
Friz dan Elena saling bersitatap untuk beberapa saat, Bara urung menghampiri meja makan ketika melihat Edy berada di antara mereka. Tak ingin membuat kesalahpahaman semakin berlarut-larut, Elena lantas bangkit dan menghampiri anak serta menantunya.
"Kami mengundang Edy karena ingin kita makan malam bersama selayaknya keluarga," terang Elena sembari mengulurkan tangan pada Kyra agar mau mendekat padanya.
"Keluarga?" dengus Bara emosi. "Dia bukan keluargaku!"
"Bara, tidak bisakah turunkan egomu hanya untuk malam ini?" Friz bangkit dari kursi dan memandangi sepasang manusia yang masih mematung di hadapannya.
"Kalian mengundang Edy tapi melupakan Kak Niel? Begitu yang dimaksud dengan keluarga?" cemooh Bara kesal.
Kyra menyentuh lengan suaminya yang mulai nampak lepas kontrol. Ia menggeleng pada Bara ketika suaminya itu menoleh padanya.
"Kami sudah mengundang Daniel. Tapi dia bersikeras tidak mau datang."
"Bagaimana mungkin aku tidak datang bila makan malam kali ini untuk merayakan kebahagiaan adikku?"
Semua yang berada di meja makan menoleh bersamaan ke arah lorong yang terhubung dengan ruang tamu. Daniel muncul dari sana dengan pakaian rapi. Ia mendekat ke tempat Bara dan berdiri di samping adiknya.
"Niel ..." lirih Bara tak percaya pada penglihatannya sendiri.
"Aku di sini untuk ikut merayakan kebahagiaanmu, Bara." Dengan gerakan tangan hangat, ia menepuk pundak adik satu-satunya itu.
Friz yang tak menyangka bila Daniel datang, hanya menatap nanar pada putranya itu. Sekelebat rasa sesal menyergap di dalam hatinya, melihat Daniel yang dulu selalu tampil dandy dan mahal, kini hanya mengenakan pakaian sederhana dan tak bermerk.
Elena tentu saja sangat bahagia melihat putra kesayangannya datang, ia memeluk Daniel dengan hangat dan penuh kerinduan. Tak terasa air matanya menetes karena tak percaya putranya akhirnya menginjakkan kakinya lagi di Mansion ini setelah sekian lama pergi.
"Mom sangat merindukan momen ini sejak lama. Terima kasih kalian sudah mau datang," tutur Elena sembari tak lepas menangkup wajah Daniel.
Daniel mengangguk, ia menghapus air mata di pipi Elena dan memeluknya.
"Aku juga merindukan kalian, Mom."
__ADS_1
Kyra pun tak kuasa menahan air matanya menyaksikan kehangatan di keluarga Lazuardi. Ia tak sadar bila sedari tadi Edy tengah menatapnya dengan lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Baiklah, ayo kita segera makan. Jangan biarkan menantu Mom menunggu lama!" Elena beralih menggandeng Kyra dan membawanya ke meja makan. "Bagaimana kandunganmu, apakah bayi Bara tidak rewel dan menyiksamu?"
"Bayi Bara? Kau mengatakan itu seolah hanya aku yang berkontribusi membentuk bayi itu, Mom!" protes Bara sembari mengikuti langkah istrinya.
Elena dan Kyra terkekeh, mereka pun duduk setelah pelayan menarik kursi untuk majikannya.
"Bara, bersikap manislah pada istrimu. Lihatlah, dia semakin kurus sejak Mom bertemu dengannya minggu lalu!" Elena mendelik pada Bara yang terlihat sibuk menutupi paha Kyra dengan sehelai kain.
"Aku selalu memperlakukannya dengan manis. Tanya saja padanya!" tampik Bara.
Kyra hanya tersenyum ketika tatapan Elena dan Friz tertuju padanya. Daniel yang duduk di sebelah Edy juga sedang mengawasinya. Kyra adalah pusat perhatian malam ini.
"Bara sangat baik. Jangan khawatir, Mom."
