
"Selamat datang, Tuan."
Para pelayanan membungkukkan badan ketika Bara tiba di mansion setelah seminggu ini ia tak pulang.
Friz dan Elena yang sedang bersantai usai bermain tenis, mendengar berita kedatangan Bara dari salah seorang pelayan. Mereka pun menunggu putra penerus Lazuardi di taman dekat kolam renang yang berbatasan dengan lapangan tenis private. Sambil menunggu Bara yang sedang berjalan dari ruang tamu menuju taman belakang, Friz meminta pelayanan untuk menyiapkan makan siang agar ia bisa menahan Bara lebih lama.
"Dia datang," bisik Elena ketika dari kejauhan sosok Bara muncul dan melangkah lebar menuju taman tempat Friz dan Elena bersantai.
Friz tak menyahut, ia hanya menatap wajah Bara yang sangat mirip dengan dirinya meskipun itu hanya sorot mata dan bibirnya. Selebihnya, Bara mewarisi wajah Sabrina, mendiang istrinya.
"Senang melihatmu datang, Nak! Tumben sekali kau rela meninggalkan kantormu di jam sibuk seperti ini?" tanya Friz begitu Bara sudah sangat dekat dan kemudian berdiri tegak di hadapan dua orang tuanya.
Bara mengusap cuping hidungnya yang mendadak gatal ketika melihat Elena yang tersenyum sangat manis padanya.
"Aku akan menikah nanti sore."
Wajah Friz dan Elena mendadak kaku, keduanya urung tersenyum dan saling pandang untuk beberapa detik.
"Dad tidak salah dengar. Aku akan menikahi Kyra nanti sore secara agama karena dia sedang mengandung anakku. Satu-satunya penerus Lazuardi." Bara menatap Friz dan Elena bergantian. "Tolong restui hubungan kami." Tanpa diduga, Bara meluruhkan tubuhnya ke lantai dan bersujud.
Tak ada pilihan lain, Bara harus mengalah demi mendapat restu. Ia tak ingin berakhir seperti Daniel, namun ia juga tak rela kehilangan Kyra dan anaknya. Bara berada di persimpangan dilema yang tak bisa ia pilih dengan mudah. Ada banyak resiko yang tak mungkin sanggup ia hadapi seandainya kehilangan salah satunya.
Melihat putranya rela bersujud demi mendapatkan restunya, Friz yang tadinya mulai terpancing emosi, mendadak tak bisa berkata-kata. Elena juga syok melihat sifat angkuh putra yang sudah ia rawat sejak balita itu tiba-tiba berubah drastis hanya demi wanita. Bara tak pernah seperti ini selama menjalin asmara dengan Valeria.
"Aku mohon, setidaknya beri kami kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami. Anak itu tidak berdosa, Dad. Aku dan Kyra-lah yang berdosa dan patut dihukum," ungkap Bara dengan hati yang terluka, mengingat usaha Kyra untuk aborsi agar Bara tak kehilangan jabatan dan orang tuanya, membuat hati Bara sangat sakit.
"Kenapa kamu sangat bersikeras untuk menikah dengan wanita itu? Apa istimewanya dia sampai kamu rela bersujud seperti ini dan mengabaikan egomu?" tanya Friz penasaran.
Kepala Bara yang tertunduk, perlahan terangkat dan menatap Friz dengan sendu.
__ADS_1
"Karena Kyra adalah gadis yang baik, dia sangat tulus dan bisa merubahku menjadi Bara yang lebih baik. Dia selalu rela mengabaikan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain." Setetes air mata meleleh dari sudut matanya namun Bara mengusapnya dengan cepat.
Sekali lagi, Elena dibuat terpana menyaksikan perubahan sikap Bara. Ia kehabisan kata-kata untuk menengahi, yang bisa ia lakukan hanya mengenggam tangan Friz agar mau berpikir ulang dengan keputusannya yang selalu mutlak dan sewenang-wenang.
"Kita sudah kehilangan Daniel, Honey. Aku rasa aku tidak akan sanggup bertahan seandainya kita juga kehilangan Bara," bujuk Elena.
Friz mengawasi Bara dan Elena sekilas, ia lantas berdiri dan menghampiri Bara yang masih bersujud di hadapannya.
"Baiklah, menikahlah dengannya. Karena kalian menikah hanya untuk bayi itu, maka setelah bayi itu lahir kalian harus berpisah." Usai mengucapkan putusan itu, Friz berlalu dari taman untuk kembali ke kamarnya.
