menghasut ku untuk melakukannya"


"Dasar mesum!!! Hmphhh..."


"Ah, aku melakukan hal yang memalukan"


"Memalukan? memang memalukan, tapi memangnya gambaran itu memiliki bau yang harum? setauku kertas itu selalu berbau kertas tanpa menyentuh apapun, seperti kertas dari pabrik, atau kanvas dari kemasannya juga"


"Ahh, aku hanya menghayal apakah dirimu itu harum seperti sebelumnya ketika aku di suruh sujud?"


"Huh? harum? tentu saja ak-aku harum!!"


"Benarkah??"

__ADS_1


Kemudian Akira segera mendekati nya dengan sangat cepat, dan menyentuh beberapa bagian rambutnya lalu mencium baunya, membuat Irin tidak menduga hal ini.


"Kamu? apa yang???"


"Tidak!! ini harum sekali! Irin biarkan aku mencium aroma rambutmu ini selama satu menit saja!"


"Tidak!! aku tidak mau! ada satu syaratnya!!"


"Syarat?"


"Benar! syarat! syaratnya adalah harus mengerjakan tugasku dulu untuk bisa mendapatkan nya!"


Irin memanfaatkan hal ini untuk membuat Akira harus memenuhi syarat menggambarkan tugas nya juga.


"Hoh? begitu? itu mudah saja, aku akan melakukan apa saja yang kamu berikan, apapun itu! ayo...tugas apakah itu?"


"Menggambar juga!!!"


"Hwuh, begitu yah, baiklah aku akan menghentikan gambaran ku dan akan membuatkan punyamu lebih dulu"


"Tidak bercanda? serius? langsung menghentikan punyamu?"


"Bukan serius! duarius!! untuk Irin tersayang!"


Wajah Irin memerah lagi dan malu dengan perkataan Akira. Kemudian Akira bertanya lagi...


"Lalu...gambar apakah yang kamu minta??"


"Emm...itu...ehh..."


Irin mulai menjawab dengan sedikit.gugup"


Akira: "Hmmm??"


"Wajahmu! sekarang gambar wajahmu sendiri untukku!"


"Wajahku? bagaimana aku bisa menggambarkan wajahku sendiri jika aku tidak bisa melihat diriku sebagai contohnya??"


CEKREK! CEKREK!


Irin menyalakan ponselnya dan segera memotret Akira yang tidak sedang bergaya, namun tetap tampan untuk dilihatnya.


"Ini! tidak ada lagi alasan, segera gambar wajahmu, ikuti foto ini"


"Hufhht"


"Tidak boleh menghela nafas! jika menghela nafas lagi, aku akan membatalkan perjanjiannya"


Irin tidak mau Akira membuang nafas untuknya,


Jika Akira membuang nafas lagi, hadiahnya akan di batalkan, namun tugas nya menggambar harus tetap di lanjutkan, membuat Akira menahan diri untuk tidak boleh membuang nafas lagi.


Semua demi menyeimbangi kekurangannya dari anak-anak lain di kelas dalam menggambar, dia tidak boleh kalah lagi dalam nilai menggambar, Akira ada sekarang, bahkan sebagai pacarnya yang mau melakukan apapun.


Karena Akira terlalu lama, Irin tertidur di kursi dan benar-benar tertidur, Akira harus menggendongnya ke kamarnya untuk membuatnya tidur disana, dan dia melanjutkan kembali gambaran yang di suruh Irin.


Sambil mengangkat Irin, Irin sedikit tersadar dan ini pertama kalinya Akira menggendong nya, dia mungkin berharap Akira melakukan ini padanya, namun dia tidak sangka dia akan tertidur dan di gendong Akira ke kamarnya.


Setelah Akira meletakkan Irin di tempat tidurnya, dia kembali ke ruangan tadi untuk melanjutkan gambar, satu gambar saja mungkin sudah membutuhkan enam jam lebih, mungkin bisa satu atau dua hari untuk hasil yang bagus, namun jika itu demi Irin, dia harus mengusahakan tugasnya selesai dalam satu malam termasuk tugas nya sendiri.


Jika Isami sudah pulang, mungkin dia tidak mencari Akira lagi, tapi langsung pergi tidur.


Jam satu malam, lukisan sudah bisa di diselesaikannya, menggambar wajahnya sendiri, dia tidak menggambar dirinya sendiri, ini adalah permintaan dari Irin. Daripada permintaan seperti nya lebih mirip dengan perintah, tapi dia tidak bisa mengeluh untuk melakukan ini.


Hingga tibalah pagi dan dia belum tidur, matahari belum terbit, ini adalah jam lima pagi, sambil menahan kantuk nya, dia segera membilas lagi wajahnya dengan air, tapi syukurnya gambar itu, tugas irin dan tugasnya, keduanya terselesaikan dalam semalam.


Karena mengantuk, dia harus tidur saja untuk beberapa saat di ruangan itu, hingga Irin bangun dan membangunkannya juga, waktu seperti ini Irin sudah bangun seperti biasa nya.


"Huh? aku...dimana?"


Sambil melihat kamar yang tidak di kenalnya, menengok ke kanan kiri, atas bawah, dan lain-lain, hingga dia harus berdiri dan mencoba keluar kamar untuk melihat keberadaannya, namun disitu ada pakaian sekolah yang sama dengan miliknya.


"Tunggu, ini baju sekolah, baju Akira? tunggu! ini kamar Akira? apa yang kulakukan disini?"


Perlahan dia mulai mengingat apa yang terjadi semalam, dia tertidur di kursi dan di gendong Akira untuk tidur disini, jadi Akira tidak bisa tidur di kamarnya, karena harus menyelesaikan semua nya dan tertidur di kursi panjang di ruangannya.


"Aku...Akira...menggendongku? aku mengingatnya!"


Dia bahagia Akira memperlakukan seperti itu padanya. Sebagai pacarnya yang peduli, Akira memang melakukan hal yang benar dan baik, dia peduli soal irin yang tertidur di kursi sambil bersandar, itu bukanlah cara tidur yang bagus, hingga dia memindahkan Irin ke kasurnya yang lumayan nyaman dan empuk, dia peduli, meskipun terkadang terlihat tidak peduli, berengsek dan jahil.

__ADS_1


Kemudian dia mulai melihat ke cermin dirinya yang berhamburan ketika bangun tidur, lalu membuka pintu keluar dari kamar menuju ruangan Akira, pasti Akira berada disana.


__ADS_2