Her Private Life

Her Private Life
Chapter 8 : Caillian impersonation


__ADS_3

Akira kemudian mengulurkan tangannya pada Cian dan membuka sebuah portal.


"Ayo genggam tanganku." Ucap Akira.


Cian kemudian meraih tangan Akira dan saling menggengam, Akira segera mengangkat tangan kiri nya membuat gerakan jari telunjuk nya seperi oval, dan terbukalah lingkaran portal yang di kelilingi dengan api hijau di sekitarnya. Cian sangat terkejut, sepertinya sihir itu benar-benar nyata, dan sekolah sihir juga nyata. Dia kagum sambil terdiam tak berbicara karena terkejut.


"Hitunglah mulai dari langkah pertama kita." Ucap Akira.


Sambil memegang tangan Cian, detik pertama terhitung sebagai langkah untuk masuk ke dalam lingkaran tersebut, langkah kedua, kaki mereka tepat melayang di ruang kosong yang hanya ada jalur lurus kedepan tanpa ujung, seluruh wajahnya seperti tersapu angin dalam kecepatan tinggi.


Sebenarnya itu hanyalah portal tapi dia seperti melihat di sekitarnya ada galaksi yang tak terhitung jumlahnya dan di depan mulai terbuka lagi cahaya putih bersinar terang. Mereka segera melakukan langkah ketiga di detik ketiga saat portal sudah terbuka tepat di depan pintu rumah 1019.


Akira tetap menjatuhkan kakinya dengan wajah yang biasa, sementara Cian seperti merasa mabuk dan pusing. Mulai menjatuhkan dirinya ke tanah tetapi menahan dirinya agar tidak pingsan.


"Tidak mungkin, darimana kau bisa melakukan hal seperti itu?" Tanya Cian.


"Mungkin akan menjadi cerita yang sangat panjang selama kamu bisa menjaga rahasiaku, aku akan menceritakan semuanya nanti." Jawab Akira.


Setelah mengetuk pintu, Airin membukakan pintu dan melihat satu orang yang biasa saja dan satu orang yang tampak Pusing, ini adalah kedua teman sekelasnya.


Cian: "Irin... aku datang untuk menjenguk mu, apakah kamu demam?"


Irin: "Ah tidak, aku hanya agak lelah dan sedikit tidak enak badan untuk pergi ke sekolah, ngomong-ngomong kenapa wajahmu terlihat pucat seperti itu?"


Cian: "Ahehe tidak, aku hanya sedikit mual di lift tadi." Ucapnya dengan sedikit berbohong untuk merahasiakan apa yang di lakukan Akira.


Akira: "Ruangan yang benar-benar bagus dan sangat bersih."


Irin: "Hmmm.... terima kasih, tentu saja aku sangat menyukai kebersihan."


Akira: "Jadi begitu."


Akira berjalan perlahan-lahan mengelilingi dan melihat-melihat kesana kemari.


Akira: "Apakah ada sesuatu yang bisa aku makan disini?"


Akira berjalan ke dapur membuka kulkas dan tidak menemukan apa-apa, kemudian dia mulai mencari bagian lain dan tidak melihat adanya bumbu-bumbu dapur di semua meja dan lemari yang ada. Dia mulai merasa aneh, pertanyaan di kepalanya berisi tentang....


...Apakah Airin tidak pernah memasak? Lantas bagaimana caranya makan? Ataukah dia memiliki sejumlah uang yang banyak untuk memesan makanan online?...


Akira: "Ee... ummm, Irin mengapa tidak ada satupun makanan disini atau apalah yang berada di dapur?"


Dengan pertanyaan ini Irin mulai mencari jawaban apa yang harus dia jawab.


Irin: "Ahh aku terkadang memesan makanan online atau Cian seringkali berkunjung ke sini membawa makanan yang banyak, bahkan makanan itu akan terus tersisa.


Akira: "Oh, jadi begitu... sepertinya kalian adalah sahabat yang baik".

__ADS_1


Cian: "Ya, tentu saja, sulit kau temukan teman baik seperti diriku ini."


Cian: "Syukurlah kamu baik-baik saja, kukira kamu sedang sakit parah".


Irin: "Jangan Khawatirkan aku, aku baik-baik saja."


Cian: "Kalau begitu aku akan segera pulang, rasanya lelah hari ini."


Irin: "Ahh, terima kasih sudah berkunjung, kalian berdua."


Cian mengangguk, dan Akira tersenyum. Cian sudah lebih dulu keluar dari kamar. Yang tersisa hanyalah Irin dan Akira yang saling menatap seperti tatapan canggung.


Akira: "Jika kau sakit atau sedang dalam bahaya, kau bisa memanggilku segera, aku mungkin akan datang secepat mungkin, kalau begitu aku pergi dulu".


"Akiraa! Cepatlah!" Panggil Cian dari luar rumah Airin.


Irin: "terima kasih, kamu benar-benar teman yang baik."


Irin mengangguk dan tidak pernah mengira bahwa Akira adalah orang yang memperdulikan nya. Kemudian Akira juga sudah mampu berteman dengan Cian.


Cian: "Jadi, bagaimana kamu akan menceritakan semuanya?"


Akira: "Ehh? Menceritakan apa?"


Bertanya dengan berpura-pura tidak tau apa-apa setelah semua yang terjadi.


Cian: "Hah? jangan berpura-pura kamu membuka sebuah ja-"


Cahaya keluar dari jari Akira menunjuk pada Cian, ini terpaksa di lakukannya untuk menghapus ingatannya tentang apa yang dia lakukan tadi. Awalnya dia merasa lega sesaat.


