
Hampir satu jam perjalanan menggunakan privat jet, nyatanya terasa seperti seratus tahun bagi Bara yang sedang kalut dan terburu-buru. Meskipun sedikit lebih cepat daripada pesawat komersial, nyatanya tak membuat suasana hati Bara menjadi lebih tenang.
Dia sudah memerintahkan Morgan untuk menyewa jasa Bodyguard untuk mengawal dan membawa Kyra ke tempat yang aman. Entah bagaimana kelanjutannya karena ponsel Bara tak aktif sejak ia naik ke atas pesawat satu jam yang lalu.
Begitu landing, ia segera menuju hotel yang sudah dipesan dan berniat menunggu Kyra di sana. Namun, rupanya sang istri sudah lebih dulu sampai dengan aman di tempat itu.
"Kami mohon maaf, Tuan. Miss Kyra sangat berisik dan beringas. Jadi untuk menenangkannya, saya menyemprotkan obat penenang dosis ringan." Carlo, sang Leader para Bodyguard itu membungkuk meminta maaf atas tindakan yang ia lakukan pada istri majikan yang menggunakan jasanya.
Bara memperhatikan tubuh molek yang sedang terpejam itu dengan lega. "Tidak apa, Carlo. Terima kasih sudah mengamankan istriku. Untuk tugas kalian berikutnya, tolong tetap berjaga di sekitar kami. Polisi rupanya kehilangan jejak Edy di bandara."
"Siap, Tuan. Serahkan semuanya pada kami!"
Usai memastikan tempat Tuannya aman, Carlo pamit undur diri dan berjaga di luar.
Sementara itu, setelah memastikan pintu benar-benar terkunci, Bara bergegas menghampiri ranjang berukuran besar itu. Ia tak mengindahkan rasa perih diperutnya yang mulai memberi sinyal bila ia sedang kelaparan. Bara memilih untuk mengamati wajah cantik istri yang sangat ia rindukan.
Bulu mata lentiknya, hidung mungilnya, bibir tipis yang sangat menggoda imannya. Ahh, Kyra sangat sempurna di mata lelaki brengsek macam Bara. Satu-satunya wanita yang berhasil menaklukan keangkuhan dan traumanya akan cinta.
__ADS_1
Sambil menikmati paras yang semakin cantik itu, Bara merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Ia memperhatikan setiap tarikan dan hembusan napas itu dengan perasaan syukur, bisa sedekat ini dengan Kyra adalah anugerah yang tak ia sangka. Padahal tadinya, rencana untuk menemui istrinya masih bulan depan.
Gerakan lemah dan rintihan lirih membuat tangan Bara yang hendak menyentuh bibir Kyra, mendadak melayang di udara. Sebelum wanita pujaannya membuka mata, ia lebih dulu menarik tangannya dan beringsut duduk.
Suasana yang hening dan aroma wangi yang sangat khas membuat Kyra mencoba membuka matanya dengan sekuat tenaga. Para pria sialan itu ternyata membiusnya hingga teler. Dan oh, kesadaran Kyra seketika kembali utuh tatkala ia teringat momen kala para pria itu menculiknya.
Ruangan yang sangat apik dengan interior mewah membuat Kyra mengernyit heran. Ia masih tak sadar bila seorang lelaki yang diam-diam ia rindukan setiap malam, sedang memandangnya di sebelah ranjang. Dengan kepala yang masih terasa berat, Kyra memijat keningnya dan beringsut duduk.
"Di mana ini?" racau Kyra lirih sembari sesekali memejamkan matanya yang masih terasa berat untuk tetap terbuka.
Deg. Suara itu!?
Kyra menoleh cepat ke sisi kiri tubuhnya dan mendelik syok ketika seraut wajah tampan sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"B-Bara?" gumam Kyra masih tak percaya dengan penglihatannya.
Pengaruh obat bius tadi sepertinya mempengaruhi alam bawah sadarnya. Ia memang sangat merindukan Bara, tapi untuk apa Bara menculiknya?
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Bara mendekat ke tubuh istrinya yang masih mematung syok dan meraihnya ke dalam dekapan. Keduanya kini menyatu dalam pelukan.
Aroma wangi yang tadi menyadarkan Kyra dari pingsannya adalah aroma parfum Bara yang kini terendus sangat jelas di indra penciumannya. Ya benar, Kyra tidak sedang bermimpi. Tubuh yang kini lebih kurus ini tengah memeluknya dengan erat dan sangat hangat.
"I miss you, Ky," bisik Bara lirih sembari tak melepas pelukan mereka. "Maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Maaf karena aku baru datang sekarang. Aku minta maaf ..."
Suara berat yang selalu ingin Kyra dengarkan setiap malam sebelum tidur itu tak pelak membuat air matanya menetes. Setelah semua momen menyakitkan dan kehilangan, bisa berangkulan seperti ini entah mengapa membuat Kyra menjadi lemah kembali. Apakah karena sejak lama ia butuh dipeluk oleh Bara? Ia butuh dikuatkan dan ditenangkan?
Merasakan basah di bagian bahunya membuat Bara mengurai pelukan mereka. Air mata yang membasahi pipi istri kesayangannya tak pelak membuat Bara kembali merasa bersalah.
"Jangan menangis. Aku di sini sekarang. Aku berjanji kita akan bersama lagi seperti dulu. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, Ky." Bara menyeka air mata itu dengan jemarinya, ia benci melihat Kyra menangis.
"I'm sorry. Semoga aku belum terlambat untuk menjemputmu pulang."
"Pulang?" tukas Kyra cepat. Ia menatap netra coklat milik Bara dengan tajam. "Aku nggak mau pulang, Bara!"
...****************...
__ADS_1