I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Serba Salah


__ADS_3

Selama tak saling sapa dengan Kyra, Bara selalu memantau aktifitas istrinya itu melalui CCTV yang berada di Penthouse. Hampir setiap jam Bara mengecek keberadaan Kyra karena tak ingin ibu bagi calon bayinya itu kabur lagi seperti dulu.


Hari ini, aktifitas yang padat membuat Bara tak sempat untuk mengecek Kyra. Pun dua hari ini ia tak melihat gelagat mencurigakan dari istrinya itu hingga membuat Bara abai.


Di jam istirahat, karena ada janji makan siang dengan klien dari Australia, Bara hanya sekilas mengecek keberadaan Kyra. Belum sempat log in ke aplikasi CCTV di ponselnya, kliennya datang dan membuat Bara melupakan rutinitasnya memata-matai aktifitas Kyra.


Dua jam mengobrol dan melakukan diskusi terkait kerjasama pekerjaan, akhirnya Bara terbebas setelah kliennya tersebut berpamitan.


"Mana ponselku, Morgan!" Bara menadahkan tangan pada Sekretarisnya yang sejak tadi standby di sisinya.


Dengan sigap, Morgan memberikan ponsel Boss-nya sebelum kemudian ia melahap makan siangnya yang terlambat gara-gara harus fokus mendampingi Bara selama meeting berkedok makan siang bersama.


"Apa ini! Di mana Kyra!?" Bara bangkit dengan tatapan lurus pada layar ponselnya.


Morgan yang terkejut, sontak menelan makanannya yang masih belum sepenuhnya ia kunyah. Ia segera meneguk air hingga tandas sebelum Bara marah-marah lagi.


"Dia pergi, Morgan! Cari dia, cepat!"


"Mungkin Nona Kyra sedang ke Supermarket  atau jalan-jalan ke taman, Pak."


Bara menoleh pada Sekretarisnya yang masih memegang erat gelas di tangannya.


"Cari Kyra! Secepatnya! Apa kau mau bertanggung jawab bila dia melakukan hal buruk lagi pada bayiku!!"


Morgan sontak berdiri, ia merogoh ponselnya dan menghubungi nomor teman kepercayaannya tiap kali butuh untuk melacak keberadaan seseorang.


"Hal--"


"Tidak jadi, Morgan. Aku lupa bila sudah memasang GPS di ponsel Kyra," potong Bara sembari merebut ponsel Morgan dan meletakkannya di meja.


Untung saja Bara adalah atasan Morgan, seandainya bukan, mungkin wajah tampannya akan terkena olesan saus sambal dan acar. Morgan menghembuskan napasnya untuk berelaksasi dengan wajah menahan emosi.


"BusanaTex? Sedang apa Kyra ke sana?" gumam Bara sembari mengerutkan keningnya dan menatap serius pada layar ponselnya.


"Sedang janjian dengan  mantan kekasihnya mungkin, Pak?" goda Morgan kesal hingga sebuah jitakan mendarat secepat kilat di kepalanya dan membuat Morgan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Sembarangan! Harusnya kamu menenangkanku bukan malah memperkeruh suasana!" sungut Bara marah.


'Salah sendiri membuat makan siangku tertunda,' keluh Morgan dalam hati. Ia tak lagi berselera menyantap seporsi Chicken Curry itu meskipun  perutnya masih keroncongan.


"Cari informasi apakah hari ini ada rapat komisaris di sana!" Sekali lagi Bara memerintah tanpa melihat situasi Morgan.


Morgan menurut, dengan keahliannya dalam mencari informasi, tak butuh waktu lama baginya mendapatkan jawaban.


"Benar, Pak. Baru saja meeting dewan komisaris dan para pemegang saham selesai. Nona Kyra pasti sudah pulang dan akan sampai di rumah 30 menit lagi," jelas Sekretaris andalan itu.


