
Beberapa saat setelah membilas wajah mereka, mereka pun membasahi semua rambut mereka bagaikan orang yang habis mandi, namun melepaskan seragam sekolah mereka yang tadi.
Irin mengubah baju mereka menjadi baju khusus. Secara otomatis semua seragam yang mereka kenakan akan terpindah keluar dan mereka yang berada di kamar mandi akan terganti dengan sebuah baju khusus.
Namun, semua adalah hal yang sedikit bertabrakan, Akira yang dari pusat perbelanjaan datang ke apartemen Irin secara langsung tanpa mengetuk. Melanggar aturan Irin.
Kemudian tiga langkah dari ruang tamu, dia melihat di ruang tamu tempat mereka berkumpul biasanya.
"Hah? seragam sekolah? kenapa ada dua? ini punya Irin?"
dia segera mengambil kedua seragam yang terletak berantakan di lantai, ada di atas sofa, ada di lantai, dan di meja. Benar-benar terletak secara acak. Kemudian dia tidak berani menyentuh kedua seragam itu, namun benar-benar sangat harum. Mencoba menahan dirinya untuk tidak mengambil rok dan baju yang ada disana untuk di cium.
"benar-benar sangat harum"
Namun, dia takut dan kembali meletakan semua seragam sesuai tempat yang terhambur di awal.
Kemudian pintu kamar mandi terbuka, Irin dan Cian keluar darisana seperti orang yang habis bermain dari wahana dan bersenang-senang.
Keluar bersamaan menuju ruang tamu dan mereka tanpa sadar melewati Akira yang tepat berada di samping dan mereka lewati.
Akira terdiam beku tanpa kata-kata.
Saat mereka berdua memunggut semua baju mereka yang acak-acakan di ruang tamu, Cian sedikit merasa aneh.
"Tunggu sebentar, aku seperti melewati sesuatu"
"Ah apa itu?"
Cian berbalik menuju ke arah perasaan yang membuatnya tidak enak, diikuti dengan Irin yang mengikuti ke arah pandangannya juga.
Itu adalah titik tempat dimana Akira berdiri terdiam seperti patung melihat mereka memakai baju mandi dan handuk di kepala.
Akira: "Ehehe maaf aku masuk kedua kali tanpa mengetuk lagi, silahkan lanjutkan, aku akan kedapur memeriksa makanan yang mungkin kalian beli"
Akira segera pergi berjalan ke dapur dan membuka kulkas, kalau tidak ada makanan, maka dia akan menggunakan saja bahan-bahan yang ada sisanya di ciptakan sendiri untuk memenuhi semuanya.
Cian: "..."
Irin: "..."
"Cian!! apa ini benar-benar sangat memalukan"
"Huh? dia masuk tanpa izin, terlebih lagi kita keluar dengan berdua seperti ini... bagaimana dengan semua pakaian berantakan ini? kenapa bisa pindah kesini?"
"Ahh ini sangat memalukan, benar-benar sebuah kesalahpahaman! mungkin dia akan mengira kita adalah pasangan lesbian! memalukan!"
Irin merasa sangat malu, seperti ingin menggali kuburan dan masuk ke dalam mengubur dirinya bersama rasa malu ini.
Keduanya segera mengganti pakaian menjadi pakaian rumah, pakaian rumah Irin sangat banyak terkadang Cian memakai nya saat berada disini.
Setelah berganti pakaian dari kamar, Akira kembali karena tidak menemukan makanan lagi.
"Ahhh, kalian sudah selesai? aku sedang mencari makanan dan tidak menemukannya lagi"
__ADS_1
Akira segera berjalan ke ruang tamu, dan mulai duduk di kursi yang sangat nyaman, menggangkat kakinya dan mulai menyalakan TV. Tapi dia tidak menonton TV nya, ini benar-benar bodoh.
Dia malah sibuk dengan paperbagnya, tas kertas berisi kotak ponsel yang dia beli tadi.
"Cian...Irin... Lihatlah aku membeli sebuah ponsel barusan tadi, bahkan aku sudah menyimpan nomor kalian disini"
Segera bantal kursi dengan kecepatan tinggi malayang lagi, setelah barang di kamar mandi beberapa hari yang lalu, sekarang ada bantal kursi berbentuk emoji dengan cepat melayang ke wajahnya dan mengenainya.
"Ahhh? apa-apaan ini? aku tidak bersalah lagi"
"hah? tidak bersalah? kamu bahkan sudah dua kali masuk tanpa mengetuk dulu" kata Cian yang marah.
Irin hanya diam menyilangkan kedua tangannya dengan wajah memerah antara malu dan kesal.
"Ahh begitu yahh? aku minta maaf lagi"
"Hah? hanya meminta maaf? kali ini kamu harus bersujud dan mencium kaki ku dan Irin!!"
