I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Semua Akan Baik-Baik Saja.


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Kyra tertidur sejak sore tadi, ia membuka mata ketika tubuhnya terasa beku karena suhu AC yang sangat dingin. Ia tahu siapa yang telah menurunkan suhu ini, siapa lagi kalo bukan di kulit badak Bara yang selalu kegerahan!


Dengan malas, Kyra membuka mata dan menarik selimutnya hingga menutupi leher. Hampir saja ia kembali memejamkan mata sebelum kemudian matanya menangkap sosok Bara yang tengah duduk mengawasinya dengan wajah membiru dan penuh plester perban.


Kyra beringsut duduk dengan panik. Ia mengamati wajah babak belur itu dengan cemas.


"Kamu habis berantem?" tanya Kyra konyol karena tak mungkin wajah penuh lebam itu terbentuk karena salah memakai sunscreen.


"Aku salah minum obat." Bara menyahut malas.


Kyra mendelik. "Obat?"


"Ck!" decak Bara kesal. "Kamu pikir obat apa yang bisa membuat wajah tampanku jadi bengkak seperti ini, huh?! Aku akan tuntut pabriknya sampai bangkrut! Awww," rintih Bara ketika bibirnya masih terasa sakit bila ia terlalu banyak bicara.


Kyra menurunkan kakinya dari ranjang, dengan sigap Bara bangkit dan menahan lengan gadis itu untuk membantunya.


"Kamu mau ke mana?!" protes Bara karena Kyra terlihat buru-buru.


Kyra menghembuskan napasnya berat. Ia lantas menarik tangan Bara yang masih memegangi lengannya, memintanya untuk duduk di tepian ranjang di sebelah Kyra.


Tak ada pilihan lain, Bara pun menurut, ia menghempaskan tubuhnya di samping Kyra dan membalas tatapan menyelidik gadis itu padanya.


"Kenapa lihatinnya begitu? Aku tahu wajahku mirip gajah bengkak, tapi tahu kah kamu kalo menatap orang seperti itu sungguh tidak sopan!"


Kyra tersenyum mendengar perkataan Bara, ia mengangkat tangannya perlahan dan mengusap lebam membiru di pipi, pelipis dan bibir Bara dengan perasaan campur aduk. Apakah ini yang dimaksud mamanya Bara? Keadaan sulit inikah yang ia maksud?


Menyadari Kyra sedang mengkhawatirkan dirinya, Bara menarik wajahnya sedikit menjauh hingga membuat tangan Kyra menggantung di udara.

__ADS_1


"I'm oke. Ini hanya luka kecil. Don't worry!" ucap Bara berusaha menenangkan Kyra.


"Semalam lukamu nggak separah ini, Bara. Apakah ini gara-gara aku?"


"Dih, pede sekali kamu, Kyra Sada Batari! Memangnya siapa yang berani memukulku hanya karena aku membelamu! Tidak ada!"


Kyra menelisik ekspresi Bara yang mendadak diam. Memang tidak ada yang berani memukul Bara selain Roni, dan pukulan itu tak sampai membuat wajahnya babak belur begini. Orang yang sudah berani berkelahi dengannya pastilah orang yang posisinya lebih tinggi dari Bara atau paling tidak sejajar dengan dia.


"Sudahlah jangan terlalu mengkhawatirkanku! Aku tidak apa-apa, hanya luka seperti ini besok pasti sudah kempes!" Bara menggenggam tangan Kyra yang terkulai lemah. "Bagaimana kabarmu hari ini? Dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang. Apa kamu senang?“ timpal Bara berusaha menutupi rasa sedihnya.


Kyra mengangguk lemah. Ia menundukkan kepala mengawasi genggaman hangat tangan kekar itu. Tangan yang selalu memberikan apapun yang Kyra mau, yang dengan kuat menggendongnya ke Rumah Sakit, tangan yang ... Air mata Kyra menetes dan terjatuh tepat di punggung tangan Bara.


"Hei, kenapa malah nangis?“ desis Bara bingung. Ia bangkit dan berjongkok di hadapan Kyra.


"Kamu pasti sudah menghadapi hari yang berat karena aku. Maafkan aku, Bara." Tangis Kyra semakin pecah hingga membuat dadanya sesak oleh berbagai rasa.


