I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Silsilah Bara


__ADS_3

Ting Tong Ting Tong.


Suara bel yang berbunyi sejak 5 menit yang lalu membuat Kyra yang baru saja masuk ke kamar mandi untuk BAK mendadak mempercepat aktifitasnya. Ia keluar dari kamar dengan terburu-buru, memperhatikan screen door dengan sekilas untuk melihat siapa tamu yang datang. Ketika wajah seorang wanita cantik yang terakhir kali ia jumpai di Rumah Sakit nampak memenuhi layar, Kyra termanggu untuk sejenak.


Ting Tong Ting Tong.


Tit. Kyra memencet tombol open di layar dan kunci pintu pun secara otomatis terbuka.


"Kenapa lama sekali membuka pintu!" keluh Elena sembari membuka pintu lebih lebar dan membiarkan beberapa orang Bodyguard-nya yang menenteng paper bag masuk ke dalam rumah Bara.


"Letakkan saja di sana!" tunjuk Elena pada meja makan di ruang tengah.


"Baik, Nyonya!"


Untuk beberapa detik, Kyra seolah tak nampak karena Elena tengah sibuk memerintahkan ini dan itu pada 3 orang Bodyguard-nya.


"Kalian tunggulah di luar. Aku ingin berbicara empat mata dengan dia." Elena melirik Kyra yang masih mematung di tempat awal.


"Baik!"


Ketiga Bodyguard itupun pergi dan menutup pintu dengan rapat.


Elena membalikkan tubuhnya, ia mengamati penampilan Kyra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terakhir kali Elena melihatnya, wanita ini terlihat lusuh tak terawat. Tapi hari ini, dia terlihat sangat berbeda dengan setelan T-shirt oversize warna lime dan legging panjang berwarna hitam. Rambutnya yang ikal dan lebat dibiarkan tergerai begitu saja dengan bandana kecil untuk menahan sebagian poninya.


Merasa sedang dipindai oleh mertuanya, Kyra menundukkan kepalanya dengan malu-malu. Bila tahu akan disidak begini, Kyra pasti akan memilih pakaian yang lebih cantik.


"Kamu masih ingat saya, kan?" ucap Elena sembari berjalan semakin ke dalam.


"I-iya, saya masih mengingat anda, Nyonya." Kyra mengikuti langkah Elena dengan cepat.


"Bagus. Berarti ingatanmu masih sangat baik." Elena menghampiri sofa di ruang tivi dan menghempaskan pantatnya di sana. "Kemarilah, aku ingin mengobrol banyak denganmu!" tunjuk Elena pada sofa tak jauh darinya.


Mau tak mau, Kyra menurut. Bagaimana Kyra bisa lupa pada wanita yang sudah memberikan rasa trauma padanya? Bahkan Elena membuat Kyra berpikiran pendek kala itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana denganmu karena aku tak mengenalmu dengan cukup baik waktu itu." Elena menyilangkan kakinya yang jenjang dan menatap Kyra penuh intimidasi. "Tapi aku yakin, kamu pasti sudah tahu mengapa orang tua Bara tak ada yang datang di pernikahan kalian."


Kyra mengangguk lemah. "Saya tahu, keluarga besar Bara masih belum bisa menerima saya."


"Good. Bagus kalo kamu peka. Sejujurnya kami tak setuju dengan pernikahan kalian, tapi demi bayi yang kamu kandung, kami tak punya banyak pilihan selain membiarkan Bara mempertanggungjawabkan perbuatannya," jelas Elena lugas namun sangat menyakiti hati Kyra.


"Terlebih kamu pun sepertinya tidak berniat untuk mengugurkan janin itu, jadi apa boleh buat  ... Kami biarkan kalian menikah sampai janin itu lahir."


Kyra mengernyit, sampai bayinya lahir? Maksudnya apa?


"Maaf sebelumnya bila saya lancang, Nyonya. Saya hanya ingin tahu, mengapa kalian membenci wanita seperti saya?"


Elena terkekeh. "Kami tidak membencimu, Kyra. Kami hanya merasa tempatmu bukan di sini. Tapi sungguh, aku tidak pernah membencimu," kelit Elena.


"Bara adalah satu-satunya penerus Perusahaan Lazuardi. Bila ia tersisihkan hanya karena menikah denganmu, bukankah itu sangat tidak adil untuk Bara?" sambungnya meminta persetujuan.