Cian: "Apa yang kamu lakukan lagi? Ini sudah ketiga kalinya kamu menunjukan hal-hal aneh, apakah itu sihir?"


Akira mulai terkejut bahwa ingatannya tidak bisa di hapus, sejauh yang dia tahu penghapusan ingatannya akan selalu bekerja dengan efektif, tapi tidak dapat berlaku dengan Cian.


Akira: "Kamu!! Bagaimana bisa tidak terpengaruh?"


Cian: "hemm? Jadi begitu, kamu mencoba menggunakan sihir lagi untuk menghapus ingatanku?"


"Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan apa yang kamu lakukan dengan menggerakkan jari membentuk lingkaran oval dan berpindah tempat seperti tadi?" Tanya Cian.


Kemudian, dia mempraktekkan apa yang di lakukan Akira pada sebelumnya.


Cian: "Jangan berbohong, kamu tadi mengangkat jari mu seperti ini sebelum kita sampai kesini, membuka sebuah lingkaran yang menembus ke tempat lain. Setelah dia mempraktekkan gaya pergerakan jari dengan hal yang sama di lakukan Akira, dan tiba-tiba terbukalah Portal yang sama. Keduanya terkejut.


Akira: "Hah? Bagaimana bisa?? Kau?


Cian: "A... aku tidak tahu, ini terjadi tiba-tiba!"

__ADS_1


"Kemampuan meniru sihir orang yah?"


Ucap Akira dalam hatinya.


Akira segera mengambil tangan Cian bergegas masuk ke dalam portal untuk mencari tempat yang lebih aman untuk menceritakan semuanya. Airin yang berada di dalam ruangan tahu bahwa mereka belum pergi dari sini, jadi dia melihat secara tembus pandang apa yang mereka lakukan di luar pintu, Irin terkejut kedua temannya juga dapat melakukan hal-hal seperti ini. Dia jatuh lagi kedalam pikiran yang mendalam.


Segera Portal itu terbuka tembus ke awal mereka membuka nya, jadi menembus lagi ke tempat sebelumnya di dekat sekolah, hari sudah malam saat mereka pulang dari menjenguk Irin, dan kembali lagi ke dekat jalanan sekolah di malam hari. Akira segera membawanya ke tempat suatu taman untuk menceritakan dan menjelaskan semua nya. Cerita nya mungkin sangat panjang jadi dia tidak akan menceritakan semuanya kisah yang tidak jelas.


Dia akan mulai menceritakan seperti cerita yang sama dia ceritakan kepada Irin di dalam sebuah mimpi, bahkan kali ini dia menceritakan kisah yang lebih panjang lagi, butuh berjam-jam mendengarkan ceritanya. Cian pun bersedia untuk mengetahui semuanya. Setelah lamanya waktu dengan cerita yang di uraikan, Cian segera paham dan mulai menghibur, lalu bertanya.


Cian: "Tapi kenapa aku tiba-tiba bisa meniru apa yang kamu lakukan?"


Akira: "Entahlah, sepertinya kamu bagaikan mendapat sebuah gift secara ajaib."


Cian: "Gift?"


Akira: "Iya, itu semacam pemberian kekuatan kemungkinan diberikan oleh dewa.


Cian: "Lalu, apa yang harus kulakukan?"


bertanya dengan rasa ingin tau dan lagipula juga dia ingin selalu merasa lebih dekat dengan Akira.


Akira: "Ahh kurasa tidak salah jika kita mencobanya lagi."


Cian: "Mungkin ide yang bagus."


Akira: "Tapi bukan ide yang bagus untuk mencobanya disini, aku khawatir jika ada seseorang yang melihat kita".


Akira segera membawanya ke dunia lain yang mirip dengan tempat tadi, dalam beberapa saat mereka tetap berada di tempat tadi dengan suasana yang berbeda.


Cian: "Eh dimanakah kita?"


Akira: "Aku membawamu ke dunia lain atau mungkin aku menciptakan dunia ini yang tidak ada penghuninya, ini adalah dunia yang sama tapi bedanya tak berpenghuni, jadi tidak akan ada yang bisa melihat kita."


Dunia yang di ciptakan nya mirip dengan dunia yang sama tetapi semua letaknya disini berbeda misalnya sekolah yang berada di belakang gedung tiba-tiba posisi mereka semua terpindah secara acak. Akira mulai menunjukan sihir membakar kertas menjadi debu tanpa sisa, membekukan air yang mengalir dan mengarahkan angin dengan bebas.


Akira: "Cobalah untuk meniru ku."


Cian: "Baik."


Segera mencoba melakukan semua yang di lalukan Akira Tampaknya itu berhasil hanya dengan mengingat dan mencoba mengikuti dengan hal yang sama.


Cian: "Luar biasa!! Aku bisa mengendalikan kekuatan elemen-elemen ini!" Cian berkata dengan nada senang.


Akira: "Terkadang kekuatanku bisa mengeluarkan hal-hal yang lebih besar untuk di hancurkan, contohnya mataku."


Akira segera membuka penahan kekuatan matanya dan kembali berwarna merah. Kemudian dia menunjukkan hal-hal yang bisa di hancurkan hanya dengan mata.

__ADS_1


Cian: "Jadi ini lah mata seperti yang dia ceritakan tadi."


Perlahan dia mulai mengerti semuanya dan mulai mempercayai bahwa sepertinya sihir dan dunia lain itu benar-benar ada.


__ADS_2