I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Tawa Bahagia Kyra


__ADS_3

"Kamu tahu wajahnya ketika melihatku berada di antara dewan komisaris dan pemilik saham? Benar-benar syok sampai bola matanya hampir melompat keluar! Hahaha  ..."


Tawa lepas Kyra ketika sedang menceritakan kejadian tadi siang selama meeting membuat Bara ikut tersenyum bahagia. Saat ini mereka berdua sedang duduk santai sofa sambil menonton televisi.


"Kamu menyukai moment itu?" tanya Bara.


Kyra mengangguk cepat. "Tentu saja! Aku puas banget ngelihat Keanu seperti itu. Tapi yang tadi itu masih permulaan, nanti ketika dia presentasi di meeting bulan depan, aku akan mempermalukan dia sampai dia nggak punya muka!" janjinya berapi-api.


Bara bergidik dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Huuu, takut!" sindirnya terkekeh.


“Oh ya, tadi aku juga berkenalan dengan teman baru. Namanya Annastasia, cantik ya namanya."


"Masih lebih cantik namamu lah!" tukas Bara cepat.


"Dih, tumben!" cibir Kyra sembari mencubit lengan Bara. "Dia juga sedang hamil sama sepertiku. Tapi sayang kami nggak bisa mengobrol banyak karena suaminya selalu mengecek keadaan Ann setiap jam!"


Bara mengamati perubahan ekspresi Kyra yang seolah cemburu pada perlakuan suami teman barunya.


"Baiklah, mulai besok aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan mengecek keadaanmu setiap 30 menit sekali!" janji Bara.


Wajah Kyra mendadak manyun, ia semakin mencubiti lengan Bara dengan gemas. "Memangnya aku balita! Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaanmu daripada sibuk mengurusiku."


"Memangnya kenapa? Toh aku perhatiannya sama istriku sendiri, bukan istri orang!" kelit Bara, menggoda Kyra selalu membuat mood dan rasa lelahnya membaik.


"Nggak mau. Awas saja kalo kamu telepon aku setiap 30 menit, aku buang ponsel pemberianmu!"


"Hmmm, dasar istri tidak tahu bersyukur! Punya suami perhatian malah ditolak mentah-mentah!" Bara menangkis tangan Kyra yang kerapkali melayangkan cubitan kecil di lengannya.


"Oh ya, apakah besok aku boleh main-main ke kantormu? Aku kangen sama temen-temenku, Bara."


Bara mengernyit. "Temen siapa lagi?"


"Bu Meta, Lena, Puji dan Dwi. Sudah lama sekali aku nggak ngobrol sama mereka. Boleh ya? Boleh dong! Ya ya ya ..." paksa Kyra tak menyerah.


Hembusan napas berat dan anggukan kepala Bara membuat Kyra tersenyum senang. "Terima kasih, Suamikuuu ..."


.


.


Karena Bara hanya mengijinkan Kyra bertemu teman-temannya di jam makan siang agar tak mengganggu pekerjaan mereka, alhasil Kyra membawakan banyak makanan untuk semua teman-teman satu ruangan agar mereka bisa makan bersama.


Bara yang menyaksikan hal itu hanya bisa mengelus dada, Kyra memang wanita yang baik, tapi terkadang baiknya tak ketulungan, sampai-sampai 30 orang yang berada di ruangan Produksi dan Desain  ditraktir makan siang tanpa terkecuali.

__ADS_1


"Anda tak makan siang dengan Nona Kyra di lantai 15, Pak?" tanya Morgan ketika Bara hanya mematung mengawasi istrinya dari CCTV di layar laptopnya.


"Tidak. Biarkan dia melepas rindu dengan teman-temannya seharian ini," tolak Bara sembari ikut tersenyum ketika melihat Kyra tertawa bersama Dwi dan Puji. "Kalo aku ke sana, mereka semua pasti akan sungkan dan aku jadi tidak bisa melihat Kyra tertawa selepas ini."


Morgan mengintip layar laptopnya itu dengan penasaran. Kyra memang memiliki senyum dan tawa yang sangat manis, bahkan mungkin akan membuat siapapun terhipnotis oleh senyuman itu. Morgan saja hampir tergelincir dan jatuh cinta, beruntung perkenalan mereka hanya usai sampai di situ.


Sementara Bara memantau gerak-gerik istrinya dari lantai 25, Kyra yang berada di lantai 15 justru sangat bahagia karena akhirnya bisa berjumpa lagi dengan teman-teman kerjanya.


"Bagaimana kondisi kandunganmu?" tanya Bu Meta sembari mengelus perut Kyra yang mirip seperti orang kekenyangan.


