
Sebulan setelah melahirkan, Bara mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kehadiran putri kecil di tengah-tengah mereka.
Aura Bella Lazuardi.
Nama cantik yang terukir di banner seolah menjadi pengumuman bagi semua orang bila bayi mungil itu kini sudah mempunyai nama.
Kyra mengundang semua teman-temannya semasa kerja di perusahaan Bara dulu. Ia juga mengundang Annastasia dan suaminya. Pesta yang cukup intim dan hanya dihadiri orang-orang terdekat membuat atmosfer di Mansion terasa hidup setelah sekian lama.
Bara dan Kyra memutuskan tinggal di Mansion untuk menemani Elena yang kini hidup sendiri setelah kepergian Friz. Karena tak mungkin tinggal bersama, Daniel akhirnya mengalah dan memilih membeli Penthouse Bara dan tinggal seorang diri di sana.
"Morgan, kembalikan kemari bayiku!" Bara melambaikan tangan pada sekretaris andalannya yang tengah menggendong bayi mereka.
Sambil menimang bayi cantik itu, Morgan menurut dan menyerahkan Aura ke gendongan ayahnya.
"Saya seperti menggendong anda, Pak."
"Tutup mulutmu! Tidak perlu kau ulangi berkata seperti itu setiap kali menggendong Aura!" sungut Bara sembari menatap sinis pada Morgan.
"Tapi nanti jika Nona Aura sudah dewasa, ijinkan saya menjadi asistennya saja, Pak. Saya akan pensiun menjadi sekretaris anda."
"Lalu kau akan menikahi putriku begitu? Cih, enak saja! Aku tidak mau punya menantu bermulut lamis sepertimu!" ejek Bara sembari berlalu pergi dan menghampiri Kyra yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
Morgan terkekeh melihat ekspresi bosnya yang terlihat sangat lucu ketika sedang menggerutu. Menikah dengan Nona Aura? Hmm, ide bagus!
Sementara itu, di meja bundar dengan jejeran kursi yang melingkarinya, Daniel sedang terpaku memperhatikan sepasang anak kembar yang terlihat menggemaskan di meja sebelah. Salah seorang teman Kyra membawa bocah kembar itu tadi. Daniel pernah berkenalan dengan wanita itu ketika mengantar Kyra ke Rumah Sakit. Tak ia duga, ternyata wanita itu sudah memiliki tiga orang anak di usia yang terbilang masih muda. Bahkan mungkin masih seusia Kyra! Sementara dirinya, di usia yang sudah memasuki kepala tiga lebih sedikit, belum juga memiliki anak. Daniel tersenyum kecut.
"Hai, Om," sapa bocah lelaki itu ketika tatapannya bertemu dengan Daniel.
__ADS_1
Daniel mendadak beku, senyum yang tadinya ia sunggingkan secara hambar, mendadak ia tarik secara lebar. Terlihat kaku dan cringe! Mirip tokoh joker yang sedang menyeringai.
"Hai." Daniel membalas dengan canggung sembari mengangkat tangan kanannya.
Suasana terasa berbeda di meja tempat Kyra dan para teman wanitanya duduk. Bara yang datang dengan menggendong Aura, membuat para karyawannya itu mendadak bisu. Padahal beberapa menit yang lalu, suara gelak tawa Kyra masih terdengar nyaring hingga membuat Bara penasaran dengan topik yang tengah mereka obrolkan.
"Kalian sudah makan?" Bara mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung karena kehadirannya.
Lena melirik Puji dengan malu-malu. Mereka saling sikut lengan tanpa ada yang menjawab.
"Kamu membuat mereka malu, Bara. Pergilah sana," usir Kyra sembari mendekap Aura dalam gendongannya. "Mengobrollah bersama Daniel atau tamumu yang lain!"
"Aku tidak mengundang tamuku. Kamu tahu sendiri aku tak punya teman." Bara menggerutu dan membuat teman-teman Kyra semakin tak nyaman.
"Kalo begitu mengobrollah dengan suami Ann. Lihat, dia berada di sana sedang menyuapi putranya!" Kyra menunjuk seorang lelaki yang sedang duduk dan menyuapi balita kecil yang duduk di atas meja.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Bara bangkit. Ia menghampiri kursi lelaki itu dan menyapanya dengan hangat. Lelaki bernama Kian yang rupanya lebih tinggi beberapa cm dari Bara.
"Kita pernah bertemu sebelumnya di Garmindo Tex. Senang akhirnya bisa bertemu anda lagi di rumahku!" ucap Bara berusaha bersikap ramah, seperti permintaan Kyra semalam.
"Terima kasih atas undangan anda, Pak Bara."
"Panggil saja saya Bara! Biar terasa lebih akrab," saran Bara cepat.
Lelaki bernama Kian itu mengangguk, ia sesekali menyuapi putra kecilnya yang terlihat sangat lahap menyantap cake coklat hingga mulutnya belepotan.
"Siapa namanya?" tanya Bara sembari menyentuh tangan mungil balita itu.
__ADS_1
"Levan. Panggil saja dia Lev!"
Bara terpana. "Nama yang sangat bagus."
Mendengar pujian itu membuat Kian tersenyum senang. "Terima kasih!"
Malamnya setelah acara. Aura sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu. Kyra yang kelelahan pun mulai mengerjapkan mata menahan kantuk. Bara masih mandi setelah baru saja selesai mengurusi EO yang menghandle acara pesta. Semua tamu sudah pulang, Mansion sudah rapi seperti semula.
"Sayang, aku sudah se--" Bara menggantung ucapannya ketika dilihatnya Kyra sudah tertidur dalam posisi duduk usai menASIhi Aura.
Dengan sabar, Bara menghampiri ranjang dan merebahkan istrinya itu di bantal. Dilihatnya Aura yang tertidur dengan begitu menggemaskan. Hidupnya sudah lengkap, bila Izzland masih hidup mungkin akan terasa semakin sempurna. Perlahan Bara menunduk dan mencium kening Kyra cukup lama.
"I Love you, Sayang. Terima kasih sudah melahirkan bayi yang cantik, terima kasih sudah menjadi istriku."
Dan malam pun beranjak semakin larut. Menyimpan momen membahagiakan yang selama ini Bara rasakan sejak menikah dengan Kyra.
"I love you too, My CEO."
...THE END...
...****************...
Bestie, Terima kasih banyak untuk semua yang sudah memberi like, komen, vote, hadiah dan membaca karya ini hingga tamat.
Next, otor akan buat karya spin off yang masih berhubungan dengan Bara dan Kyra. Ditunggu saja, ya! Jangan lupa untuk ikuti terus karya-karya otor berikutnya ❤
Salam sayang 😙
__ADS_1