Untuk beberapa saat, Bara terdiam dan berusaha mencerna perkataan Daddy-nya. Apakah itu berarti ia direstui?
"Tetaplah jalankan perusahaan, tidak ada yang bisa menghandle-nya sehebat kamu, Boy! Setidaknya Daddy sudah memberimu ijin untuk menikah, jangan lagi meminta lebih dan membuatnya membatalkan semua keputusannya." Elena bangkit dan menepuk pundak Bara dengan lembut, ia lantas menyusul Friz yang sudah masuk ke dalam mansion.
.
.
Bara menghembuskan napasnya setelah mengucapkan kalimat ijab qobul itu dalam sekali helaan.
Penghulu menoleh pada Morgan, Daniel dan Bu Meta yang menjadi saksi pernikahan.
"Bagaimana saksi ... sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Morgan dan Daniel menyahut bersamaan. Melihat wajah Bara yang pucat pasi membuat keduanya tak bisa menyembunyikan senyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah."
Semua orang yang ada di ruang tamu mengucap syukur sembari menadahkan tangan. Roni memeluk Bara dengan erat setelah penghulu menyatakan pernikahan mereka telah sah di mata agama. Ia menepuk bahu menantu yang kini akan menjaga putrinya itu dengan penuh haru untuk beberapa saat.
"Putriku adalah permata hati dan jantung napasku, Bara." Roni mengurai peluknya dan menatap menantu barunya dengan tajam."Yang pertama kali jatuh cinta padanya adalah aku, yang pertama kali mencium dan memeluknya adalah aku," timpalnya dengan mata berkaca-kaca.
Semua yang berada di sana mendadak hening dan mendengarkan perkataan Roni.
"Mulai detik ini, semua tugasku untuk menjaga Kyra sudah purna. Aku harap kamu akan menjadi suami yang akan menemaninya seumur hidupnya, membersamai Kyra dalam suka dan dukanya. Jangan sekalipun kamu melukai hati dan tubuhnya sedikitpun karena aku tidak akan ikhlas. Bila suatu hari nanti kamu sudah tak mencintai putriku lagi, jangan pernah beritahu dia, beritahukan itu lebih dulu padaku, aku akan membawanya pulang dengan sukarela karena aku tidak mau melihat putriku terluka."
"Ayah." Tangis Kyra pecah, ia bangkit dari samping Meta dan memeluk Roni dengan erat. "Aku tetap putri Ayah walaupun sudah menjadi istri Bara. Aku tetap putri kecil Ayah yang selalu nyaman dipeluk seperti ini."
Bara memperhatikan Kyra dan Roni yang sangat tulus saling mencintai dan saling bertangisan penuh haru. Seharian ini perasaan Bara mellow bukan main, suasana hatinya bak rollercoaster yang naik turun dengan drastis. Sudut matanya sudah basah sejak Roni memintanya menjaga Kyra tadi, dan melihat mereka kini berpelukan dengan sangat erat membuat Bara merindukan hal yang sama dari orang tuanya.
Daniel menepuk bahu adiknya dengan hangat. Setidaknya ia pernah berada di posisi seperti ini dan ia ingin Bara memiliki seseorang yang bisa menguatkannya. Tidak seperti dirinya yang sendirian kala itu.
"Terima kasih sudah datang, Niel." Bara memeluk kakaknya itu dengan erat.
"Sama-sama. Selamat menempuh hidup baru, Bara. Aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian," bisik Daniel lirih di telinga adiknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berpisah, Daniel dan Bara kembali bersatu di acara pernikahan yang sangat sederhana untuk seorang konglomerat seperti mereka.
"Pak, selamat, ya. Semoga anda bisa menjadi suami yang siaga!" ucap Morgan ikut terharu. Ia tahu benar bagaimana hubungan Bara dan Daniel dulu, jadi ketika melihat mereka saling berpelukan seperti sekarang, mau tak mau hati kecilnya ikut bergetar.
Bara mengurai pelukannya dari Daniel dan mengusap sudut matanya yang basah. Ia lantas merentangkan tangan pada Morgan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Terima kasih, Morgan. Untuk membantuku menjadi suami siaga, tolong setelah ini jangan pernah matikan ponselmu, di manapun kamu berada!"
...****************...
__ADS_1
...Selamat berpuasa untuk teman-teman yang menjalankan. Selamat juga untuk Bara dan Kyra 😅❤...