I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Kenapa Harus Marah?


__ADS_3

Dengan langkah lebar, Kyra pergi dari Restoran Italia itu tanpa mempedulikan Bara yang terus saja memanggilnya. Entahlah, mengapa rasanya sangat sakit melihat Bara bersama perempuan itu sementara ia percaya bila suaminya itu sedang meeting.


Grap.


Bara berhasil menangkap lengan Kyra dan menghentikan langkah istrinya itu.


"Lepas!" sentak Kyra untuk pertama kalinya pada Bara. Ia berusaha menepis cekalan Bara tetapi sia-sia.


Bara nampak susah payah mengatur napasnya yang kembang kempis gara-gara mengejar Kyra. Ia masih memegangi lengan itu dengan erat agar Kyra tak kabur.


"Kenapa kamu lari, Sialan!" sungut Bara jengkel. "Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan!"


Kyra tersenyum kecut. Beberapa orang yang melewati mereka  nampak memperhatikan sepasang suami istri itu dengan tatapan penasaran. Tak ingin menjadi bahan tontonan orang, Bara menyeret Kyra pergi dan masuk ke dalam lift. Bara bahkan lupa bila ia belum membayar bill restoran saking panik dan marahnya. Ia segera menelepon Morgan dan memintanya menunggu di basement.


"Kemarikan kunci mobilmu. Aku pulang dulu. Suruh Pak Tino kemari untuk menjemputmu. Dan jangan lupa bayar bill Restoran tadi." Bara merampas kunci yang dipegang Morgan sambil tetap mencekal lengan Kyra.


Melihat gelagat tak mengenakkan itu, Morgan hanya bisa menuruti perintah Boss-nya. Pasti akan terjadi perang Dunia ketiga sebentar lagi.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Bara mendudukkan Kyra di kursi penumpang dan mengunci mobil sementara ia kembali menghampiri Morgan.


"Cari tahu tentang Daniel dan apa saja yang ia lakukan seminggu terakhir. Laporkan padaku nanti malam!" perintah Bara dengan tatapan tajam sebelum kemudian ia beringsut pergi dan masuk ke dalam mobil Morgan.


Decit ban yang bergesekan dengan aspal terdengar memekakkan telinga ketika Bara melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Morgan yang masih belum sepenuhnya paham dengan apa yang telah terjadi hanya diam mematung untuk beberapa saat. Apakah Kyra kedapatan selingkuh dengan Daniel hingga Bara begitu marah dan menyeretnya pergi?


Sementara di dalam mobil yang melaju kencang. Kyra masih diam membisu meskipun Bara seolah menantang maut dengan menyetir bak pembalap. Sesuatu di dalam jiwanya seketika hampa, ada rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan senyeri apa rasanya. Sekilas seperti rasa sakit ketika Kyra memergoki Keanu berselingkuh dengan Zeline kala itu. Tapi yang ini terasa lebih perih.


"Bicaralah! Kenapa kamu diam?" perintah Bara dingin. "Kalo kamu diam, bagaimana aku bisa tahu letak kesalahanku di mana?"


Kyra menolehi Bara sekilas. Dia belum paham atau memang berpura-pura tak paham?


"Aku nggak marah, aku hanya kecewa sama diriku sendiri karena terlalu percaya sama kamu," jelas Kyra dengan getir. Ia membuang muka ketika mengucapkan kalimat terakhir itu agar pertahanannya tak jebol.


"Aku tidak berbohong. Aku memang meeting dengan Mr. Lucas sebelum kamu datang. Dan Valeria menahanku pergi karena ..." Bara melirik Kyra sekilas. "Karena ..."


Ah, damnnn! Bara mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak mungkin mengatakan alasannya bertahan untuk tetap mengobrol dengan mantan kekasihnya itu. Urusan perusahaan bukanlah topik yang tepat untuk dijadikan alasan meskipun hal itu adalah kenyataan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Karena kalian masih butuh waktu untuk melepas rindu, begitu?" tuduh Kyra pilu. "Hebat!" Air mata Kyra menetes satu persatu membasahi pipinya.


Bara menghembuskan napasnya kesal. Ia benci melihat Kyra menangis!!


"Aku tidak melakukan apapun dengan Valeria. Kenapa kamu harus sakit hati dan marah? Bukankah kamu pun sering bertemu Keanu ketika meeting dan aku biasa saja!?"


Deg. Kyra terhenyak mendengar perkataan Bara. Benar, mengapa ia harus marah? Mengapa ia harus kesal? Bahkan Bara saja tak pernah cemburu meskipun Kyra berdandan cantik untuk Keanu?


"Iya, kamu benar. Maafkan aku karena terlalu berlebihan." Kyra menyeka air matanya dengan kasar.


Melihat air mata itu berhenti menetes entah mengapa membuat Bara semakin khawatir pada keadaan Kyra. Sorot mata yang tadinya tajam membunuh, kini perlahan berubah datar dan dingin. Bara merasa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi akibat perbuatannya.


"Lain kali tidak perlu membuatku serba salah seperti tadi. Kamu membuat hariku semakin kacau karena kecurigaanmu itu!" hardik Bara jengkel. "Aku tahu batasan apa yang harus tolak dan apa yang harus aku lakukan. Bahkan ketika klienku memberi hadiah wanita malam, aku menolaknya karena aku sudah menikah."


Kyra terhenyak untuk beberapa saat, wanita malam? Hadiah? Sebobrok itukah dunia bisnis?


"Maafkan aku. Aku janji kejadian seperti tadi nggak akan terulang lagi. Bahkan meskipun kamu menerima wanita malam itu, aku nggak akan melarangmu, Bara," saran Kyra dengan getir.

__ADS_1


"Baiklah, jika memang itu yang kamu mau!"


...****************...


__ADS_2