
Akibat menahan amarah yang sudah dua hari ini ia tahan habis-habisan, Bara merasa sedikit berat di kepala bagian kanan dan dada sebelah kiri. Mengingat saudaranya memiliki penyakit turunan dari mendiang mama mereka, entah mengapa Bara jadi khawatir bila ia juga memiliki problem kesehatan yang sama.
Bara mengawasi jam dinding di atas televisi, jam 20.15 malam. Kyra masih belum juga pulang padahal meeting itu sudah selesai sejak jam 12 siang tadi. Berdasarkan hasil penelusuran GPS yang Bara cek terakhir kali, posisi Kyra berada di mall. Dan hingga malam begini, istrinya itu belum juga pulang.
Entah sudah berapa ratus kali Bara menghela dan menghembuskan napasnya untuk berelaksasi, nyatanya rasa nyeri ini belum juga hilang. Sialnya, perutnya pun sudah mulai keroncongan lagi. Di meja makan tak ada makanan apapun selain roti dan selai dan Bara tak berselera menyentuhnya. Lebih baik ia menunggu Kyra dan memintanya memasak makan malam saja nanti.
Terlalu lama menunggu dengan kondisi tubuh yang lelah, Bara pun akhirnya tertidur di sofa. Masih dengan mengenakan kemeja kerjanya, dia benar-benar terlelap hingga tak menyadari bila gambar Kyra di aplikasi GPS-nya mulai bergerak memasuki lift menuju Penthouse.
Tting.
Suara denting pintu lift lah yang akhirnya membuat Bara terbangun dan sontak beringsut duduk dari posisi rebahannya. Napasnya mulai naik turun ketika melihat Kyra keluar dari lift itu sembari membawa beberapa paper bag besar di tangan kanan dan kiri. Bukan karena belanjaan itu yang membuat Bara kesal, tapi karena senyuman Kyra yang sangat lebar ketika memasuki rumah seolah tak memiliki beban apapun selama berselisih dengan Bara.
"Dari mana kamu?"
"Oh!" Kyra tersentak dan spontan melepas paper bag di tangannya hingga terjatuh ke lantai. "Bara!" sungutnya setelah bisa menguasai diri.
Bara mendekat ke tempat istrinya dan memunguti paper bag itu lantas meletakkannya di sofa.
"Kamu mulai berani keluar rumah tanpa ijinku. Bersenang-senang sementara di sini aku menunggumu. Apa sebenarnya maumu, huh!?" Bara kembali mendekat dan menatap Kyra dengan tajam.
"Mauku? Kamu benar-benar ingin tahu apa mauku?" Kyra menatap Bara tak kalah tajam dan dingin.
Hening. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling tatap tanpa saling berucap. Bila saja Bara yang sekarang adalah Bara yang dulu, mungkin Kyra akan berakhir di ranjang seperti Valeria. Nyatanya, jangankan menyetubuhi, menyentuh kulit Kyra saja Bara tak sanggup.
"Katakan apa maumu? Aku akan mengabulkannya saat ini juga," kecam Bara masih dengan tatapan setajam silet. "Kecuali kamu minta perpisahan."
Kyra tersenyum kecut. "Kenapa kamu sangat takut kehilangan aku? Apa karena ada bayi ini di perutku? Atau karena kamu mencintaiku?"
__ADS_1
Hening kembali. Mendadak semua kata-kata yang ingin Bara ungkapkan lenyap seketika. Pertanyaan Kyra sangat sulit untuk ia jawab.
"Kenapa kita harus bertengkar gara-gara perempuan itu! Kamu lebih membela Elena daripada patuh pada suamimu sendiri, huh!?" sungut Bara jengkel.
"Perempuan itu mamamu, Bara!"
"Bukan! Dia bukan mamaku! Harus berapa kali aku jelaskan padamu bahwa dia bukan MAMAku!" Bara mencekal bahu Kyra dengan erat hingga membuat wanita itu tersentak dan meringis kesakitan.
Menyadari bila dirinya mulai lepas kontrol, Bara segera melepas cekalan itu dan berbalik.
"Damnnn!" teriaknya sembari mengusap wajahnya dengan frustasi. "Dia menganggapku dan Daniel sebuah beban. Itu yang aku dengar dari mulutnya sendiri saat itu. Lalu sekarang kamu menyalahkanku karena membencinya? Padahal dia sendiri yang membuatku begini!?"
