I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Pemakaman


__ADS_3

Acara pemakaman Friz yang berlangsung khidmat dan penuh derai air mata, membuat Bara sejenak melupakan urusan hatinya. Kehilangan kali ini tak hanya meluluhlantakkan dunianya, tapi juga kepercayaannya. Kata-kata terakhir Friz sebelum ia meninggal menyisakan tanda tanya besar di benak Bara.


Melihat Edy hadir di pemakaman itu, tak pelak membuat amarah Bara kembali menggelora. Ia hampir saja menghajar sepupunya itu bila Daniel tak lebih dulu menangkap tubuhnya dan menahan pertikaian itu.


"Pergi kau dari sini, Breng-sek! Daddy tak butuh air matamu!" umpat Bara murka.


Edy melirik sepupunya itu sekilas, sorot matanya yang penuh kebencian itu seolah memantik api emosi di dalam tubuh Bara. Namun, Morgan dan Daniel yang menahan tubuh Bara membuatnya tak bisa berkutik.


"Harusnya kau yang mati! Daddy tak pantas meninggal dengan cara seperti ini!" hujat Edy sembari menyeka air matanya. "Kau yang harusnya mati!"


"Breng-sek! Kau yang harusnya mati, Baji-ngan! Pergi kau dari sini. Setelah semua yang kau lakukan padaku dan Daddy, kau tak pantas menjadi bagian dari Lazuardi!"


"Bara, shut up! Tenangkan dirimu. Kita sedang berada di pemakaman Daddy!" sentak Daniel kesal karena Bara masih saja memberontak dan tak bisa mengontrol emosi.


Beberapa teman dan rekan kerja Friz memperhatikan tingkah Bara dan Edy, Elena yang sejak tadi membisu akhirnya ikut menengahi.


"Tahanlah emosi kalian. Setidaknya tahanlah 30 menit demi Daddy. Setelah itu lanjutkan di rumah apapun yang ingin kalian lakukan."

__ADS_1


Bara mendengus dan berpaling dari tatapan tajam Edy. Acara pemakaman pun dilanjutkan kembali. Sambil terus menahan tubuh Bara, Daniel menyaksikan prosesi pemakaman itu dengan hati terluka. Satu persatu orang yang ia sayangi pergi menemui Tuhan dan membuat Daniel merasa semakin terpuruk.


Beberapa jam setelah acara pemakaman itu, mereka semua kembali ke Mansion. Hanya Edy yang tak bergabung dan memilih pergi setelah pemakaman.


"Selidiki kecelakaan Daddy, Niel. Siapapun  orangnya yang membuat Daddy celaka, aku akan membalasnya!" janji Bara sembari menatap tajam ke arah pigura foto Friz yang dikelilingi karangan bunga.


"Tapi polisi bilang kecelakaan itu murni karena kesalahan Daddy yang tak fokus saat menyetir. Rekaman CCTV di lokasi kejadian menampilkan mobil Daddy memang berhenti secara mendadak di perempatan lampu merah," jelas Daniel.


"Pasti ada alasan kenapa mobilnya berhenti mendadak, bukan? Apakah itu tidak terekam kamera?"


"Tidak. Kamera dari salah satu lampu merah itu merekam hanya di bagian belakang mobil sebelum truk itu menghantam mobilmu." Daniel menghampiri saudaranya yang nampak masih emosi.


"Bara, sudahlah! Daddy sudah tenang sekarang. Kamu hanya akan menambah masalah baru bila menuntut truk itu!"


Tak ingin mendengar kata-kata tak berguna itu, Bara berlalu dari hadapan Daniel. Ia akan menuntut siapapun yang telah membuat orang yang ia sayangi pergi. Bahkan setelah mendengar Ayahnya menjebak Kyra, Bara tetap akan menyelidiki semuanya. Ada pusaran teka-teki besar yang tak ia ketahui di mana ujungnya.


"Bara."

__ADS_1


Langkah lebar Bara terhenti dan menoleh cepat ke arah suara yang memanggilnya. Elena nampak berdiri di dekat perapian sambil memeluk foto suaminya.


"Kemarilah. Ada yang ingin aku sampaikan padamu," pinta Elena sembari menolehi putranya.


Dengan langkah ragu, Bara pun mendekat ke tempat Elena dan duduk tak jauh darinya. Sesuatu yang berada di genggaman Elena menyita perhatian Bara, sebuah ponsel.


"Ini ponsel Daddy-mu. Bila kamu masih penasaran mengapa Daddy menjebak istrimu, mungkin data di ponsel ini bisa menjawab semuanya."


Elena menyerahkan ponsel suaminya dengan tangan gemetar. Sesuatu yang begitu penting baru saja ia ketahui dari ponsel itu. Dan Elena yakin, Bara pasti akan merasa lega setelah mengetahui kebenaran.


Sambil menahan gelora emosi di dalam dadanya, Bara membuka kunci ponsel Friz dan memencet aplikasi chat di sana. Sebuah pesan dengan Kyra yang telah terbuka membuat kening mulus Bara mengernyit. Percakapan demi percakapan yang menyayat hatinya membuat pandangan Bara memburam oleh air mata. Namun, chat terakhirlah lah justru membuat Bara tak kuasa lagi menahan tangisnya.


[Terima kasih, Tuan. Tolong tepati janji anda untuk membantu Bara di rapat komisaris nanti. Semoga anda dan sekeluarga selalu sehat. Tolong jaga Bara, Tuan. Saya mencintainya sepenuh hati.]


"Kyra ...." Air mata itu semakin menetes tanpa bisa Bara kontrol.


Hanya demi menyelamatkan posisinya di perusahaan, Bara harus membayar mahal pengorbanan Kyra dengan kehilangan bayi mereka. Entah bagaimana caranya, Kyra sudah mempertaruhkan hidupnya demi jabatan yang dulu pernah Bara pertahankan mati-matian. Jabatan yang justru membuatnya kehilangan segalanya!

__ADS_1


"Maafkan aku, Kyra  ... Maaf karena aku tak peka."


...****************...


__ADS_2