I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Cucu Pertama


__ADS_3

"Kenapa dia mirip sekali dengan Bara!"


Semua orang yang berada di dalam kamar rawat inap President Suite, menoleh ke arah Daniel yang tengah menggendong keponakan barunya.


Bara yang sedang menyuapi istrinya, kontan saja merengut marah mendengar pernyataan Kakaknya.


"Memangnya kenapa kalo mirip denganku!? Itu berarti dia memang anakku. Akan berbahaya kalo dia malah mirip denganmu atau Morgan!" sahut Bara ketus sembari melirik Daniel dengan sinis.


Elena yang sejak tadi berada di samping Daniel, mengawasi cucunya dengan lekat.


"Tidak juga kok, bayi ini memiliki mata Ibunya. Lihatlah, bulu matanya lentik seperti Kyra."


"Tapi ekspresinya bila sedang tidur begini mirip Bara, Mom. Coba lihatlah!" Daniel menyodorkan bayi dalam gendongannya ke arah Elena. "Untungnya dia keponakanku. Mau bagaimanapun menyebalkannya dia kelak, semoga tidak lebih menyebalkan dari Bara."


"Heh! Enak saja!" hardik Bara kesal hingga membuat bayi di gendongan Daniel tersentak kaget.


"Bara, pelankan suaramu!" Kyra mencubit lengan suaminya.


Setelah melalui persalinan yang lancar bak jalan tol, akhirnya bayi cantik itu lahir dengan selamat di tangan Bara sendiri. Dokter dan Suster yang saat itu datang terlambat, hanya bisa meminta maaf berulang kali. Namun, karena saat itu Bara sedang dalam kondisi mood yang bahagia, ia tak mempermasalahkan hal itu dan memilih fokus bayi cantiknya alih-alih marah atas keteledoran dan kelambatan pelayanan di Rumah Sakit itu.


Hingga detik ini, Bara masih bergidik ngeri bila mengingat momen tiga jam yang lalu itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi bayinya yang masih berlumuran darah dan licin oleh air ketuban. Antara bersyukur dan menyesal, Bara rasanya tak akan sanggup bila harus melihat proses itu terjadi lagi beberapa tahun esok. Begini saja sudah cukup membuatnya gemetaran setengah mati, apalagi jika harus menambah anak dan menemani Kyra melahirkan lagi.


Shakira dan Raymon langsung terbang ke Indonesia setelah mendengar berita kelahiran Kyra. Mereka tiba malam harinya ketika Bara sudah hampir terlelap karena kelelahan. Ternyata mengurus bayi sangat melelahkan.

__ADS_1


"Dia mirip dengan Kak Bara." Raymon melirik kakak iparnya ketika memperhatikan keponakan yang sedang tidur di box bayi.


"Kamu orang kesekian yang mengatakan hal itu!" Bara bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.


"Ray, tidurlah di rumah bersama Bara. Biar Mama yang menemaniku di sini malam ini," bujuk Kyra sembari memperhatikan adiknya yang masih betah memandangi bayi mungilnya.


"Kakakmu benar. Temanilah Kak Bara agar dia mau istirahat di rumahnya. Besok kembalilah ke sini saat jam sarapan. Mama akan carikan sarapan untuk kalian." Shakira ikut membujuk agar putranya mau menurutinya.


Dan setelah melalui perdebatan yang alot antara Kyra dan Bara, akhirnya para pria itu pun pulang ke penthouse dan beristirahat di sana. Shakira membiarkan putrinya tidur sementara ia akan menjaga cucu pertamanya. Dia sudah cukup beristirahat di pesawat tadi.


"Ayah menitipkan salam untuk Mama." Kyra yang sudah hampir terlelap, seketika teringat pada perkataan Ayahnya tadi siang. "Ayah bilang ingin bertemu dengan Mama sebentar saja besok."


Mendengar perkataan putrinya entah mengapa membuat Shakira gamang. Ia melirik Kyra dengan canggung.


Kyra mengangguk ketika tatapan mereka bertemu. "Ayah bilang mau mengembalikan barang Mama. Sebentar saja sih!"


"Baiklah."


Tak ada yang bisa Shakira katakan selain setuju untuk bertemu. Akan terasa konyol bila ia terus menghindar sementara keduanya akan terus bertemu mulai hari ini.


Esoknya, Bara sengaja membawa Kyra jalan-jalan ke taman bersama Raymon agar mertuanya punya waktu untuk bicara empat mata. Awalnya Raymon sempat tak mengijinkan mamanya bertemu dengan ayah Kyra, akan tetapi setelah Kyra membujuknya dan mengatakan bila semua akan  tetap sama dan tidak merubah keadaan, barulah Ray mengijinkan Shakira bertemu Roni.


"Kamu sehat?" lirih Roni gugup sembari melirik mantan istrinya yang saat ini duduk di ranjang, sementara ia duduk di sofa.

__ADS_1


"Sehat, Ron. Kamu juga kelihatannya tambah sehat dan awet muda, ya!" puji Shakira tulus.


Bayi Kyra dan Bara sedang dibawa keluar untuk berjemur, menyisakan sepasang mantan suami istri itu di dalam ruangan.


Roni hanya tersenyum kecil mendengar pujian itu. Ia paham bila yang diucapkan oleh Shakira hanyalah sebatas ingin menyenangkan hatinya saja. Dengan sangat perlahan, Roni mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya dan mulai bangkit. Ia mendekat ke tempat mantan istrinya dan menyodorkan sesuatu yang berada dalam genggaman tangannya.


"Apa itu?" tanya Shakira penasaran karena tangan Roni masih terkepal dan menggenggam erat sesuatu di dalam jemarinya.


"Milikmu."


Pada akhirnya Roni membuka kepalan tangannya hingga Shakira bisa melihat sebuah kalung berliontin huruf S di sana.


"Kenapa kamu masih menyimpannya, Roni? Bukankah aku sudah memintamu membuangnya?"


"Kalung ini adalah harta pertama yang aku belikan untukmu. Dia tetap milikmu, Sha." Roni menarik salah satu tangan Shakira dan meletakkan kalung itu di telapak tangannya.


"Bila memang harus dibuang, kamulah yang pantas membuangnya," sambung pria paruh baya itu dengan kelu  sebelum kemudian ia berbalik dan keluar dari kamar putrinya.


Tangis Shakira pecah setelah Roni keluar dan menutup pintu. Ia mengawasi kalung di tangannya dengan terluka. Ia sangat ingat momen terakhir kala mereka berpisah waktu itu. Kalung ini menjadi saksi bisu, betapa galaunya Shakira kala itu. Ia bimbang harus memilih antara meninggalkan suami dan putrinya, atau mantan kekasihnya yang sedang sekarat di Singapura.


"Maafkan aku, Roni. Seharusnya bukan aku wanita yang kamu nikahi."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2