Teriakan demi teriakan Bara membuat Kyra membisu. Ia membiarkan Bara meluapkan seluruh amarahnya selama tak melukai dirinya.
"Kamu mau tahu apa lagi? Apa kamu juga mau kenapa aku dan Daniel tak akrab meskipun kami bersaudara? Atau kamu juga mau tahu kenapa Valeria meninggalkanku dan memilih berselingkuh dengan sepupuku? Katakan!"
Sebuah tamparan membuat kesadaran Bara kembali. Ia menatap Kyra yang masih berdiri dengan wajah bersimbah air mata. Napasnya yang naik turun menggambarkan betapa Bara sudah berusaha untuk mengontrol dirinya namun ternyata ia gagal. Dengan lemah, tubuh Bara mulai luruh di lantai. Tatapannya yang kosong seolah mencerminkan keadaan hatinya yang hampa.
"Apakah sesusah itu untuk terbuka padaku? Bila kamu mau menceritakannya sejak awal, kita tak perlu berselisih seperti ini!" rutuk Kyra sambil menyeka air matanya dengan kasar.
"Elena hanyalah adik dari mendiang mamaku. Dia menikah dengan Daddy karena dia kasihan pada kami. Dia melepaskan impiannya menjadi model hanya demi merawat aku dan Niel. Aku tak pernah berkata Elena ibu yang jahat, aku hanya kecewa karena kami hanya dianggap sebuah beban," jelas Bara dengan suara yang tak lagi berapi-api.
"Bisa saja saat itu ia mengatakannya karena sedang lelah dengan keadaan, dia pasti tak bersungguh-sungguh mengatakan hal itu. Dia menyayangimu dan Niel dengan sepenuh hati." Kyra ikut duduk berjongkok di depan Bara dan mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk menatap lantai.
Bara menggeleng. "Tapi tetap saja aku membencinya karena dia tega berkata seperti itu. Seolah aku dan Niel adalah sandungan besar bagi impiannya. Aku membenci Elena."
Flashback On.
__ADS_1
Di taman belakang yang berbatasan dengan kolam renang, Elena dan beberapa teman wanitanya nampak sedang mengobrol santai sambil menikmati teh dan kue. Terdengar tawa yang bersahutan dari mereka berlima ketika Bara baru saja pulang dari sekolah. Ia sedang berjalan menuju taman karena pelayanan mengatakan bila Elena sedang berada di sana.
"Mo--"
"Lantas bagaimana dengan kariermu di Paris, El? Kamu yakin akan melepas impianmu begitu saja? Kamu masih muda, masih sangat berpotensi untuk sukses di Paris."
Bara urung memanggil mommy Elena-nya dan memilih untuk menunggu jawaban dari sang ibu yang sangat ia puja. Bara merasa tergelitik untuk mendengar jawaban Elena yang sangat cerdas menurut kacamata pria ABG sepertinya.
"Bagaimana aku bisa pergi bila Daniel dan Bara selalu menempel padaku? Mereka berdua seperti bayi panda yang bergelayut di pundakku."
Deg. Bara terdiam, senyum lebarnya mendadak sirna. Bayi panda yang bergelayut di pundak? Apakah itu berarti ia dan Niel adalah sebuah beban??
Tawa riuh dari teman- teman Elena yang seolah-olah mencibir jawaban wanita itu, membuat tubuh Bara memanas. Dengan tangan terkepal, akhirnya Bara berbalik dan urung menemui Elena di taman. Langkahnya yang lebar dan terburu-buru nyatanya tak mampu menahan air matanya untuk luruh.
"I hate you, Mom!"
"Aku menyayangi Bara dan Niel seperti anakku sendiri, Teman-Teman. Bagiku karier akan hilang ketika aku sudah menua, tapi anak-anakku adalah harta tak ternilai yang aku miliki sampai aku tua dan mati," timpal Elena begitu tawa teman-temannya sudah berhenti.
"Tapi mereka bukan anak kandungmu, El? Mengapa kamu serela itu menggadaikan mimpi besarmu!"
"Mereka memang tidak lahir dari rahimku, tapi mereka juga memiliki darah kakakku. Bila bukan karena mereka, mungkin aku sudah depresi pasca rahimku di angkat."
Flashback off
...****************...
...Ayoooo jan pelit bagi vote-nya dong, Bestie! Awal bulan nanti otor mau kasi gift buat pembaca setia yang ada di peringkat fans 1-3. Jadi buruan rajin sawer, komen, like dan vote. ...
__ADS_1