I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Bertambah Usia, Bertambah Derita


__ADS_3

Bias sinar matahari yang menyusup melalui celah vitrase menerangi seluruh kamar dan membuat Bara merasa silau. Ia  berbalik sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa berat. Sisi ranjang yang kosong membuat Bara beringsut duduk dengan hati hampa. Apakah Kyra benar-benar pergi?


Pandangannya yang sempat kosong untuk beberapa saat, perlahan teralihkan ketika mendengar suara denting bel di pintu yang berbunyi berkali-kali. Sekilas, Bara mengawasi jam dinding di atas meja kerjanya. Jam 8 lewat 15 menit.


Dengan malas, akhirnya Bara menurunkan kakinya dari ranjang dan menarik bathrobe dari dalam lemari. Masih dengan mood yang belum membaik dari semalam, akhirnya Bara keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang melalui  door screen yang menempel di dinding. Daniel.


Tit.


Bara memencet tombol open dan pintu pun di dorong dari luar dengan cepat. Daniel yang semalaman tak bisa tidur dan tak bisa menghubungi nomor Bara juga Kyra, sangat khawatir pada keadaan adiknya itu. Akan tetapi, melihat penampilan Bara yang masih acak-acakan, bahkan masih bau keringat membuat Daniel urung menanyakan keadaan adiknya itu. Ia hanya mengawasi Bara dengan prihatin.


"Apa kamu tidak tahu semua orang mengkhawatirkanmu, huh!?" kecam Daniel kesal.


Bara menutup pintu dengan menggunakan kakinya dan berlalu pergi dari hadapan Daniel yang seolah siap untuk menelajanginya sekali lagi. Bara tak butuh diinterogasi, ia hanya butuh melampiaskan emosinya.


"Aku menghubungimu semalaman, tapi nomormu dan Kyra tidak ada yang aktif. Harusnya kalian--"


"Berhentilah mengoceh atau aku akan mengusirmu sekarang juga!" tukas Bara kesal sambil terus berlalu ke dapur.


Daniel menghela napasnya berat. Ia mengikuti langkah Bara hingga adiknya itu berhenti di dapur dan menuang air ke dalam gelas.


"Di mana Kyra?" tanya Daniel heran karena sejak tadi ia tak melihat keberadaan adik iparnya.


"Aku tidak tahu!"  Bara menyahut dengan acuh sebelum kemudian meneguk segelas air itu hingga tandas.

__ADS_1


"Apa maksudmu tidak tahu? Bukannya semalam kalian pulang bersama?"


"Dia pergi." Bara meletakkan gelas di tangannya dengan sedikit keras hingga gelas itu berdenting cukup nyaring.


Menyadari bila telah terjadi sesuatu pada rumah tangga adiknya, Daniel urung menghempaskan pantatnya ke sofa dan menghampiri Bara yang masih mematung di pantry.


"Kamu mengusirnya?" selidik Daniel tak percaya.


Namun, jawaban Bara hanyalah sebuah tatapan sinis yang seolah ingin menjelaskan betapa hatinya sangat terluka pasca kejadian semalam. Dan yang paling membuat perih adalah wanita penghancur itu ternyata istrinya sendiri.


"Bara, jelaskan apa yang telah kamu lakukan pada Kyra?"


"Aku hanya menuntut hakku sebagai suami, Niel! Berbulan-bulan aku menahan diri untuk tidak menyentuh Kyra karena dia tidak mau aku menyentuhnya. Tapi  ..." Suara Bara mendadak tercekat di kerongkongan, matanya mulai berkabut lagi. "Tapi dia melakukannya dengan Edy!"


"Bagaimana aku bisa menyangkal bila yang aku lihat berkata sebaliknya. Mereka berciuman, Niel! Di dalam rumahku! Rumah yang aku tinggali sejak aku masih bayi."


Tidak bisa, Bara tidak bisa berpura-pura baik- baik saja. Air matanya kembali luruh bersama rasa sakit yang sejak semalam menderanya.


"Tapi aku yakin Kyra tidak seperti itu, Bara. Dia sangat menyayangimu!" tampik Daniel berusaha menenangkan adiknya.


"Dia juga berkhianat seperti Valeria. Semua wanita sama saja! Pada akhirnya mereka akan berpaling ketika mereka bosan."


"Kyra tidak seperti itu--"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa yakin, Niel! Aku yang bersamanya 24 jam selama 4 bulan ini. Aku yang tidur dengannya setiap malam dan selalu menjadi orang pertama yang memeluknya setiap dia bersedih. Tapi apa yang aku dapatkan, huh? Bahkan untuk menyentuhnya saja aku takut, Niel. Aku takut!!" teriak Bara penuh emosi.


Mengingat Kyra selalu menolak keinginannya untuk bercinta telah melukai Bara begitu dalam. Dan kejadian bersama Edy semalam, seolah menyulut kobaran api di tumpukan jerami. Membakar habis semua rasa cinta di hati Bara hingga tak tersisa.


"Tapi dia mengandung anakmu, Bara. Bagaimana jika Kyra nekat lagi seperti dulu? Bagaimana jika dia--"


Belum sempat Daniel menyelesaikan perkataannya, dering ponselnya membuat perhatiannya terpecah. Hanya ada dua nomor yang ia simpan di ponsel itu, nomor Bara dan Kyra. Dan bisa dipastikan bila ponsel itu berdering, pastilah Kyra yang sedang menghubunginya.


"Halo!" sapa Daniel cepat ketika nama yang muncul di layar adalah nama seseorang yang sedang ia khawatirkan.


"Halo, apakah benar ini dengan Daniel?"


Deg. Daniel terpaku untuk beberapa saat. Ia mengawasi Bara yang sedang menyeka air matanya.


"Pemilik ponsel ini sedang mengalami kecelakaan. Kami menghubungi anda karena panggilan terakhir Nona ini adalah nomor anda, Pak."


"Di mana dia sekarang!? Bagaimana keadaannya!?" cecar Daniel panik.


Bara yang menyadari bila sedang terjadi sesuatu pada kakaknya, hanya mengawasinya dari jauh.


"Baik, saya akan segera ke sana!" Daniel lekas menutup sambungan telepon itu dan menghampiri Bara.


"Kyra kecelakaan, kondisinya kritis di Rumah Sakit!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2