Her Private Life

Her Private Life
Just buy a knife?


__ADS_3

Akira dan Isami masih tetap bersama, mencari beberapa ranting kayu untuk di bakat dan menerangi sekitar.


Tidak ada yang mau berpisah, demi keselamatan, mereka harus terus berwaspada dan tetap saling menjaga, Akira ingat tidak satupun sihir yang bisa di pakai.


Hingga malam sekitar jam sebelas bahkan tidak ada suara siapapun yang terdengar selain suara pepohonan yang saling tertiup angin dan suara hewan-hewan hutan.


Bahkan tidak ada satupun pesan atau cara bermain yang di berikan dari Airin pada mereka.


Yang bisa di lakukan hanyalah menunggu di luasnya hutan ini sambil duduk di depan api unggun yang menyala.


Berbeda dengan Cian dan Sora disana, di tempat lain mereka yang sedang berada di kota adalah suasana kota yang konflik dengan adanya wabah penyakit yang menular, warga-warga disana harus kesakitan parah bahkan memiliki gejala kematian yang lebih besar, semua air bersih tercemar, makanan yang ada benar-benar tidak layak di konsumsi.


Keduanya perlahan meninggalkan kota, mungkin mencari tempat lain untuk lebih memperdulikan soal status mereka.


Di antara semua manusia yang hidup, atau apapun itu, hanya mereka berempat yang memiliki status tersendiri seperti profil karakter game, bedanya mereka melihat status dan statistik mereka dari ponsel mereka masing-masing.


Cian juga sedikit memikirkan dimana kedua lawannya itu mendarat.


Kedua belah pihak bahkan belum mendapatkan makanan apapun sejak mereka turun, mereka disini tidak bisa menciptakan makanan dengan sihir, benar-benar harus bertahan hidup.


Hari yang semakin tengah malam dan sepi, lebih menakutkan berada di hutan bersama Isami dan Akira.


Berdiam diri, duduk, dan merasakan hembusan angin secara perlahan.


Namun, suasana agak berubah.


"Isami, bukankah tadi anginnya sangat sejuk?"


"Kurasa begitu, suasana mulai aneh, anginnya yang berubah, atau perasaanku yang terasa tidak enak, tapi perasaan ini aneh, apakah kamu begitu juga??"


"Sepertinya...tapi kita masing-masing punya lima belas ribu poin bukan? aku akan mencoba membeli salah satu senjata yang ada juga"


...Klik!...


Sambil melihat-lihat dan menarik ulur ke bawah melihat benda-benda yang ada.


"Senjata ini! semuanya mahal-mahal!! apa yang bisa kubeli disini? semuanya berharga di atas lima belas ribu!"


Isami sambil mengeluh.


"Kurasa kita hanya bisa membeli pisau ini? apalagi selain pisau?"


"Kurasa hanya pisau ini yang harganya paling murah"


"Bagaimana jika salah satu dari kita membeli satu senjata saja? kamu atau aku bisa memilih siapa yang akan membeli dan siapa yang tetap menyimpan poin"


"Ide yang lumayan, jadi? apakah kamu akan tetap menyimpan poin?"


"Baiklah, aku menyimpan poin, kamu beli senjatanya"


Sambil mereka berbincang seperti itu, suara semak dari kejauhan terdengar agak aneh.


"Isami!!"


"Apa?"


"Kamu? apakah itu langkah kakimu? langkah kaki siapa itu?"


"Langkah kaki? aku tidak mendengar apa-apa"


"Tunggu, kemudian dengarkan!"


Isami diam beberapa saat sambil mencoba mendengarkan suara yang di suruh Akira dengarkan.


CRESS...CRESS...


Suara rumput memang terdengar, lebih mirip dengar suara langkah, tapi bukan langkah kaki orang.


"Akira! aku mendengar nya!"


"Waspada!"


"Suara langkah kaki?"


"Tidak! sepertinya bukan"


Akira dan Isami saling membelakangi untuk menjaga sisi yang berbeda.


Tiba-tiba dengan cepat sesuatu menyerang mereka.


"Hah?"


Isami segera berespon dengan cepat dan sempat mengklik tombol beli di ponselnya, hingga mengeluarkan item pisau yang di beli nya dalam sekejap mata.


Tidak, tidak ada waktu untuk menangkis serangan ini, sekalipun dia membeli pisau itu, namun serangan ini sepertinya tidak sempat lagi di tangkis, dia harus menghindar.


"Isami! menghindar!"


Teriakan Akira di respon Isami dengan cepat untuk menghindari serangan tiba-tiba itu.


"Apa itu?? beruang?"


BUK!!


Dengan cepat Akira melayangkan pukulannya pada beruang itu, sekalipun beruang itu sangat besar seperti dua atau tiga kali lipat ukuran mereka. membuat beruang itu sedikit tergeser.


Isami tidak hanya diam saja, batu seukuran telapak tangannya di lempar dengan keras ke arah kepala beruang, hingga beruang itu kembali membalikkan pandangannya pada Isami.


BRAKK!!!