Kyra menunduk mengawasi perutnya sekilas. "Sehat. Dia sangat kuat dan nggak pernah rewel," jelasnya dengan berbinar.


"Syukurlah. Tapi  walau bagaimanapun, kamu harus tetap jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak beraktifitas!" sela Lena si paling bijak nomor 2 setelah Bu Meta.


Kyra mengangguk. "Iya, Kak Len. Jangan khawatir! Bara sangat overprotektif padaku. Sampai-sampai makan seblak pedas saja aku nggak diijinin, padahal kan aku doyan!"


"Lah ini kamu makan seblak pedas!" tukas Dwi melotot. "Awas, aku bilangin ke Pak Bara!" ancamnya.


Puji, Lena dan Bu Meta tertawa mendengar candaan Dwi. Hanya Kyra yang merengut dan memajukan bibirnya.


"Kalian main-mainlah ke rumah Bara. Aku kesepian banget di rumah sebesar itu sendirian." Kyra menutup mangkuk plastik wadah seblak itu dan lekas memasukkannya ke kresek sampah.


Dwi, Puji, Lena dan Bu Meta saling pandang untuk beberapa saat.


"Bukan takut, kami hanya sungkan saja. Apalagi rumah Pak Bara pasti sangat megah dan mewah, nanti kami jadi seperti upik abu di rumah itu," jelas Dwi sungkan.


"Ah, biasa saja, kok! Bara juga pasti akan senang kalo kalian main-main ke rumah."


"Nanti kapan-kapan biar aku yang ajak mereka ke sana. Mereka bertiga pasti masih sungkan." Bu Meta bangkit dan membawa kresek berisi sampah itu keluar untuk di buang di tempat sampah.


Tak terasa, satu jam yang mereka habiskan untuk mengobrol berlalu begitu cepat. Ketika jam istirahat berakhir, Kyra pun berpamitan pulang pada teman-temannya. Mereka berjanji akan datang mengunjungi Kyra ketika hari libur.


Saat Kyra hendak turun ke lobi dan sedang menunggu lift, ponsel yang ia letakkan di tas slingbag-nya berdering.


Hubby Baby is calling ...


Kyra tersenyum membaca barisan nama itu, Baralah yang memberi nama itu di ponselnya ketika menghadiahkan ponsel itu pada Kyra.


"Halo," sapa Kyra riang.


"Kamu mau ke mana?" tanya suara Bara di ujung sana.


Kyra memperhatikan kamera CCTV yang berada di pojok ruangan, Bara pasti mengintainya dari CCTV itu.

__ADS_1


"Mau pulang, lah. Kan aku cuma diberi ijin menemui teman-temanku."


"Ck! Lalu kamu melupakan suamimu begitu?" tandas Bara sengit. "Istri macam apa begitu."


Kyra terkekeh. "Ooh, jadi kamu mau aku ke ruanganmu juga?"


"Tidak usah. Kamu langsung naik ke loteng saja. Aku akan ke sana 5 menit lagi."


"Tapi aku sudah kenyang, Bara. Perutku sudah tidak muat!"


"Siapa yang menyuruhmu makan! Aku hanya memintamu ke loteng." Bara kembali memotong dengan ketus. "Cepatlah naik, itu liftnya sudah sampai!"


Tit.


Kyra menghembuskan napasnya berat. Dasar Tuan besar tukang paksa. Dan Kyra pun memasuki lift sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


28.


29.


30.


Tting.


"It's oke, Baby. Aku sedang memulai permainan kita. Jangan khawatir, Vale! Bara pasti akan hancur dengan sendirinya."


Deg.


Kyra menutup kembali pintu lift dengan secepat kilat. Jantungnya berdegub dengan sangat keras hingga seluruh tangannya gemetaran ketika memencet tombol close.


Siapa yang hendak menghancurkan Bara? Suara siapa itu tadi??


Tak ingin dipergoki oleh pria tadi, Kyra akhirnya urung turun di lantai 30. Ia memencet lantai 25 dan memilih untuk menemui Bara di ruangannya saja.


"Vale? Apakah yang dia maksud Valeria mantan kekasih Bara? Tapi siapa lelaki itu? Apakah Daniel?" Kyra bergumam sendiri dengan frustasi hingga tanpa sadar kini ia sudah tiba di lantai 25.


Tting.


Kyra hampir saja keluar ketika sosok yang sedang ia pikirkan ternyata malah berdiri kaget melihatnya.


"Kok kamu malah turun lagi?"


"Bara ... hiks."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2