
Karena semalam tak bisa tidur dengan nyenyak, alhasil Bara melampiaskan rasa kantuknya hingga menjelang siang. Ponsel yang bergetar berkali-kali di meja nakas tak membuat tidurnya terusik sedikitpun. Panggilan penting itu baru membuatnya terbangun ketika telah berdering 9 kali.
Dengan kedua mata yang masih terasa berat untuk terbuka, Bara meraba benda pipih yang terus saja bergetar di meja nakasnya. Hatinya ingin menggerutu, namun ketika melihat barisan nama di layar, semangatnya serta merta berkobar.
"Ya, Mr. Hito?" sapa Bara serak, tenggorokan yang kering membuatnya kesusahan mengeluarkan suara.
"Mr. Bara, saya baru membaca pesan yang Anda kirim semalam. Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian namun saya mohon maaf, Tuan Edy sudah terbang menuju Singapore pagi tadi."
Kesadaran Bara yang masih belum sepenuhnya terkumpul, sontak menyatu dalam waktu sekejap ketika Mr. Hito menyebut nama Singapore.
"Tapi anda boleh tenang karena saya sudah berkoordinasi dengan Interpol untuk segera mencari dan menahan Mr. Edy di bandara," sambung Mr. Hito lugas dan tenang.
Namun, tidak dengan Bara. Seluruh tubuhnya masih gemetaran pasca Mr. Hito menyebut nama Singapore tadi. Feeling-nya mulai buruk, ketakutan terbesarnya sepertinya akan terjadi.
"Saya akan berangkat ke Singapore sekarang juga!" putus Bara sebelum kemudian memutuskan sambungan telepon itu.
Masih dengan jemari yang tremor, Bara menekan angka 3 di ponselnya cukup lama. Panggilan cepat ke nomor Morgan pun tersambung.
__ADS_1
"Ya, Pak?"
"Morgan, siapkan pesawat sekarang juga! Aku akan terbang ke Singapore!" titah Bara sembari bangkit dari ranjang dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Tapi, Pak, hari ini anda harus menghadiri ---"
"Batalkan semua jadwalku, Morgan! Aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kali. Nyawa Kyra sedang terancam!"
Tak ada sahutan, di ujung sana Morgan mendengarkan penjelasan Boss-nya dengan sedikit bingung.
"Baik, Pak."
Tit.
Bara melempar ponselnya ke wastafel dan secepat kilat membuka seluruh pakaiannya. Ia harus bergerak cepat sebelum Edy lebih dulu sampai di Singapore. Bila firasat Bara benar, Edy pasti pergi ke Singapore untuk mencelakai Kyra dan menjadikannya alat agar Bara tak menuntut secara hukum atas tragedi kecelakaan yang menimpa Friz beberapa bulan yang lalu. Ia tahu Edy sangat licik, tumbuh besar bersamanya membuat Bara sangat paham bagaimana sifat sepupunya itu.
Usai mandi dan bersiap-siap. Bara turun menuju basement. Panggilan telepon dari Daniel tak pelak membuatnya bisa sedikit bernapas lega.
__ADS_1
"Morgan bilang kamu akan pergi ke Singapore? Ada apa, Bara?"
"Edy sudah diperjalanan menuju Singapore, Niel. Sepertinya dia berencana untuk mencelakai Kyra!" Bara membuka pintu mobilnya dan lekas menyalakan mesin.
"Dari mana kamu tahu hal itu?"
"Apa kamu lupa bila Edy sangat licik seperti rubah?" tukas Bara cepat. "Aku butuh bantuanmu, Niel. Tolong standby apapun yang terjadi nanti, berkas-berkas laporan untuk kepolisian sudah aku siapkan di meja. Bila ada yang kurang tolong nanti kamu handle, untuk sementara waktu aku akan memastikan Kyra aman selama Edy belum ditangkap!"
"Baiklah, kamu bisa mengandalkanku, Bara. Berhati-hatilah selama di sana. Utamakan keselamatanmu."
Bara tak menyahut, fokusnya pada kemudi membuat nasihat Daniel berlalu begitu saja.
"Baiklah, Niel. Aku tutup dulu teleponnya. Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di Singapore!"
"Oke. Be careful, Brothers!"
...****************...
__ADS_1