
"Ray! Tunggu!" teriakan Kyra yang entah terlontar untuk ke berapa kalinya tak membuat langkah lebar Raymon berhenti.
Sepanjang hari, Raymon melalui mata kuliahnya dengan pikiran yang tak tenang. Anya tak masuk kelas, bahkan tak terlihat juga seharian ini. Terbiasa melihat gadis itu berbuat onar dan selalu mencari perhatian Raymon rupanya telah membuat keseharian pria itu terasa ada yang kurang.
"Ray!" Kyra berhasil menyusul adiknya dan menarik lengan pria jangkung itu.
Wajah Raymon yang masam dan terlihat sangat lelah membuat Kyra menghela napas panjang. Harusnya hari ini adalah hari bahagianya, tapi rupanya yang terjadi justru sebaliknya.
"Mau aku traktir minum? Sepertinya kamu butuh refreshing sejenak!"
"Aku butuh tidur. Aku tidak suka kopi!" tolak Raymon sembari menarik lengannya dari cekalan sang kakak.
"Baiklah, kalo begitu aku traktir makan," usul Kyra lagi.
Raymon menggeleng. "Aku mau pulang."
"Ray, ini hari ulang tahunmu! Bersenang-senanglah!" desak Kyra masih berusaha memaksa. "Apa kau masih marah karena ulah Anya tadi pagi?"
"Tidak."
"Oh, berarti kau menyukai kejutan itu?"
"Tidak juga!" Raymon berbalik, mendengar nama itu disebut membuat hatinya mendadak nyeri. "Kau mau pulang atau tidak? Kalo tidak, naiklah MRT nanti."
__ADS_1
"Ray, ayolaaah, sejak di sini aku belum pernah nongkrong sama sekali," rajuk Kyra memelas.
Tangan Raymon yang telah menyentuh handle pintu mobil mendadak urung membukanya. Sambil berpikir, ia memejamkan matanya sejenak. Terbiasa hidup tanpa teman membuat Raymon susah beradaptasi dengan orang baru, ia juga tak suka nongkrong seperti remaja kebanyakan. Namun, mendengar permintaan kakaknya membuat Raymon iba, terlebih ia tahu sang kakak juga tak memiliki teman di kota ini.
"Baiklah. Kau mau makan di mana? Biar aku mentraktirmu hari ini."
Dan setengah jam berikutnya, sepasang adik kakak itu telah sampai di sebuah cafe di pusat kota. Wajah cantik dan tampan keduanya menyita perhatian beberapa orang yang berada di cafe itu. Orang yang tak paham pada silsilah mereka berdua, pasti mengira Raymon dan Kyra adalah sepasang kekasih.
"Ray, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kyra setelah menyesap sedikit es kopinya.
Bukannya menjawab, Raymon hanya berdehem singkat sambil mengawasi Kyra sesekali.
"Kenapa kau tak menyukai Anya? Apa dia pernah menyakitimu?"
Pertanyaan Kyra tak pelak membuat wajah suntuk Ray bertambah masam. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dan menghembuskan napas panjang.
"Apanya yang menakjubkan? Justru yang dia lakukan sangatlah konyol!" tampik Raymon tak suka. "Seperti tidak ada lelaki lain saja! Aku bukan satu-satunya pria di muka bumi, harusnya dia mencari pria lain tanpa harus menungguku selama itu!"
"Dia sudah mencobanya, Ray. Anya sudah melakukan itu tapi dia tak bisa, dia sangat menyukaimu."
"Lantas setelah itu apa? Setelah aku menyukainya lantas apa yang akan dia lakukan? Dia hanya terobsesi, dia tak benar-benar menyukaiku luar dan dalam." Wajah Raymon kembali menegang, ia memang tak pernah mengenal cinta karena obsesi Anya telah membuatnya takut setengah mati pada sebuah ikatan percintaan.
"Kamu hanya belum mencobanya, Ray. Cobalah buka hatimu untuk Anya. Dia gadis yang baik, cukup sopan dann cantik!" bujuk Kyra menasihati.
__ADS_1
"Bila tak ada hal lain yang mau diobrolkan, kita pulang saja!"
Kyra menahan tangan adiknya yang hendak bangkit dan memintanya kembali duduk.
"Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari sekedar patah hati?" bisik Kyra ketika Raymon sudah kembali tenang.
Sekali lagi, Raymon mengacuhkan perkataan kakaknya dan memilih membuang muka.
"Menyadari bahwa kita mencintai seseorang ketika kita telah berpisah darinya. Aku pernah berada di posisi itu, Ray. Dan rasanya sangat menyakitkan." Kyra menatap kosong ke arah gelas yang teronggok di depannya. "Ketika masih bersama, kau menganggap cinta itu hanya omong kosong. Kau memperlakukan dia dengan semaumu, tak menghargainya dan bahkan berkali-kali menyakiti hatinya."
"Apakah kau sedang membahas mantan suamimu?" selidik Raymon kepo.
Mamanya pernah bercerita bila kakaknya sudah menikah dengan pria konglomerat yang kaya raya.
"Bukan mantan, dia masih suamiku hingga detik ini."
Raymon mendelik kaget. "Lalu bagaimana bisa kalian tak saling bertemu satu sama lain? Apakah dia sudah gila?"
"Aku yang meninggalkannya, Ray. Aku yang jahat dan tak memperdulikan perasaannya. Itulah mengapa aku tak mau kamu juga terjerumus sepertiku." Kyra menatap netra coklat adiknya dengan hangat.
"Apa kau masih mencintainya?"
Senyuman kecil yang tersungging dari wajah cantik Kyra membuat Raymon tahu jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
"Percayalah, menyesal karena terlambat mencintai itu sangat menyakitkan. Jadi cobalah pikirkan ulang tentang sikapmu yang dingin pada Anya. Setidaknya, meskipun bukan dengan Anya cobalah buka hatimu untuk menyukai gadis lain."
...****************...