"Hahh?? tapi...."
"Tidak ada tapi dan pengecualian! lakukan sekarang!"
Akira sedang berakting sekarang, berpura-pura menolak perintah, namun sebenarnya sangat menerima untuk mencium kaki mereka
Pertama dia bersujud mencium kaki Cian.
"Ahhh...Sial benar-benar sangat wangi berbeda dengan baju yang tadi, ini sedikit lebih harum"
Senangnya dalam hati.
"Arghhh, ini lebih harum lagi kaki mereka sangat halus dan tubuh mereka sepertinya sepenuhnya seharum ini"
"Akira....Akira??" tanya Irin dengan heran.
"Akira! apa kau tidak mendengarkan kami? ini sudah terlalu lama hampir satu menit" kata Cian.
Segera Cian memukulnya lagi dengan bantal kursi dan akhirnya dia tersadar dari alam surga.
PLAKK...PLUK...PLAKKK!!
"Aduh, apalagi? aku sudah bersujud dan mencium kaki kalian! tidakkah hukuman nya sudah cukup?"
"benar, itu memang sudah selesai, tapi kamu mencium kaki terlalu lama sudah hampir satu menit...apakah kamu tertidur? tidak masuk akal jika tertidur secepat itu" kata Cian dengan sangat cerewet.
"Maafkan aku ibu, kaki kalian terlalu harum!"
"Sial memanggilku dengan kata ibu! ah"
Cian segera menamparnya lagi dengan bantal.
"Ahh, aku tersiksa, hukuman selanjutnya jika ada...hukuman apakah itu?"
Irin: "Hukuman? sepertinya akan lebih berat dari ini"
__ADS_1
"Benarkah? mungkinkah hukuman selanjutnya nanti kalian akan menyuruhku sujud dan mencium seluruh tubuh kalian dari ujung kepala hingga kaki? Ah menarik"
Cian kemudian menampar nya lagi dan mencubit nya.
"Benar-benar lelaki mesum! tidak ada hukuman seperti itu, itu kelewatan. Hummm!"
"Lalu kupikir kamu sudah memiliki ponsel sebelumnya, yang ini untuk apa?
"Ini? tentu saja ini adalah punyaku satu-satunya, yang kemarin hanyalah ponsel pinjaman dari orang yang tidak ku kenal, aku meminjam nya tanpa sepengetahuannya"
"Itu sama saja kamu mencuri!"
Cian memukulnya lagi setelah banyak kali, hari ini dia melakukan cukup banyak kesalahan dan mendapatkan tamparan ekstra.
"Irin, kenapa tidak ada makanan? apakah kalian berdua selalu pergi makan di luar tanpaku? ahh sangat tidak adil"
"Makanan? kamu bisa beli saja sendiri! lagipula aku belum sempat mengisi semua isi kulkas dengan makanan kesukaanku"
Isi kulkas dan lemari dapurnya benar-benar kosong, tidak ada satupun makanan yang ada seperti lemari furniture baru yang belum terisi apapun.
"Kalau begitu lain kali aku akan membawa banyak bahan makanan kemari, sisanya Irin bisa memasak lhoo"
"Darimana kamu tahu?"
"Tentu saja aku pernah melihat sebuah makanan yang enak di mejamu disaat kamu mandi, aku mencicipi sedikit rasanya dan benar-benar enak"
"Ah, kukira makananku hanya enak bagiku, jika kamu berpikir seperti itu, mungkin aku akan mencoba membuat sesuatu lainkali"
"Nahh, bagus kalau begitu sepulang sekolah besok kita akan pergi ke tempat belanjaan dapur"
"Benar juga, aku kadang harus mengisi semua dapur ini dengan pisau-pisau"
Meskipun Irin bisa menciptakan semuanya tanpa harus keluar rumah, itu sangat membosankan, mereka perlu jalan-jalan lagi.
"Tapi malam ini aku menginap lagi disini"
"Ehh? menginap lagi?"
"Iyap, mungkin kita bisa membeli nya sekarang, dan membuatnya untuk makan malam"
"Hmm, ide yang bagus"
"Kalian berdua mau pergi lagi? meninggalkanku? Ah lalu siapa yang akan menemani ku disini?"
"Ummm, Akira...sepertinya kamu menunggu saja disini dan ingat jangan menyentuh buku-bukuku!"
"Iya, nyonya, perintah di terima"
"Dan ibu, jangan lupa belikan makanan siap saji untuk ku, aku kelaparan"
"Menyebalkan, jangan gunakan nama itu!!"
"Ahhh? ayolah~ itu nama yang bagus, kamu benar-benar cocok menjadi ibuku, benar-benar suka mengatur orang!"
__ADS_1
Keduanya pun pergi lagi sore ini untuk mengunjungi semua tempat yang akan mereka tuju.