
Semua masih berjalan dengan biasa saja, Bara berpamitan ke kantor setelah ia mandi dan sarapan seadanya. Morgan hanya membelikan roti, beberapa selai dan susu kemasan untuk mengganjal perut Boss-nya.
"Nanti siang setelah Dokter visit, Morgan akan menjemputmu dan Om Roni." Bara merapikan dasinya sambil berkaca di cermin kamar mandi.
"Iya, baik," sahut Kyra singkat sembari menyelipkan ponselnya di bawah bantal.
"Aku berangkat. Nanti sepulang dari kantor aku akan ke rumahmu."
"Kalo kamu capek mending istirahat dulu, Bara. Beberapa hari di sini, kamu pasti nggak bisa tidur dengan nyenyak. Kamu bisa menjengukku besok."
"Enak saja!" tukas Bara cepat. "Aku tidak mau jauh-jauh dari anakku," lanjutnya sumbang sebelum kemudian mendekat ke ranjang Kyra dan mengulurkan tangannya ke perut wanita itu.
Untuk beberapa detik, Bara membelai perut yang masih rata itu dengan penuh kasih. "Daddy berangkat, ya! Sampai jumpa nanti sore," pamitnya seraya memberi kiss bye pada perut itu.
Kyra yang menyaksikan tingkah konyol Bara hanya tersenyum, namun sedetik kemudian senyuman itu lenyap ketika Bara mencium keningnya secara kilat.
"Bye! Jangan terlalu banyak bergerak dan jangan terlalu capek!" perintah Bara tegas sebelum kemudian ia beringsut keluar dari kamar.
Tangan mungil Kyra mengusap bekas ciuman Bara di keningnya dengan jantung berdebar. Apa-apaan barusan itu! Bara sudah berani bertingkah selayaknya suami betulan.
Setelah memastikan Bara benar-benar pergi, Kyra mengusap perutnya dengan perasaan campur aduk.
"Kita berangkat sekarang, yuk!" ajaknya lirih sebelum kemudian mencabut jarum infus yang menancap di venanya hingga darah segar akhirnya mengucur cukup deras.
Lekas Kyra menarik beberapa lembar tisu untuk menahan darah itu dan turun dari ranjang. Ia harus segera pergi sebelum ayahnya datang!
Satu jam kemudian. Roni yang baru saja tiba di kamar rawat inap Kyra, tak mengetahui bila putrinya telah kabur. Roni mengira Kyra sedang diperiksa di ruangan lain karena ternyata jarum infusnya sudah di lepas.
Tok tok tok.
__ADS_1
Roni menoleh cepat ke arah pintu. Seorang Suster datang sembari membawa nampan kecil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
"Pasien Kyra di mana, Pak?" tanyanya sopan.
Roni terhenyak. "Loh, bukannya dia sedang diperiksa di ruangan lain, Sus? Tadi pas saya ke sini, dia sudah nggak ada!" jelasnya mulai panik.
Suster itu mengerutkan keningnya dengan bingung. "Ini saya baru ke sini untuk melepas jarum infusnya, Pak," jelasnya.
Perasaan Roni mulai buruk, ia lekas merogoh ponselnya di saku celana dan menghubungi nomor Bara.
Di tempat berbeda. Demi profesionalitas pekerjaan, Bara tetap menemui beberapa klien yang sudah membuat janji untuk bertemu dengannya. Hanya saja, agar tak menimbulkan kehebohan, Bara menutupi memar di pipi dan bibirnya dengan menggunakan masker wajah. Ia tak ingin rumor buruk semakin berkembang tak jelas di luaran sana.
Saat itu, Bara sedang mengobrol serius dengan kliennya dari Singapura, ketika Morgan tiba-tiba mendekat ke kursinya dan membisikkan sesuatu yang membuat dunia Bara runtuh seketika.
"Nona Kyra menghilang, Pak."
"Any problem, Mr Bara?" sang klien yang menelisik perubahan sorot mata Bara mulai tak nyaman.
Bara menggeleng. "No, I'm sorry, Mr Scott. Can we continue our negotiation meetings this evening?" pintanya memohon.
Klien itu memperhatikan jam tangannya. "No worries, I will wait until this evening."
Bara mengangguk lega. "Thanks, Mr Scott!"
Di dalam mobil yang sedang membawanya tanpa tujuan, Morgan sedang mencoba melacak posisi Kyra melalui nomor ponselnya. Sementara itu di kursi belakang, Bara mencoba menghubungi nomor Kyra puluhan kali namun tak sekalipun di angkat.
"Brengsekk! Awas saja kalo dia benar-benar berniat menggugurkan bayiku. Dia harus membayar mahal untuk gantinya!" Bara meninju kursi Pak Tino yang sedang fokus menyetir hingga membuat lelaki tua itu melonjak kaget.
Morgan melirik Pak Tino dengan prihatin. Ia tahu bagaimana rasanya dikejutkan oleh tingkah Bara yang meledak-ledak bila sedang emosi.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menemukan posisinya, Morgan!?" tatapan tajam Bara beralih pada Sekretarisnya yang duduk di depan.
"B-belum, Pak. Tim cyber masih melacak."
"Suruh mereka cepat! Aku akan membayar 10 kali lipat asal mereka melakukannya dengan cepat!" titah Bara tanpa berpikir panjang.
Morgan mencoba untuk kembali menghubungi tim cyber langganannya namun sebuah pesan tiba-tiba masuk sebelum ia sempat menekan tombol call.
"Pak, posisi Nona Kyra sudah terlacak."
Bara beringsut maju dan merampas ponsel Morgan dengan gesit. Sebuah gambar titik koordinat yang tak jelas gambarannya membuat Bara mengenyit bingung.
"Apa ini, Morgan?!" keluhnya semakin kesal karena tak paham bahasa map.
"Itu tempat Nona Kyra sekarang berada. Sepertinya sebuah klinik, Pak."
"Klinik?" Bara memotong cepat. "Untuk apa Kyra pergi ke klinik, bukannya dia baru pulang dari Rumah Sakit!?"
"Sepertinya itu klinik ilegal, Pak. Jadi bisa Anda tebak, apa tujuan Nona Kyra ke sana," jelas Morgan dengan sangat hati-hati dalam memilih kata-kata.
Darah Bara kembali mendidih, bola matanya memerah menahan amarah yang siap untuk meluap kapan saja.
"Cepat ke klinik itu, Pak Tino!" perintah Bara tanpa mengulur waktu.
Jemari Bara mulai mengetik pesan di layar ponselnya. Sambil mengetik pesan itu, berkali-kali Bara menghembuskan napasnya dengan kasar.
[Kalau sampai kamu menggugurkan anakku. Aku bersumpah akan membuat puluhan anak di rahimmu! Aku tidak main-main, Kyra. Pergi dari klinik itu sekarang atau aku akan menghamilimu lagi secara paksa!]
...****************...
__ADS_1