I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Musibah


__ADS_3

24 tahun menjalani kehidupan bersama Elena merupakan anugerah yang sangat disyukuri oleh Friz. Sejak Elyana, Ibunda Bara dan Daniel meninggal, Elena adalah satu-satunya wanita yang peduli pada dua keponakannya itu hingga rela melepas mimpinya menjadi model internasional.


Silsilah yang cukup rumit di keluarga Lazuardi. Friz memiliki 2 orang kakak. Franz, adalah Kakak tertua yang menikah dengan  Elyana dan melahirkan Daniel. Sementara kakak perempuannya, Freya, melahirkan Edy.


Franz meninggal ketika Daniel berusia 3 tahun, Friz yang kala itu baru menapaki dunia bisnis, dipaksa untuk menikahi Elyana agar silsilah Lazuardi tak hilang. Meski awalnya tak cinta, namun perlahan-lahan hubungan Friz dan Elyana semakin solid sejak Bara lahir dan hadir diantara mereka. Sayang, Elyana pada akhirnya menyusul Franz ketika Bara berusia 3 tahun. Dan takdir pun membuat Friz akhirnya menikahi satu-satunya adik Elyana, yakni Elena yang saat itu tengah bersinar di dunia modeling.


Edy yang tadinya tinggal di Amerika, setelah kecelakaan yang membuatnya menjadi sebatang kara, akhirnya di jemput oleh Friz dan dirawat di Indonesia bersama dua putra Lazuardi lainnya. Cara Friz membesarkan Edy memang keliru, ia terlalu menuruti apapun yang diinginkan oleh keponakannya itu. Bahkan jika yang diinginkan Edy adalah mainan kesayangan Bara, maka Friz akan membelikan mainan yang sama untuk Edy.


Sebuah mobil sedan yang mendadak memotong jalan membuat lamunan Friz buyar. Ia menutup box perhiasan di pangkuannya dan kembali fokus pada kemudi. Hidup yang keras membuat Friz harus licik dan tegas pada siapapun yang mengancam kedamaian hidup Lazuardi. Tak terkecuali pada menantunya yang berhasil ia singkirkan. Dan untuk Edy, Friz tak punya cara lain untuk tegas pada anak itu selain menjebaknya dan melihat sendiri kesalahannya. Dengan begitu, Friz tak terlalu merasa bersalah pada Freya.


Cittt.


Friz menginjak pedal rem secara reflek ketika mobil di depannya berhenti secara mendadak. Beruntung ia masih berada di jarak aman sehingga tak sampai membentur mobil di depannya, dan perhiasan --


Brak.


Sebuah hantaman keras dari sisi kanan membuat Friz tersentak dan membuat mobil terseret hingga puluhan meter. Friz terjepit diantara pintu dan moncong mobil lain yang menempel di sisi kanan tubuhnya.


Friz masih sempat menggenggam erat  box perhiasan itu ditangan sementara airbag mobil melindunginya dari benturan setir. Dan beberapa detik setelah mobilnya terseret dan berhenti, pandangan Friz mengabur oleh darah yang menetes dari pelipisnya. Asap yang mengepul dari bagian kap mobil semakin membuat Friz tak bisa melihat keadaan di sekelilingnya. Tubuhnya terjepit diantara setir mobil, dan pintu yang ringsek. Sakit ... Sangat sakit ... Dan segalanya perlahan berubah gelap gulita.


.


.


Satu jam kemudian di Rumah Sakit. Daniel, Elena dan Bara menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan campur aduk. Tak ada satupun yang bersuara, semua sibuk dengan doa masing-masing.


Bara mengurungkan niatnya untuk terbang bersama Kyra setelah mendengar penjelasan Daniel di telepon. Kata 'kritis’ membuatnya trauma, Bara ketakutan setengah mati dan berdoa sepanjang jalan agar tak terjadi apapun pada Daddy-nya. Terlebih, beberapa saat sebelum Friz kecelakaan, mereka sempat bertemu bahkan saling tatap dengan hangat.


Sebuah kotak perhiasan berwarna navy yang berlumuran darah berada dipangkuan Elena. Sejak Bara datang tadi, Elena sudah memeluk erat kotak itu meskipun ada noda darah Daddy-nya.


"Itu hadiah untukmu, Mom. Hari ini hari Anniversary kalian, bukan?" bisik Bara sembari mengawasi kotak dipangkuan Elena.


Dengan pilu, Elena mengangguk. Air mata yang tak sekalipun berhenti menetes dari dua netra coklatnya membuat hati Bara dan Daniel ikut merasakan  kesedihan itu.