Kyra masih bergeming. Ia hanya menyimak apa saja yang hendak Elena sampaikan. Kyra yakin, Elena datang ke tempat Bara pasti karena memiliki satu tujuan.


Sementara itu, AC di dalam ruangan yang dingin tak mampu menurunkan rasa panas di sekujur tubuh Kyra ketika mendengar penjelasan Elena barusan.


"Lantas di mana Mama kandung Bara?" tanya Kyra lirih.


"Namanya sudah meninggal ketika Bara berusia 2 tahun. Aku lah yang kemudian merawat Bara sampai dia menjadi seperti sekarang. Sayangnya, ketika dia tahu aku bukan mama kandungnya, sikap Bara kemudian berubah menjadi defensif padaku," jelas Elena sembari tersenyum kecut. "Tapi tak apa, untuk wanita mandul sepertiku, memiliki Bara sudah cukup."


Sekali lagi, Kyra tercengang bukan main. Mengapa Elena begitu terbuka tentang jati dirinya? Apa yang sebenarnya ia inginkan?


"Maaf, Nyonya. Tapi saya masih belum paham mengapa Anda menceritakan tentang hal ini pada saya."


"Karena aku ingin kamu menjadi jembatan yang menyatukan kembali Bara dengan kami. Jujur saja, 5 tahun belakangan Bara semakin jauh dengan keluarganya. Kami memang tinggal satu mansion tapi Bara lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau di tempat Valeria. Ups maaf, kamu pastinya sudah tahu kan seliar apa Bara dulu??"


Kyra mengangguk lemah. Ia tahu dan tak mau ambil pusing dengan masa lalu Bara. Baginya, yang lebih penting adalah Bara di masa kini.


Elena terdiam sejenak, ia menelisik ekspresi Kyra yang sama sekali tak kaget atau tersulut emosi ketika dia membahas tentang Valeria. Membuat Elena semakin penasaran, setangguh apa wanita yang dipersunting Bara ini sebenarnya.

__ADS_1


"Bila kamu bisa menyatukan Bara dengan kami, mungkin kami bisa mempertimbangkan untuk membuka hati padamu. Bagaimana?" tawar Elena memancing.


Untuk beberapa saat, Kyra berelaksasi sejenak. Ia tak mau gegabah menyetujui permintaan Elena karena bisa jadi itu adalah jebakan baru baginya yang masih belum paham seluk beluk dikeluarga Bara.


"Saya tidak bisa memutuskan, Nyonya. Tapi saya akan mencari tahu terlebih dahulu cerita dari versi Bara."


Elena mengangguk. "Tak apa, cerita versi Bara maupun cerita versiku tak banyak berbeda," ungkapnya penuh percaya diri.


Apakah semua orang kaya memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi? Kyra melihat Bara dan Elena juga Daniel sepertinya setipe dalam hal ini.


"Bagaimana kandunganmu? Apakah bayi Bara sehat?"


Kyra menyentuh perutnya yang mulai membuncit seperti orang kekenyangan. "Dia sehat, minggu depan sudah masuk usia 12 minggu. Anak kami sangat pengertian dan tak pernah rewel."


"Persis Bara. Ketika dia balita, diapun sangat manis dan murah senyum," tukas Elena sembari menerawang.


"Benarkah?" Kyra tersenyum tak percaya.


Elena mengangguk. "Bara kecil sangat suka dipeluk. Itu berlangsung sampai dia SMP. Sampai Daddy-nya memarahi Bara karena dia sangat manja padaku."


Kyra terkekeh, pantas saja setiap malam Bara selalu menempel pada Kyra seperti bayi panda. Meski awalnya tidur berjauhan, paginya pasti Bara sudah memeluk Kyra entah itu cuma merangkul erat lengannya saja.


"Aku yakin kamu wanita yang baik. Bara tak mungkin sampai memohon dan bersujud pada Daddy-nya untuk menikahimu bila kamu bukan wanita yang sangat spesial untuknya."


"Bersujud?" Kyra mendelik tak percaya. "Bara?"


"Ya. Dia melakukannya demi kamu. Tapi ini rahasia! Bara pasti akan sangat malu bila kamu sampai tahu hal ini." Elena tertawa, sangat cantik dan tak membosankan.


"Saya bisa menjaga rahasia, Nyonya. Tenang saja."


"Jangan panggil aku Nyonya lagi. Panggil aku Mommy, mulai sekarang kamu juga anakku."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2