I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Jangan Pergi!


__ADS_3

Semuanya berlangsung cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik keadaan tiba-tiba berubah 180 derajat. Begitu pintu dibuka, sebuah suara tembakan membahana dan peluru kecil melesat menembus dada Bara yang lebih dulu masuk ke dalam kamar hotel.


Darah segar menyembur dan menyiprati wajah Kyra yang berdiri tepat di sampingnya. Tubuh kekar itu membeku seketika, rasa panas dan sakit yang menembus dada sebelah atas membuatnya tiba-tiba kesulitan untuk bernapas.


Untuk sepersekian detik, Kyra tersentak dan terpaku mendapati suaminya tertembak tepat di depan matanya. Edy yang berdiri cukup jauh terlihat tersenyum senang melihat tubuh sepupunya perlahan luruh.


Carlos dan para anak buahnya yang berdiri di belakang mereka sontak meringsek masuk dan menemukan Edy mengacungkan pistol di tengah ruangan. Karena situasi sudah genting dan membahayakan, Carlos menembakkan peluru tepat di kepala musuh Tuannya.


Ketika tubuh Bara perlahan roboh sembari memegangi dadanya, disaat itulah Kyra baru tersadar dari rasa syoknya.


"Nggak! Bara, jangan begini! Ayo, kita ke Rumah Sakit!" jerit Kyra histeris sembari menahan tubuh suaminya yang perlahan-lahan mulai roboh.


Carlos menoleh setelah memastikan Edy tewas, ia bergegas menghampiri Tuannya dan memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil mereka sementara yang lain berjaga di TKP sambil menunggu polisi datang.


Dengan tangan yang berlumuran darah, Bara mengusap darah yang membasahi pipi istrinya. Ia membuat darah itu semakin membekas lebar di wajah yang sudah basah oleh air mata. Rasa sakit dan panas di dadanya semakin perih, setiap kali menarik napas rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.


"Ja-ngan nang-is!" pinta Bara dengan air mata berlinang.

__ADS_1


Ia merasa waktunya semakin dekat, kematian seolah sudah di depan mata. Namun, yang membuatnya takut bukanlah kematian, akan tetapi karena membayangkan Kyra akan sendirian setelah ia meninggal. Siapa yang akan menjaga dan melindunginya bila Bara pergi? Siapa yang akan menemani istrinya itu bila ia kesepian? Bahkan Bara belum meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua.


"Carlos! Cepat bawa suamiku ke Rumah Sakit! Kenapa lama sekali!" teriak Kyra kesal karena sejak tadi Carlos hanya berjalan mondar-mandir ke sana ke mari.


"Baik, Nona. Kami hanya perlu memastikan Edy sudah tewas."


"Persetan dengan iblis itu! Selamatkan suamiku!!" jerit Kyra histeris karena genggaman Bara mulai lemah di tangannya.


Salah seorang Bodyguard kemudian membebat luka di dada Bara. Bersama salah seorang temannya, mereka kemudian mengangkat tubuh yang semakin lemah itu dan membawanya turun melalui emergency lift.


Di Rumah Sakit.


Di dalam ruangan itu, Bara sedang ditangani dan dioperasi. Setiap detik yang berlalu terasa seperti jutaan tahun bagi Kyra yang masih betah menunggunya di luar. Bekas darah Bara masih menempel di bajunya, pun begitu Kyra membiarkan wajahnya masih lengket oleh darah suaminya.


Satu jam berlalu, Raymon dan Shakira yang dikabari bila Bara terluka pun akhirnya tiba di Rumah Sakit. Melihat keadaan kakaknya yang sangat depresi dan terus saja menangis membuat Raymon ikut terluka. Ia jadi teringat pada pertanyaannya pada sang kakak beberapa waktu lalu, kala Raymon bertanya apakah Kyra mencintai suaminya dan kakaknya itu hanya menjawab dengan senyuman. Kini Raymon paham sedalam apa cinta itu setelah melihat wanita di hadapannya itu begitu hancur.


"Mari kita bersihkan dulu wajahmu dari darah ini, Nak," bujuk Shakira sembari membimbing Kyra untuk berdiri.

__ADS_1


Dengan sekali gelengan kepala, Kyra menolak. "Darah ini yang sudah menyelamatkan nyawaku, Ma. Biarkan aku sedikit lebih lama lagi bersama darah ini. Jangan minta aku membersihkannya karena justru bekas darah ini yang membuatku tetap berdiri di depan kalian sekarang."


"Bara akan selamat, dia akan baik-baik saja! Jangan biarkan pikiran buruk menguasai pikiranmu." Shakira memegangi kedua pundak putrinya, memaksanya untuk kuat.


Namun, sekali lagi Kyra menggeleng. Melihat berapa banyaknya darah yang mengucur deras, juga betapa sakitnya Bara menahan perih di luka tembakan itu membuat hati Kyra hancur sehancur hancurnya. Mereka berdua baru saja bertemu, mengapa Tuhan begitu tega memisahkan lagi?


"Aku bahkan belum minta maaf karena sudah meninggalkannya tanpa pamit. Aku belum minta maaf karena aku telah lalai menjaga bayi kami, masih banyak yang ingin aku sampaikan padanya, Ma. Tapi kenapa Tuhan tega melakukan ini padaku!?" tangis Kyra pilu.


Tubuh Kakaknya yang gemetar menahan kepedihan membuat Raymon tak kuasa menahan sedih. Sambil membuang muka, ia menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja basah setelah mendengar raungan tangis memilukan itu. Selama berbulan-bulan tinggal bersama, ini adalah kali pertama Raymon melihat Kyra menangis.


"Bara pasti selamat. Bukankah dia sudah sejauh ini datang untukmu? Berarti dia sangat mencintaimu dan cinta itu akan membuatnya bertahan di dalam sana. Berdoalah. Simpan air matamu untuk memohon pada Tuhan dan mendoakan suamimu." Shakira memeluk putri satu-satunya itu dengan lembut.


Berada di pelukan hangat itu membuat air mata Kyra semakin menetes deras. Beberapa jam yang lalu, ia juga dipeluk oleh Bara. Merasakan wangi parfum yang selalu membuatnya bergairah diam-diam. Melihat senyum yang sempat menghilang berbulan-bulan, menggenggam jemari yang selalu memberinya kekuatan. Dalam pilu, Kyra menyatukan kedua tangannya penuh harap.


"Tuhan, tolong jangan bawa Baraku pergi. Selamatkan dia, Tuhan. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersamanya."


Brak.

__ADS_1


Lantunan doa Kyra mendadak terhenti ketika mendengar suara pintu ruang operasi di buka. Mereka bertiga sontak berdiri dan mengawasi  seorang dokter yang keluar dari sana.


...****************...


__ADS_2