__ADS_1


"Dia menemuimu?" Elena menolehi Bara dengan lemah.


Sebuah anggukan kepala dari Bara membuat tangis Elena kembali pecah. Ia kembali memeluk kotak perhiasan itu di dadanya.


"Dia seperti sedang berpamitan pada kalian berdua. Bahkan tadi pagi, dia masih memaksaku untuk mengundang Daniel makan malam di Mansion." Dengan tersedu-sedu, Elena menjelaskan kejadian tadi pagi ketika tiba-tiba Friz bangun tidur dan memaksanya mengundang Daniel.


Daniel menggeser duduknya dan merangkul pundak Elena. Ia membiarkan kemejanya basah oleh air mata wanita yang telah membesarkan dirinya dan Bara.


"Stay strong, Mom. Daddy pasti bisa melewati masa kritisnya," bisik Daniel memberi kekuatan.


Meskipun  Dokter bilang kesempatan itu sangat tipis karena organ penting Friz cidera parah, setidaknya ia harus positif thinking dulu pada rencana Tuhan.


Pintu IGD bergerak dan terbuka ketika Bara dan Daniel sedang menguatkan Elena. Ketiganya sontak berdiri ketika Dokter muncul dengan wajah muram.


"No..." Tangisan Elena semakin menjadi-jadi melihat tatapan Dokter itu seolah menjelaskan segalanya.


"Tuan Friz ingin berbicara dengan kalian," jelas Dokter Giorgio yang merupakan tim dokter keluarga Lazuardi.


Melihat dua putra kesayangannya dan istrinya datang, Friz mengulurkan tangan kirinya yang gemetaran. Sakit di seluruh tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan ketika melihat tangisan Elena. Terlebih ia yakin, kesempatan hidupnya tak akan lama. Dokter bilang, jantung dan paru-parunya cidera karena benturan keras itu.


"Ba ... ra," panggil Friz lemah.


Mendengar namanya disebut, Bara tersentak dan buru-buru menghampiri Friz. Ia mengusap sisa darah di kening sang ayah.


"We're going home, Dad. You have to fight!" bisik Bara dengan hati hancur.


Hanya dengan kedipan mata, Friz merespon harapan putranya. Dengan segala kekuatannya yang tersisa, Friz menyentuh wajah Bara.


"I'm sorry, Son. A-ku sudah meng-hancurkan hidupmu!"


"Jangan banyak bicara, Dad! Istirahatlah!" desak Bara kesal.


Friz menggerakkan kepalanya untuk menggeleng namun rasa sakit yang amat sangat sontak menusuk kepalanya.

__ADS_1


"Ak-ku yang sudah menghancurkan hu-bunganmu dan gadis itu. I'm sorry."


"Dad, kau bicara apa! Istirahatlah!"


"Aku yang memintanya ke kamar Edy. Aku yang menjeb-baknya." Friz memejamkan mata sejenak usai mengucapkan kalimat panjang itu. Napasnya naik turun hingga mesin di samping tubuhnya berdetak kencang.


Bagai mendengar ledakan bom di hari yang tenang, tubuh Bara memanas seketika. Hatinya yang telah hancur setelah meninggalkan Kyra di bandara, kini semakin hancur setelah mendengar pengakuan Friz.


"Dad, why  ..."


"I ha-te her. But, now I realize, she's the one for you."


"Dad. Teganya kau  ..." Air mata Bara menetes mengingat betapa ia sempat membenci Kyra usai kejadian di malam itu. "Why, Dad?! Kyra gadis terbaik yang aku miliki!"


"Bara, tenangkan dirimu!" Daniel merengkuh bahu adiknya ketika Bara mulai kehilangan kontrol.


"Ni-el ..." panggil Friz lemah.


Daniel menoleh dan mengganti posisi Bara di samping Ayahnya.


"Ya, Dad? Bukankah kau ingin makan malam lagi denganku? Let's do it, Dad! You can through this!"


Friz menarik kedua ujung bibirnya dengan kelu. "Help me take care of Elena. And, maafkan Daddy-mu ini yang sangat ko-lot."


"No, kau sudah melakukan yang terbaik untuk kami, Dad. Caramu menyayangi kami memang salah, namun kau tetaplah yang terbaik!"


Tittttttt....


Suara mesin yang berdengung panjang membuat Elena menjerit histeris. Friz bahkan belum berpamitan padanya, Friz bahkan belum menatap matanya untuk terakhir kali.


"Honey, wake up! Today is our Anniversary. Don't leave me!! Honey, wake up!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2