
Jadwal yang padat dan jam istirahat yang tak tentu membuat Bara akhirnya tumbang. Siang itu, Kyra sedang kursus memasak ketika Bara menelepon dan memintanya untuk segera pulang. Setelah meminta ijin pada chef tutor, Kyra bergegas pulang dijemput oleh Morgan.
Sesampai di Penthouse, Kyra menemukan suaminya sudah meringkuk di bawah selimut tebal dengan wajah pucat. Panik karena Bara tak pernah sekalipun sakit sebelumnya, Kyra meminta Morgan untuk membawa Bara ke Rumah Sakit.
"Aku tidak mau ke Rumah Sakit. Mending panggil Dokter Clarisa saja, Morgan!" keukeh Bara sembari menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Tapi kamu demam, aku takut nanti malah tambah parah kalo nggak segera di--"
"Dia takut jarum suntik, Nona," tandas Morgan menengahi.
Bara sontak menyibak selimutnya dan menatap Morgan dengan sinis. "Enak saja! Aku sudah berani dengan jarum suntik!" gerutunya kesal karena Morgan sudah membuka aibnya di depan Kyra.
"Jadi bagaimana? Kalo kamu sudah berani berarti kita ke Rumah Sakit sekarang!"
"Tunggu tunggu tunggu!! Coba kamu telepon Dokter Clarisa dulu, Morgan!" teriak Bara panik, ia beringsut duduk meskipun rasa pening masih mengganyang kepalanya.
Melihat wajah penuh ketakutan itu, Kyra hampir saja tertawa diantara rasa cemas yang menderanya. Bara terlihat sangat trauma pada jarum suntik. Tubuh besar dan kekar itu ternyata mengidap Trypanophobia atau phobia pada jarum suntik.
"Cepat telepon!" perintah Bara pada Morgan yang hanya diam mematung.
"Baik." Morgan merogoh ponsel di saku jas-nya dan segera menghubungi nomor tujuan. Ia menjauh dan nampak berbincang dengan serius selama beberapa detik.
Tak lama, Sekretaris andalan Bara itu kembali mendekat ke ranjang Boss-nya.
"Dokter Clarisa akan segera datang, Pak."
__ADS_1
"Nah bagus!" puji Bara cepat sambil mengacungkan dua jempolnya dan kembali merebahkan diri di bantalnya yang empuk.
Kyra memperhatikan interaksi majikan dan sekretaris itu sambil geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, kalo begitu aku bikinkan teh panas dulu sebentar. Morgan, kamu mau minum es atau minuman hangat?" tawar Kyra sambil meletakkan tas-nya.
"Es sepertinya cukup segar diminum di siang yang panas terik ini, Nona."
"Hei, jangan manja! Bikin sendiri sana, enak saja kamu memerintah istriku!" protes Bara tak terima karena Morgan ikut-ikutan merajuk pada istrinya.
"Sudah diam! Tidurlah, katanya tadi di telepon kamu pusing sampe nggak bisa buka mata. Ini malah masih bisa marah-marah!" Kyra beringsut keluar dari kamar dengan acuh.
"Pfff." Morgan menutup bibirnya secara reflek karena Bara kembali di omeli oleh Kyra. Si Harimau jantan ternyata kalah telak oleh amukan macan betina.
Tak sampai lama menunggu, Dokter Clarisa yang menjadi Dokter pribadi keluarga Lazuardi pun tiba di Penthouse. Setelah memeriksa kondisi Bara yang demam dan menunjukkan gejala bapil, Dokter senior yang masih cantik diusianya yang tak lagi muda itu lantas memberi beberapa obat-obatan untuk diminum.
Bara yang masih meringkuk di bawah selimut, mati-matian menolak ketika Dokter Clarisa hendak menyuntikkan obat. Ia bersikeras meminta obat oral daripada kulitnya harus ditusuk jarum. Meski Kyra membujuknya dengan 1001 rayuan, Bara tetap keukeh menolak suntikan itu.
"Terima kasih, Dokter," ucap Kyra sembari menerima obat itu dan memeriksanya satu per satu.
"Di situ sudah ada keterangan harus diminum berapa kapsul per hari. Nantinya obat itu akan habis bila diminum rutin selama 3 hari." Dokter Clarisa membereskan peralatannya dan bangkit dari sofa. "Saya permisi dulu. Semoga Bara lekas sembuh!"
"Biar saya antar, Dokter," tawar Morgan sambil mengikuti langkah Dokter itu setelah usai bersalaman dengan Kyra.
Begitu Dokter Clarisa pergi, Kyra masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Bara. Tadi ia sudah menyuapi suaminya itu makan siang, jadi baiknya obat ini harus segera diminum agar kondisi Bara segera pulih. Namun, sesampainya di kamar, ternyata Bara sudah tidur dengan sangat lelap. Kyra tak tega membangunkannya dan memilih untuk membiarkan Bara istirahat saja.
__ADS_1
"Apakah Pak Bara sudah meminum obatnya?" tanya Morgan begitu melihat Kyra keluar dari kamar.
Kyra menggeleng lemah. "Dia tidur. Sepertinya dia memang butuh tidur untuk memulihkan kesehatannya. Beberapa malam ini aku perhatikan dia selalu lembur di depan laptop sampai dinihari. Apa di kantor sedang ada masalah hingga Bara begitu ngoyo bekerja?" berondong Kyra sambil menghempaskan pantatnya di sofa.
Morgan berpikir sejenak. Ia tak merasa sedang banyak pekerjaan di kantor, pun begitu bila ada pekerjaan ekstra pastinya Morgan lah orang yang paling sibuk dibanding Bara yang hanya tinggal meng-ACC atau mengoreksi beberapa bagian yang sudah fix dalam kontrak.
"Sepertinya memang Pak Bara sedang menyiapkan project baru, Nona." Morgan terpaksa berdusta karena ia benar-benar tak paham apa yang dikerjakan Bara hingga dinihari.
Kyra mengernyit. "Project baru?" ulangnya heran. "Atau bisnis baru?"
"Mungkin dua-duanya," tukas Morgan tak mau ambil resiko.
"Ahh, aku pusing memikirkan banyak hal secara bersamaan seperti ini. Mulai besok, bantulah Bara menyelesaikan apapun pekerjaannya, Morgan. Aku nggak mau dia sakit lagi seperti sekarang." Kyra bangkit dari sofa dan berjalan pelan menuju lemari pendingin. Sejak kandungannya membesar, ia jadi suka minum air es.
"Baik, Nona," sahut Morgan patuh.
"Kamu mau es?" Kyra menolehi Morgan yang masih duduk anteng di sofa. "Atau mau menemaniku makan rujak buah? Aku pengin sekali makan yang seger-seger, Morgan!"
Merasa takut untuk menolak, akhirnya Morgan kembali mengangguk meski ia tak begitu suka makan makanan pedas.
"Baiklah, kalo begitu kamu bisa membeli beberapa macam buah di supermarket lantai bawah, sementara aku akan membuat bumbu kacang dengan ekstra cabe!"
Wajah Morgan sontak memucat mendengar kata cabe, apalagi Kyra menambahinya dengan kata 'ekstra'.
"Baik, Nona. Saya beli buahnya dulu."
__ADS_1
...****************...