
Hari-hari biasa berlanjut selama dua minggu lebih. Irin tidak pergi ke supermarket terdekat untuk mencari bahan makanan yang mungkin bagus untuk dia coba.
Terkadang dia melihat makanan-makanan enak yang ada di internet sehingga membuatnya tidak tahan untuk berdiam diri saja dan akan segera mencoba menciptakan nya juga.
Kali ini dia membeli bahan-bahan yang di perlukan, hanya membeli bahan dan segera pulang. Terlalu berlama-lama itu membuang waktu.
Bahan-bahan yang di bawanya pulang, di letakkan sendiri olehnya di dapur dan dia menciptakan yang dia inginkan dengan sendiri tanpa bantuan yang lain.
Entah apa yang di lakukan tiga gadis lainnya itu, Airin sekarang hanya perlu menciptakan suatu makanan baru yang enak, dia juga berniat memberi ini pada Akira.
Tidak butuh waktu lama, hanya dengan jari-jari nya makanan yang dia inginkan tercipta hanya dalam lima detik.
"Nah! sudah selesai, apakah dia akan suka?"
Dengan cepat dia berpindah ke rumah Akira dan mengetuk pintu, ketukan ketiga kali pintu terbuka.
Dia tidak melihat Akira atau Isami yang membuka kan pintu, karena pintu itu terbuka sendiri jadi dia segera masuk sambil melihat ke sekeliling karena tidak ada satu pun orang di rumah.
Dalam sekejap seseorang menyentuhnya hingga membuatnya terkaget dan reflek menampar nya.
PLAKK!
Akira menjahili nya lagi, namun itulah yang dia dapatkan sebuah bekas telapak tangan yang memerah di pipinya, untung saja dia adalah seorang Akira, jika itu adalah orang biasa, mungkin tamparan itu setara dengan truk yang menabrak dengan kecepatan delapan ribu kilometer per jam.
Seseorang yang terkena tamparan ini bisa langsung mati! ini reflek!
"Aduhh!! sangat sakit!!"
"Hah? lagipula kamu membuatku kaget sekali!"
"Kaget? aku baru tahu kamu bisa mengalami kaget Hahahaha..."
Irin: \=_\=
"Oh ayolah! jangan marah seperti itu...aku hanya ingin menguji mu hahaha rupanya kamu bisa terkejut juga"
"Tentu saja!"
"Lalu? apa yang kamu lakukan kemari?"
Airin segera mencari topik dulu untuk berbicara dan menunggu waktu untuk memberikan kue buatannya pada Akira, dia berniat memakan kue ini bersamanya.
Topik pertamanya adalah dengan menanyakan dimana Isami yang tidak terlihat sekarang, dan dijawab oleh Akira bahwa dia sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Airin tidak menyangka sikap Isami itu sangat cepat berubah.
"Lalu? apakah kamu tidak membawakan makanan? aku tidak bisa membuat makanan dengan sangat baik!"
"Hah? masa? lagipula aku juga sempat membuat kue tadi..."
"Benarkah? berikan padaku! aku akan segera mencobanya"
"Hahaha! inilah saatnya!"
(Ekspresi senang nya dalam hati)
__ADS_1
Segera Irin menggerakkan jarinya ke arah meja dengan cahaya biru melingkar membentuk sebuah yang baru saja dia ciptakan tadi.
"Wah! sepertinya cukup enak! aku akan segera memakannya!" dengan cepat tangannya hampir menyentuh kue itu, dan Irin langsung memukul tangannya lagi untuk menajuhkan tangannya.
"Bersihkan dulu tanganmu itu!"
"Hah? tanganku selalu bersih! dimana kah kotornya?"
"Bersih ataupun tidak bersih setidaknya cuci dulu!"
"Ahh~ yahh sudahlah aku akan segera cuci"
Setelah mencuci tangan ternyata dua piring sudah ada di meja, awalnya Akira pikir Irin hanya akan memberikan semua untuk dirinya, ternyata itu adalah kue yang akan di bagi dua
"Ehh? dua piring! buat apa?"
"Tentu saja aku akan mencicipinya juga"
Segera dia jarinya bergerak lagi tanpa menyentuh kue tersebut dan terbelah rapih dengan sama rata.
lima puluh lima puluh untuk satu orang, hana mereka berdua yang memakannya, awalnya ini adalah saran dari Cian jika Irin ingin mencoba mendekati Akira.
"Humm! ini sangat enak...apakah tidak ada lebih nya?"
"Umm...tidak ada, aku hanya membuat yang satu ini"
"Irin!"
"Ha?"