"Tuh, dengar sendiri, kan! Aku adalah suami terbaik." Bara membusungkan dadanya penuh percaya diri.
"Ed, jangan mengacau!" ancam Elena sembari menatap Edy dengan tajam.
Friz dan Daniel saling bertatapan untuk beberapa saat. Namun, perhatian mereka terpecah ketika pelayan mulai menyajikan makan malam di piring masing-masing majikannya.
Untuk beberapa saat, mereka pun mulai sibuk menyantap makan malam buatan chef yang sangat nikmat. Sambil mengobrol ringan, suasana yang tadinya dingin pun perlahan mulai menghangat. Elena menceritakan masa kecil Bara dan Daniel pada Kyra.
"Bara kecil sangat suka tidur di sembarang tempat. Selama ada bantal dan guling, dia pasti akan langsung terlelap detik itu juga!" kenang Daniel terkekeh.
"Enak saja! Kamu tuh yang selalu jadi pengganggu tidur lelapku!" tampik Bara tak terima.
Kyra tertawa, terlintas kenangannya ketika terjebak di pulau dulu.
"Sepertinya Kak Niel benar, dulu semasa kita terjebak di pulau itu, kamu bahkan bisa tidur pulas di sebelah tumpukan kulit pisang!"
__ADS_1
"Benarkah!? Hahaha ..." Daniel tertawa puas. "Apakah dia juga bisa tidur di dekat monyet?"
"Dia tuh yang berantem sama monyet cuma untuk memperebutkan pisang!" Bara menunjuk Kyra dengan dagunya. "Dia bahkan membantu monyet betina melahirkan! Memangnya dia bidan apa!?"
"Melahirkan? Hahaha ..." tawa renyah Daniel semakin membahana.
Friz dan Elena yang telah lama tak melihat tawa lepas itu, tanpa sadar ikut tersenyum menyaksikan Daniel yang terlihat sangat bahagia. Kehangatan keluarga Lazuardi telah kembali.
Usai makan malam penuh keintiman itu, semua keluarga Lazuardi berkumpul di ruang tengah. Kyra sedang melihat album foto yang menyimpan banyak foto masa kecil Bara. Tak berbeda jauh dari Bara dewasa, Bara kecil memiliki rambut jabrik seperti jarum. Hanya saja rambutnya yang sekarang lebih rapi karena Bara merawatnya.
"Aku lucu, kan?" Bara menunjuk salah satu fotonya saat sedang berpose bersama Daniel di depan patung Liberty.
Kyra mengangguk, ia mengusap foto itu dengan jemarinya. "Semua yang ada padamu lucu, kecuali rambutmu."
"Ya, kamu benar. Akupun dulu sangat membenci rambutku. Persis seperti orang kesetrum!" Bara menghembuskan napasnya berat ketika mengingat momen menyebalkannya dulu.
Saat sedang asyik mengamati foto-foto itu, ponsel di dalam tas Kyra bergetar, ia tersentak untuk beberapa saat dan mendongak memperhatikan Friz yang sedang sibuk dengan layar ponselnya. Apakah pesan diponselnya ini adalah pesan dari mertuanya?
"Bara, aku mau ke toilet sebentar!" Kyra menutup album foto itu dan menenteng tasnya.
"Aku antar, ya."
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kamu mengobrollah dengan yang lain," tolak Kyra sembari berdiri dan berlalu pergi.
Tak ingin membuat hubungan yang sudah akur ini kembali dingin, Bara membiarkan Kyra pergi. Ia lantas memfokuskan perhatiannya pada Elena yang nampak sedang mengobrol serius dengan Daniel.
Sementara itu, merasa sudah berada di tempat yang aman, Kyra merogoh ponselnya di dalam tas. Nama yang muncul di bilah notifikasi membuat jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat.
[Naiklah ke lantai 3, masuklah ke kamar di sebelah kanan tangga. Saat Bara datang, berpura-puralah bersikap manis pada Edy seolah kalian bersekongkol untuk menjatuhkan Bara.]
...****************...
__ADS_1