
Empat hari pasca dirawat di Rumah Sakit, Bara sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya benar-benar fit. Dokter menyarankannya untuk tidak terlalu lelah selama seminggu ke depan. Namun, bukan Bara namanya bila menurut begitu saja pada perintah dokter. Keesokan hari setelah pulang dari Rumah Sakit, ia langsung ngantor seperti biasa, akan tetapi kali ini ada Daniel yang membantunya membereskan beberapa pekerjaan sehingga Bara tak perlu memforsir tenaga dan pikirannya.
"Coba dari dulu kamu mau membantuku seperti ini, Niel. Aku tidak perlu mempekerjakan Morgan selama 24 jam penuh." Bara melirik Sekretarisnya yang merapikan berkas-berkas di meja Bara yang sudah ditandatangani.
Untuk sejenak, Morgan menghentikan aktivitasnya dan mengawasi Bara yang sedang mengobrol santai dengan Daniel di sofa. Memang benar sih, pekerjaan Morgan sedikit lebih ringan setelah ada Daniel yang membantunya. Setidaknya Daniel tak serewel Bara yang manja, bahkan untuk mengecek kontrak saja ia tak mau membacanya sendiri. Morgan lah yang harus membaca isi kontrak itu sebelum Bara menandatanganinya. Benar-benar tidak efisien dan merepotkan.
"Harusnya kamu bersyukur memiliki Morgan. Dia sangat loyal dan teliti," puji Daniel ikut melirik Morgan yang jadi salah tingkah sendiri.
Bara mendengus. "Tapi dia menyebalkan, selalu mencari muka di depan Kyra. Memangnya siapa yang menggajinya? Dia sangat pro pada Kyra daripada aku!"
"Itu karena pemikiran Nona Kyra lebih logis, Pak. Dia juga perhatian!"
"Tuh, kan! Benar aku bilang! Dia selalu begitu." Bara menunjuk Morgan dengan wajah kesal.
Daniel tertawa menyaksikan tingkah Boss dan Sekretaris itu. Entahlah, belakangan ini dia jadi lebih sering tertawa. Bara pun sejak menikah dengan Kyra, jauh lebih bersahabat dibanding dulu. Getaran di ponselnya membuat tawa Daniel terhenti, ia merogoh ponsel di saku kemejanya dan mengernyit ketika melihat sebuah pesan yang masuk. Pesan dari Kyra.
[Kak Niel, aku mendapatkan alamat Edy. Bisakah kamu mengantarku untuk memastikan bila alamat ini benar-benar rumahnya?]
"Pesan dari siapa!?" selidik Bara kepo karena mimik wajah Daniel berubah ketika membaca pesan itu.
Dengan gesit, Daniel memasukkan kembali ponselnya ke saku kemejanya.
"Bukan dari siapa-siapa. Btw, apakah tugasku sudah selesai?"
Morgan dan Bara saling berpandangan untuk beberapa detik.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di bagian produksi. Bila butuh bantuanku lagi, telepon saja aku, oke?" Daniel bangkit tanpa menunggu Bara menyahuti perkataannya.
Satu jam kemudian, di mobil Daniel yang sangat jarang ia kendarai. Kyra berulang kali membaca alamat yang dikirim oleh Annastasia tadi pagi. Menurut informasi yang Kyra dapatkan dari teman baiknya itu, Edy pernah mengajak suami Ann untuk bertemu dan mengobrol empat mata di kediamannya. Dan alamat yang sedang mereka tuju saat ini adalah alamat yang diberi oleh Edy pada suami Ann.
__ADS_1
"Kak Niel keren juga kalo lagi nyetir begini," puji Kyra memecah keheningan diantara mereka.
Daniel menoleh sekilas, ia ingat betul dulu Clara juga pernah mengatakan hal yang sama ketika pertama kali menjemput mendiang istrinya.
"Apakah itu berarti Bara tidak keren?" canda Daniel.