"No, siapa yang bilang begitu, hm? Aku babak belur begini bukan karena kamu, Kyra. Percayalah." Bara menggenggam tangan Kyra lebih erat. Kali ini ia jujur, karena alasannya berkelahi dengan Edy bukan karena Kyra, tapi karena Edy menghina bayinya. "Berhentilah menangis, Kyra. Aku tidak mau bayi kita ikut merasakan kesedihanmu! Berhentilah menangis!" rutuk Bara berpura-pura kesal.


"Sepulang dari Rumah Sakit, aku akan menikahimu secara agama. Sambil lalu nanti kita persiapkan berkas untuk menikah secara negara."


"Aku nggak mau menikah sama kamu!" tolak Kyra cepat. Ia menatap Bara dengan tajam.


Seolah mendengar suara petir menggelegar, Bara terkesiap oleh perkataan Kyra.


"Apa maksud ucapanmu itu?!"


Kyra menarik tangannya dari genggaman Bara. Ia lantas mengusap air matanya kasar.

__ADS_1


"Cukup sampai di sini saja, Bara. Kita nggak harus melanjutkan semua omong kosong ini. Kamu punya kehidupan yang lebih baik seandainya tak menikah denganku. Jangan menukar segalanya dengan hal konyol seperti ini."


Bara tertegun, entah mengapa sakit di wajahnya tak sesakit perkataan Kyra barusan.


"Konyol katamu? Sejak kapan bertanggung jawab dengan perbuatan yang sudah kita lakukan dianggap konyol?!" sentak Bara tak terima dan tersinggung.


Kyra membuang muka, ia tak ingin berdebat lagi setelah hari berat yang seharian ini lalui.


"Kyra, kenapa kamu selalu menolak untuk aku nikahi? Apa kamu masih mengharapkan mantan kekasihmu itu, huh!?"


"Jangan bawa-bawa Keanu! Dia sudah mati." Kyra memotong dengan jengkel.


"Lalu apa sebenarnya masalahmu? Mengapa kamu terus saja berkata seolah kamu akan menghadapi semua sendirian!" desak Bara kehilangan kesabaran.


Secercah darah mengecap di bibirnya karena terlalu banyak membuka mulut, Bara mengusapnya dengan perlahan.


Melihat itu, air mata Kyra kembali turun tak terbendung. Ia tak sanggup melihat Bara menderita seperti ini. Pasti rasanya akan sangat menyakitkan bila dibuang oleh keluarga sendiri. Dan Kyra tidak mau Bara mengalaminya. Begini saja sudah membuat Kyra sangat sakit hati, apalagi bila nantinya mereka tetap memutuskan untuk menikah, keadaan pasti akan bertambah buruk untuk Bara yang terbiasa memiliki segalanya.


"Berhentilah menangis, aku mohon. Aku lebih suka kamu memarahiku daripada menangis seperti ini." Bara kembali menggenggam jemari Kyra dengan erat sementara tangannya yang lain mengusap air mata yang masih saja menetes bak air terjun.


"Aku janji semuanya akan baik-baik saja setelah kita menikah. Jangan pikirkan apapun, aku tidak mau anakku ikut merasakan kesedihanmu.  Berhentilah menangis, hm ..." Bara menangkup wajah mungil Kyra dengan kedua tangannya, memindai setiap perubahan ekspresi gadis yang saat ini mengandung anaknya itu seolah ingin membaca pikirannya.


"Aku takut, Bara," desis Kyra serak karena seharian ini ia terus saja menangis. "Aku takut kamu akan--"


"Jangan memikirkan yang belum terjadi. Saat ini kita fokus saja pada masa depan janin yang kamu kandung. Selebihnya biar menjadi urusanku." Bara mengatakan kalimat itu dengan penuh penekanan. Ia ingin Kyra melihat kesungguhan hatinya.


Meskipun Kyra mengangguk, namun dalam hatinya masih berkecamuk akan banyak hal. Perkataan mama Bara tadi siang selalu terngiang dan membuatnya tersiksa. Bila lebih banyak buruknya daripada kebaikannya, Kyra paham bagaimana ia harus memutuskan akhir dari semua ini. Ketika Bara lengah dan sudah tertidur, Kyra mulai berselancar di dunia maya. Jemari mungilnya mulai mengetik barisan kata di layar.

__ADS_1


[ Klinik aborsi di Jakarta]


...****************...


__ADS_2