I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Menemui Papa Mertua


__ADS_3

[Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bara selama Daddy tidak menyerahkan bagian sahamnya pada Edy.]


Kyra menatap layar ponselnya dengan sedih. Bara sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu, dan kini ia sedang duduk di meja makan sendirian. Harusnya hari ini ada jadwal les memasak, namun entah mengapa Kyra malas untuk berangkat.


Pesan dari Daniel membuat suasana hatinya semakin kacau setelah semalam diporakporandakan oleh Bara. Bila Bara memiliki saham 30%, Daniel, Friz dan Edy masing-masing 15%, maka harusnya tak ada yang bisa mengancam posisi Bara selama Daniel dan Friz mendukungnya. Tapi mengingat hubungan Friz dan Bara jadi merenggang sejak ia menikah, Kyra jadi ragu akankah Friz masih membela anaknya.


"Daddy sangat menyayangi Edy dan tidak pernah bisa tegas padanya."


Perkataan Daniel kembali menjadi pukulan telak di pikiran Kyra. Ia harus menemui Friz dan memohon bantuannya. Walau bagaimanapun, ia harus memastikan Friz berada di pihak Bara seandainya Edy benar-benar nekat. Tidak mungkin memberitahu Bara karena itu sama saja dengan menambahi beban pikirannya. Pun begitu, dengan sifat Bara yang temperamen, bukan tidak mungkin akan muncul permasalahan baru diantara ayah dan anak itu. Kyra tak mau menjadi jurang pemisah diantara mereka berdua.


Dengan lihai, jemari mungil Kyra mulai mengetik pesan di keypad ponselnya. Setelah memastikan pesan itu terkirim, ia lantas bangkit dan bersiap-siap untuk menemui Friz.


Dua jam berikutnya, di sebuah kamar hotel yang harga satu malamnya pasti sangat mahal. Friz tengah duduk berhadapan dengan Kyra. Berkat bantuan Morgan, Kyra akhirnya bisa menemui Friz di hotel ini.


"Ada masalah apa hingga kamu begitu memaksa untuk bertemu denganku?" Suara bariton Friz yang dingin tak pelak membuat bulu kuduk Kyra berdiri.


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu jadwal, Tuan. Saya juga minta maaf karena terakhir kali kita bertemu, saya bahkan belum memperkenalkan diri saya pada Tu--"


"Kyra Sada Batari, usia 24 tahun, hidup berdua dengan Ayahmu karena Ibumu meninggalkan kalian demi lelaki yang lebih kaya, bertemu Bara ketika kalian sama-sama terjebak di pulau."


Kyra terbelalak menatap Friz yang ternyata sudah sangat mengetahui seluk beluk dirinya. Bahkan bagian aib tentang ibunya pun, Friz sangat mengetahuinya dengan begitu detail.


"Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu," lanjut Friz masih dengan sikapnya yang pongah.

__ADS_1


Merasa aura mencekam sangat nyata di dalam kamar itu, Kyra menundukkan kepalanya dengan takut.


"Jadi katakan saja, apa tujuanmu menemuiku?" tanya Friz penasaran.


"Apa anda sangat menyayangi Bara?" Kyra memberanikan diri menatap Friz yang seketika tergugu.


Hening, Friz tak menjawab. Ia hanya mengawasi Kyra dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Meskipun penampilan menantunya ini sangat apa adanya, namun ia memiliki aura yang bersinar menyilaukan mata.


"Tentu saja. Bara adalah darah dagingku satu-satunya," jawab Friz setelah menimbang perkataannya.


"Lalu, bila diminta memilih antara Bara dan Edy, siapa yang akan anda pilih?"


"Pertanyaan bodoh macam apa itu!?" tukas Friz terkejut.


"Apa yang sedang kamu coba katakan? Masalah apa yang tidak aku ketahui?" sentak Friz emosi.


"Edy sedang berusaha memonopoli saham perusahaan. Dia rela membeli dengan harga tinggi agar bisa mempunyai banyak saham dan menjatuhkan posisi Bara. Saya tahu dari Kak Niel, bila kalian bertiga memiliki porsi saham yang sama."


"Lalu?" desak Friz ketika Kyra berhenti menjelaskan duduk permasalahannya.


"Bila anda dan Kak Niel bersatu untuk mendukung Bara, maka usaha Edy akan sia-sia. Itulah mengapa saya memohon." Kyra bangkit, ia mendekat ke kursi Friz dan meluruhkan tubuhnya di depan mertuanya itu. "Tolong, selamatkan Bara, Tuan."


Permohonan Kyra tak pelak membuat Friz tercengang. Terlebih, air mata mulai menetes satu persatu dari dua bola mata indah itu. Friz membuang muka.

__ADS_1


"Saya berjanji akan melakukan apapun asal anda mau membantu Bara." Kyra menangkupkan kedua tangannya penuh harap, menatap Friz dengan air mata berderai.


Mendengar sebuah kesempatan emas, Friz mengawasi lagi menantu polosnya itu.


"Apapun?" ulangnya dengan seringai menakutkan.


Kyra mengangguk tanpa keraguan sedikitpun. Ia akan melakukan apapunĀ  asal Bara tak lengser dari posisinya sebagai CEO di perusahaan.


"Baiklah. Aku akan membantu Bara dengan satu syarat." Friz melipat satu kakinya dengan tangan saling bersedekap. "Tinggalkan Bara. Maka aku akan pastikan dia akan tetap menjadi CEO hingga aku mati."


Air mata Kyra semakin tak terbendung mendengar kompensasi yang harus ia lakukan. Ia menunduk karena tak kuasa menahan beban di kepalanya yang terasa semakin memusingkan.


"Aku akan memikirkan bagaimana cara terbaik agar Bara membencimu secara alamiah. Bila kamu setuju, hubungi aku nanti malam di nomor ini." Friz melempar kartu namanya di hadapan Kyra dengan cepat.


Dengan tangan gemetar, Kyra meraih kertas kecil itu.


"Akan selalu ada pengorbanan untuk cinta, bukan cinta namanya bila tak mau berkorban untuk kebahagiaan salah satu diantara kalian."


Perkataan Daniel kembali terngiang di telinga Kyra.


"Baik, Tuan. Saya akan melakukan apapun yang anda minta."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2