"Akira? kenapa kamu menendang ku??"


Akira menendang Isami sampai terlempar jauh dari posisi beruang itu.


"Kamu makin membuat beruang nya marah!! aku akan mengalihkan perhatian!"


Akira mulai mencoba menghindari serangan cakaran beruang itu, sangat bahaya jika terkena serangannya, bisa membuat seluruh kulitmu robek.

__ADS_1


Dengan gerakan Akira yang agak cepat, mampu bergerak lebih cepat dari serangan beruang sebelum mengenainya, hingga pukulan nya harus melayang sekali lagi untuk mengenai beruang tersebut dengan sekuat tenaga.


BRUAKK!!!


Pukulan kuatnya mengenai beruang itu hingga terlempar ke arah pepohonan dan mengakibatkan pohon itu hampir hancur.


"Isami! sekarang!!!"


Isami segera berlari menuju beruang yang baru saja akan bangkit, dan menikamnya di belakang dengan pisau nya.


CUKH! CUKH!! CUKH...


Tiga tusukan pisau di berikan kepada beruang tersebut hingga merobek kulitnya cukup dalam.


"Kupikir pisau ini tidak begitu tajam karena begitu murah dan terlihat kecil"


"Tunggu! Isami menyingkir dari sana!"


Akira segera berlari menuju beruang yang bangkit lagi dan memukulnya sekali lagi...


BRAKK!!


Pukulan nya benar-benar mengenai wajah beruang itu hingga terjatuh sekali lagi. Tidak hanya itu...Akira terus memukul berulangkali sampai benar-benar beruang itu harus mati.


BRAKK!! BRAKK! BRAKK!!!


"Apakah sudah mati??"


ROOOAARRRR!!!!


"Tidak! masih belum!"


Isami segera mendekati beruang itu dari belakang dan menusuk kepala nya dengan pisau sampai benar-benar tertusuk sangat dalam.


CHUKHH!!


"Sepertinya sudah mati"


"Sial! ada hewan buas disini! ambil pisau mu, kita harus pindah dari tempat ini"


Sebelum mereka pergi, mereka memadamkan api nya terlebih dahulu, kemudian pergi dari sana meninggalkan mayat beruang tersebut. Mencari tempat lain untuk menunggu hingga pagi.


KLING!


"Hah?"


Akira sambil mengambil ponsel nya.


[Status]


Level Up 0 --> 1


Nama: Akira Ryuzaki


Umur: 18 tahun


Tinggi: 176cm


Terbunuh: 1


"Wow! jadi levelku sudah naik sekarang? bahkan dengan mengalahkan yang tadi membuat poinku di tambah sepuluh ribu, menarik!"


KLING!


Bunyi yang sama juga berbunyi di ponsel Isami dan segera melihat pemberitahuan nya...


[Status]


Level Up 0 --> 1


Nama: Isami Kenji


Umur: 18 tahun


Tinggi: 177cm


Point: 17.000


Terbunuh: 1


"Hmm? poinku yang tersisa tujuh ribu pun menambah sepuluh ribu, apakah ini karena naik level? atau karena kita membunuh beruang buas itu?"


"Entahlah, tapi aku makin senang!"


KLING!


[Pemberitahuan Misi]


Untuk semua pemain yang ada...


tetaplah bertahan hidup dan capailah level setinggi mungkin hingga kalian mampu menemukan pintu keluarnya.


"Pintu yah? sepertinya memang pintu kembali ke dunia awal! ayo Isami kita harus terus menaikkan level!"


Isami juga ikut berjalan di belakang Akira sambil membersihkan pisau yang tadinya berlumuran darah beruang.


Disisi lain...


"Tunggu, bukankah tempat ini agak sepi?"


Kata Cian.


"Iya, aku sedikit merasa aneh"


Sambil membuka ponselnya dan melihat senjata yang bisa mereka beli, namun hanya ada lima belas ribu poin yang mereka miliki, sama seperti Akira dan Isami di awal, mereka hanya bisa membeli pisau di bawah lima belas ribu poin, sedangkan senjata lain di mulai dari enam belas dan tuju belas ribu.


"Hah? poin kita hanya cukup untuk membeli pisau ini!! apakah kita beli saja??"

__ADS_1


"Sebaiknya kita beli saja, untuk berjaga-jaga"


Keduanya membeli senjata yang sama dengan Isami, sebuah pisau yang agak mirip dengan pisau dapur, namun lebih tajam dari pisau dapur.


"Senjata ini sangat kecil! aku tidak terbiasa dengan senjata yang terlalu dekat"


Kata Cian.


Kemudian dia memilih ranting kayu yang berhamburan di tanah, sepertinya mereka sudah memasuki kawasan hutan juga.


"Ahh! tidak ada tali untuk mengikatnya!!"


"Kenapa tidak gunakan saja pengikat dari rambutmu itu??"


"Hah? aku tidak mau!"


Dia terus mencari-cari dan tidak menemukan sesuatu untuk mengikatkan pisau di ujung ranting sebagai tombak.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?"


"Membuat tombak"


"Tombak? bukankah kamu memiliki pisau?"