Akira memberinya satu suapan kue untuknya, Irin tidak tahu apa sebenarnya ini, dia merasa sangat malu.
"Hahahaha! satu suapan ku masuk! sekarang...Irin kamu harus membalas ku juga"
"Kenapa bisa Seperti itu?" sambil mengunyah.
"Tentu saja kamu perlu membalas kebaikan seseorang"
"Tapi tidak ada yang menyuruh mu untuk menyuapkanku sesendok kue!"
"Oh? jahat sekali"
Sangat menolak namun sebenarnya Irin mau melakukan ini dan memotong sepenggal lagi seperenam bagian kue nya di atas sendoknya dan menyuruh Akira membuka mulutnya
"Bersedialah sebuah pesawat akan masuk!"
"Ha? apa-apaan itu? aku bukanlah anak kecil!"
"Sudahlah buka saja! kamu yang meminta untuk satu suapan dariku!!"
Irin pun menyuapi Akira dengan kue tersebut, Akira benar-benar sangat senang sampai tidak melepaskan sendok keluar dari mulutnya, Irin sedikit kesal karena Akira tidak mau membuka mulutnya untuk mengeluarkan sendok, mau tidak mau dia harus melepaskan tangannya dari sendok.
Namun Akira mengambil tangannya dan melepaskan sendok dari mulutnya sendiri, dia menggengam tangan Irin.
"Tanganmu dingin sekali, dan gemetar ada apa denganmu?"
__ADS_1
"Aa...a..aku, baik-baik saja!"
Tangannya gemetar dan kaku, kemudian Akira yang memegang tangannya segera menggengam erat tangan Irin dan perlahan tangannya mulai berhenti gemetar.
"Kamu...sepertinya senang melakukan itu padaku?"
"Hah? apa maksudmu?"
"Menyuapiku...kamu senang menyuapiku kan? aku membaca perasaanmu sesaat"
"Kamu! membaca perasaan dan pikiran orang lain itu sangat tidak baik!"
"Hahaha maaf! ini sudah kedua kalinya aku melakukan itu"
Wajahnya memerah dan sangat malu, jelas sangat bahaya jika dia lengah dan Akira berhasil membaca pikiran dan perasaannya.
Pada dasarnya anti pembaca emosi itu bukan sebuah kemampuan pasif, itu akan di gunakan Irin sesuka hati dan melindungi perasaannya terus menerus agar tidak di baca, namun jika dia terlalu grogi dia lengah dan efek emotional protector itu akan nonaktif untuk beberapa saat.
Akira mulai bertanya dalam beberapa saat padanya tentang dunia selanjutnya yang manakah akan mereka lihat.
"Ada berapa banyak lapisan dunia itu?"
Tanya Irin dengan rasa ingin tahu.
"Tidak terhingga sepertinya tidak terbatas"
"Jadi kita baru sampai ke dunia di tingkat ke empat dan masih ada dunia-dunia lain yang tidak terhitung?"
"Ya, bukan seperti itu, sebenarnya tidak terbatas maksudku tadi adalah seperti yang pernah di katakan Alshian padaku sebelumnya, dunia-dunia yang lebih tinggi akan terus berada dia atas dan tidak pernah ada habisnya"
"Hah?? mahluk apa saja mereka?"
"Entahlah, aku juga tidak pernah berniat untuk melihat mahluk-mahluk atau apa saja di dunia yang terlalu banyak, bagiku itu tidak penting"
"Memang tidak penting! itu hanya hal yang membosankan! sama seperti dirimu yang menjelajahi setiap alam semesta di Curileo! itu adalah hal yang membosankan!"
"Hoh? membosankan? itu sebelumnya, kini aku sudah menemukan Yuna yang kedua disini, maka tidak adalagi hal yang membosankan"
"Berhenti memanggilku dengan nama itu!"
"Hahaha bercanda! kamu sangat muda marah, wajahmu itu lucu sekali"
BLITZZZZZZ...
tiba-tiba suasana menjadi gelap dalam dan suara aneh dalam dua detik kemudian segera menghilang lagi.
Keduanya segera saling memandang lagi dan saling bertanya apa yang mereka lakukan!
Irin: "Apalagi yang coba kamu lakukan?"
"Akira: "Hah? aku tidak melakukan apa-apa, kupikir barusan kamu merencanakan sesuatu, lalu bunyi apa itu?"
Keduanya merasa aneh dengan bunyi dan suasana gelap tadi dengan cepat Irin mengira bahwa Akira akan merencanakan sesuatu dengan sihir untuk menjahilinya.
Begitupun Akira mengira Irin akan membalas kejahilannya dengan sesuatu.
__ADS_1