I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Melihatmu Dari Jauh


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak Kyra sadar, Bara hanya bisa melihatnya dari jauh. Tadi pagi, istrinya itu telah dipindah ke ruang rawat inap dan masih akan terus di pantau hingga kondisinya benar-benar fit.


Dengan mengenakan jaket dan topi serta masker yang menutupi hingga separuh wajahnya, Bara memperhatikan wajah cantik Kyra yang kini sudah bisa tersenyum.


'Setidaknya begini saja boleh, kan, Tuhan?' batin Bara tiap kali ingat akan janjinya sesaat sebelum Kyra membuka mata.


Setelah puas melihat senyuman manis Kyra, maka Bara akan pergi dan menghabiskan waktunya di kantor. Pekerjaan membuatnya sejenak lupa akan rasa kehilangan dan hampa di hatinya.


"Apa sore ini anda jadi ke makam, Pak?" tanya Morgan sembari memperhatikan Bara yang nampak serius menatap layar laptop di hadapannya.


Bara berpikir sejenak, setiap dua hari sekali ia memang selalu mengunjungi makam Izz dan menikmati petang di sana.


"Sepertinya begitu. Memangnya kenapa?" Bara menolehi Sekretarisnya dengan suntuk.


"Tadi Pak Daniel berpesan bila beliau akan ikut ke makam bersama anda."


Bara mengernyit. "Tumben?" desisnya heran.


Setahu Bara, hanya makam Clara yang rutin dikunjungi Daniel. Bahkan bisa dihitung dengan jari, berapa kali dalam setahun Daniel mengunjungi makam Mamanya.


Tak ingin memikirkan hal itu, Bara pun kembali fokus pada pekerjaannya. Ia sedang memantau pergerakan indeks saham perusahaannya di pasar saham. Sejauh ini terkendali dan tetap bertahan di garis aman.


Sementara Bara sibuk, di tempat yang berbeda, yang serba putih dengan bau obat menusuk indra penciuman, Kyra tengah melamun sembari menatap layar televisi yang menyala. Roni sedang pulang untuk mengurusi Gio sekaligus membawa baju ganti.

__ADS_1


Tok tok tok tok.


Suara ketukan di pintu membuat perhatian Kyra teralihkan. Ia menoleh lemah ke arah pintu.


"Masuk," perintah Kyra sembari tetap mengawasi pintu itu dengan lekat.


Perlahan daun pintu bergerak dan terbuka semakin lebar. Wajah wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda membuat senyum Kyra merekah.


"Mom Elena!" lirihnya sembari merentangkan tangan.


Melihat menantunya telah benar-benar sadar dan kini sedang menatap matanya, Elena tersenyum lega dan berhambur memeluk Kyra.


Selama beberapa detik, keduanya berpelukan erat untuk melepas kerinduan. Ketika dikabari oleh Daniel bila Kyra sudah sadar, Elena menangis bahagia seperti orang gila. Padahal dulu ia sempat sangat membenci menantunya ini. Namun, kebaikan dan ketulusan Kyra mampu membuat rasa benci itu berubah menjadi sayang.


Melihat Elena semakin membuat Kyra merindukan sosok Bara. Meski rasanya ingin menangis, namun Kyra berusaha menarik kedua ujung bibirnya pada mertuanya itu. Banyak sekali hal yang ingin Kyra tanyakan pada Elena, akan tetapi ia tak tahu harus memulainya dari mana.


"Bagaimana kondisimu sekarang? Kapan kamu boleh pulang? Bara pasti sangat senang melihatmu bangun!" cecar Elena dengan berbagai pertanyaan.


"Bara ..."


"Bila melihat pengorbanan Bara selama menunggumu kemarin, kamu pasti akan semakin mencintainya!"


Kyra mengernyit. "Pengorbanan?" tanyanya heran.

__ADS_1


Dengan cepat Elena mengangguk. "Bara menunggumu di depan ruangan penyimpanan obat-obatan. Kamu tahu sendiri, kan, bagaimana dinginnya ruangan itu? Dan Bara menunggumu di depan ruangannya!" jelas Elena berapi-api.


Sebuah tusukan jarum terasa menggerogoti hati Kyra. Tidak ada yang menceritakan tentang hal ini padanya. Roni pun selalu bungkam tiap kali Kyra menanyakan tentang Bara.


"Dia sudah diusir satpam berkali-kali tapi masiiiih saja betah menginap di sana! Bucin banget dia sama kamu, Kyra!" tawa Elena sembari mencubit pipi menantunya dengan gemas.


Entah harus merespon bagaimana, nyatanya Kyra hanya membisu tak sanggup berkata-kata. Bila memang Bara menunggunya, lantas mengapa ia tak muncul setelah Kyra sadar?? Bahkan Bara tak datang untuk menghiburnya setelah mereka kehilangan bayi itu?


"Kyra, Mom ikut berduka untuk bayi kalian. Semoga kalian berdua lekas mendapat gantinya, ya! Baby Izz pasti sudah bahagia sekarang bersama Omanya di surga sana."


"Baby Izz?" Kyra mengernyit sekali lagi.


Mengapa tak ada seorang pun yang menceritakan tentang bayinya! Mengapa Kyra seolah hidup di alam yang berbeda!


"Izland. Baby kalian!"


Air mata Kyra menetes seketika. Jadi namanya Izland? Bara memberinya nama Izland karena mereka 'mengolah' bayi itu di pulau?


"Hmmm, jangan menangis dong, Kyra. Kan Mom jadi sedih lagi kalo nangis kaya gini."


"Aku ingin lihat anakku, Mom. Aku ingin ketemu Baby Izz! Antarkan aku menemuinya!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2