"Bara selalu keren menurut dirinya sendiri." Kyra terkekeh mengingat kepedean suaminya yang diatas rata-rata. "Tapi aku sangat mengagumi dan menyayanginya."
"Ehem! Sepertinya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta nih!" ledek Niel tertawa.
Wajah Kyra mendadak merona, ia membuang muka dan mengawasi pemandangan jalanan di luar jendela.
"Menurut Kak Niel, seperti apa rasanya cinta?"
"Cinta?" Daniel menolehi Kyra yang mendadak sendu. "Kenapa malah bertanya kepadaku, aku pikir kalian lebih ahli."
Kyra menggeleng. "Aku dan Bara sama-sama pernah tersakiti karena dikhianati. Tanpa kami sadari, kami membangun benteng kokoh tak kasat mata pasca kegagalan itu. Tapi herannya, diantara benteng itu seolah ada pintu yang membuat kami selalu terhubung satu sama lain."
"Kalo Kak Niel pilih yang mana?" tukas Kyra kepo.
Hening. Untuk beberapa saat Daniel hanya menarik dan menghembuskan napasnya untuk berelaksasi.
"Aku memilih yang pertama. Karena bagiku, kamu tidak benar-benar mencintai pasanganmu, sebelum kamu berkorban untuk kebahagiaannya."
Mendengar perkataan Daniel membuat Kyra seketika teringat cerita Bara sebulan yang lalu. Daniel sudah mengorbankan banyak hal untuk mendiang istrinya.
"Apa Kak Niel masih mencintai mendiang istri?"
Daniel tersenyum sekilas, tatapannya lurus ke depan namun kosong.
__ADS_1
"Selamanya tidak ada yang bisa menggantikan posisi Clara di hatiku. Andai harus mengulang lagi waktu, aku tetap akan memilihnya meskipun aku harus mengorbankan banyak hal."
Giliran Kyra yang menatap kakak iparnya itu dengan penuh rasa haru. Betapa Daniel sangat tulus mencintai mendiang istrinya meskipun sosoknya sudah tak ada di dunia.
"Betewe, sebentar lagi kita sampai. Apa kamu yakin arahnya sudah benar?" tanya Daniel sembari menunjuk ponsel Kyra yang memperlihatkan Map menuju rumah Edy.
Kyra memperhatikan ponselnya sekali lagi. "Betul kok. Tapi kenapa daerah sini sepi sekali, ya?" desisnya sembari memperhatikan kanan kiri yang menghamparkan pepohonan tinggi nan suram.
"Mungkin Edy memang berniat untuk menghilangkan jejak dengan membeli rumah di daerah sini. Aku saja baru tahu kalo dia punya rumah." Daniel ikut mengawasi sekelilingnya yang sepi.
Tak berapa lama, mobil Daniel berhenti di seberang sebuah rumah dua lantai yang cukup besar dengan pagar tertutup yang tinggi.
"Ini rumahnya?" tanya Daniel pada Kyra.
"Iya, ini. Tapi bagaimana caranya kita memastikan? Apakah aku harus turun?" Kyra menolehi Daniel.
"Jangan. Berbahaya kalo kamu turun, apalagi kamu hamil. Biar kita tunggu saja sampai ada yang keluar."
"Kalo nggak ada yang keluar? Terus gimana?"
"Ssst ... Ada yang datang!" Daniel meminta Kyra menunduk karena di belakang mobil mereka ada mobil lain yang sedang mendekat.
Dengan jantung berdebar, Kyra segera menenggelamkan kepalanya di bawah dasboard. Ia sempat melihat mobil sedan merah itu berhenti di depan pagar lantas seorang lelaki keluar.
"Kak Niel, apakah dia Edy?" bisik Kyra lirih.
Daniel yang sejak tadi menunduk, jadi penasaran untuk mengintip. Dan benar saja, lelaki yang sedang memencet kode di pintu pagar itu memanglah sepupunya.
"Iya, dia Edy!"
__ADS_1
...****************...