Dengan kesal, Bara mendengus setelah mendengar penjelasan Morgan. Beraninya Kyra pergi tanpa berpamitan padanya? Meskipun hanya untuk meeting, namun di sana ada mantan kekasihnya yang secara terang-terangan masih mengejar istrinya itu.


"Apa setelah ini jadwalku masih padat?" Bara mengawasi Morgan dengan tatapan tajam.


Siapapun yang mengenal Bara pasti akan takut bila ditatap demikian, termasuk Morgan yang sudah bekerja bertahun-tahun dengannya.


"Masih ada satu meeting lagi, Pak. Tapi bila anda--"


"Segera suruh Pak Tino menjemputku kemari. Aku akan pulang cepat hari ini. Gantikan meetingku bila memang mendesak untuk di laksanakan."


.


.


Di sebuah restoran Italia. Dua orang bumil nampak sedang mengobrol dengan serius sambil sesekali tertawa. Pizza berukuran jumbo serta spagetty dan risotto berjajar di tengah meja.


"Kian sangat suka makan risotto, dan sejak aku hamil, dia benci makanan ini sementara aku berbalik doyan dan ingin makan setiap hari!" kelakar Annastasia dengan jujur.


"Benarkah?"


"Hmm, dan kamu tahu apa yang paling  aneh? Aku tidak bisa tidur sebelum Kian menyanyikan lagu bahasa Jawa yang mendayu-dayu! Hahaha ..." tawa Ann pecah hingga membuat Kyra juga tertular.


"Pasti seru ya rumah tangga kalian. Aku jadi sedikit iri."


Ann mengernyit. "Kenapa harus iri? Memangnya ada apa dengan suamimu?"

__ADS_1


"Nggak kenapa-kenapa sih, kadang dia hanya sedikit kaku dan diktator," keluh Kyra dengan hembusan napas panjang.


Sembari menyantap risotto-nya, Ann memperhatikan curhatan Kyra dengan penuh perhatian. Suasana restoran yang cozy dan jauh dari kebisingan membuat keduanya bisa mengobrol dengan tenang.


"Berapa lama kalian berpacaran?" tanya Ann menyelidik.


Kyra berpikir sejenak. Ia tak tahu harus menjawab apa karena antara dia dan Bara tak pernah terjalin hubungan asmara.


"Jangan-jangan kalian dijodohkan juga?"


"Nggak. Hubungan kami nggak seperti itu." Kyra menggeleng cepat. "Perkenalan kami singkat, dan langsung menikah begitu merasa cocok."


Ann manggut-manggut. "Memang susah sih kalo kenalannya sebentar. Aku pun dulu begitu. Tapi setelah kami sering berkonflik, akhirnya kami bisa mengenal lebih dekat satu sama lain."


"Berkonflik?"


"Maksudku berantem!“ ralat Ann kilat.


Giliran Kyra yang kini termangu. Mengobrol dengan Ann sedikit banyak sudah membuka pikirannya tentang seluk beluk berumah tangga.


"Butuh waktu hampir satu tahun untukku beradaptasi dengan kebiasaan dan sifat suamiku. Awalnya susah, aku sempat beberapa kali ingin menyerah. Dan ketika kami berada di titik siap untuk berpisah, justru akhirnya kami malah tak terpisahkan hingga akhirnya aku bunting seperti ini!" canda Ann sambil tergelak.


Drttt  ... Drttt...


Tawa Annastasia terhenti ketika ponsel yang ia letakkan di meja mulai bergetar. Dengan cepat Ann meraihnya sambil mengkode Kyra untuk menunggu sementara dia menjawab telefon dari suaminya.


Melihat itu, hati kecil Kyra mulai terenyuh pada nasibnya sendiri. Entah mengapa ia jadi merindukan sikap over protektif Bara yang selalu diluar nalar manusia. Dua hari ini mendiamkan suaminya membuat Kyra sangat kesepian.


Ting.


Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Kyra. Ia merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya dengan sumringah, pasti pesan dari Bara!


[Waktunya berperang! Kolonimu terancam!]


...****************...

__ADS_1


__ADS_2