"Iya, aku punya"


"Kenapa kamu tidak menggunakan pisau itu saja untuk membuat kayunya menjadi runcing? bukankah itu sudah bisa di sebut tombak?"


"Hah? benar!! tidak terlintas di pikiranku! bagus sekali Sora!"


"Hmm...hmm...hmm...tentu saja"


"Pisau itu memang cukup meragukan, apakah dia tajam atau tidak, tapi setidaknya kita harus mencoba"


Dalam sekitar satu menit meruncingkan ujung ranting besar, hingga terbentuk seperti sebuah tombak. Kini Cian memegang tombak tajam sekarang.


"Sora, bagaimana dengan pisau ku?


"Pisau mu?"


"Benar! kamu pakailah keduanya! aku memakai tombak ini"


"Baiklah"


Cian sambil memberikan pisau itu pada Sora...


"Ngomong-ngomong disini sangat dingin sekali, apakah baju kita memang seperti ini?"


"Sepertinya begitu"


CRESS... CRESSS...CRESS!!


"Siapa itu!!"


Kedua nya segera waspada dengan suara tersembunyi di balik pepohonan dan semak.


Namun ketika suara itu berbunyi lagi, Sora tidak ingin diam saja dan berwaspada, dia segera bertindak.


SING!!


Dia melempar pisau nya dengan cepat ke arah bunyi tersebut, dan tiba-tiba seperti mengenai sesuatu, namun ternyata itu adalah sebuah ular besar di balik semak...


"Ular ini?? tidak mendesis?? besar sekali!!"


"Benar! aku tidak mendesis! aku lapar!!!!"


"Eh? dia bisa bicara??"


"Kemari kalian!!!"


Ular besar itu segera menyerang mereka dengan cepat, pisau tadi memang mengenai bagian tubuhnya dan tertancap ditubuhnya, namun mereka belum menemukan dimana pisaunya, ketika seluruh tubuh ular besar itu bergerak keluar dari semak, ternyata ular ini sangat besar dan panjang, sekitar sebelas meter, pisau nya seperti hanya tertancap begitu saja.


Cian mengalihkan perhatian, sambil Sora bergerak di belakang ular itu mengambil pisau nya yang tadi?


Ketika pisau yang di tancapkan di ambil kembali, ular itu merasa kesakitan lagi, pisau ini sebenarnya sangat tajam, hingga membuat ular ini marah, dan segera berbalik dengan cepat melempar sesuatu dari mulutnya ke arah Sora.


"Sora!! minggir!!!"


SRAKKK!!!


Sebuah cairan dari mulut ular itu yang dengan cepat di hindari, hampir saja mengenainya...


Dengan cepat cairan itu seperti menghancurkan dedaunan, ranting, atau tanah yang di tempati nya, hingga tanah yang terkena cairan ular ini sampai kering dan retak ke bawah.


"Apa itu?? racun? bisa?"


"Tidak perlu kalian tahu!! sekarang aku harus memakan kalian berdua! aku sangat lapar"


Cian segera mengarahkan tombak nya pada ular itu, hingga menusuk lagi bagian tengah badannya.


Ular benar-benar marah hingga kecepatan nya semakin cepat, sulit di mengerti...


Mereka harus cepat merespon serangan ular tersebut, dia tidak menyerang secara langsung, namun, melemparkan seperti bisa atau mungkin cairan berbahaya seperti itu.


Sora tidak terlalu memandang Cian lagi sekarang, dia harus fokus bagaimana cara menghindari ular besar ini, sangat berbahaya jika terkena cairan yang di lemparnya, mungkin bisa membuat kulit terbakar hingga daging dan tersisa tulang saja. Ini adalah semacam cairan yang menimbulkan korosi yang cukup serius, bahkan batu yang terkena cairannya akan segera hancur sampai menembus tanah dan tanah yang di kenainya, akan kering dan hancur ke bawah.


"Serang terus!"


Mereka menyerang dan terus menghindar dari ular itu, jangan sampai terkena cairan nya. Bahkan tidak perlu di dekati saja cairan itu rasanya sudah seperti sangat panas hingga mampu memberi korosi yang begitu cepat untuk menghancurkan benda yang di kenainya.


Keduanya menyerang dari dua sisi yang berbeda, untuk membingungkan ular tersebut, menyerang secara bergantian atau bersamaan.


Apapun itu asalkan ular itu terluka, bagaimana pun caranya, mereka harus membunuh ular ini.


Tidak ada yang mau kalah dalam keadaan level nol, mereka bahkan sangat mengecewakan jika sudah kalah dalam tahap pertama dan belum mendapatkan status apa-apa selain level nol.


Hingga akhirnya serangan Sora yang di tancapkan kemudian di seret ke bagian lain tubuh ular sampai merobek tubuh ular tersebut.

__ADS_1


"Arkhhhh!!! manusia kurang ajar!!!"


Dia menyerang lagi dengan melemparkan cairannya, namun terus meleset, karena mereka terus menghindar dengan cepat.


__ADS_2