I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Ulang Tahun Daniel


__ADS_3

Tiba di Penthouse, Bara dan Kyra masih terbawa emosi oleh pertengkaran mereka di mobil.


Merasa seluruh tubuhnya panas, Kyra memutuskan untuk mandi dan menyalakan shower. Air mata Kyra ikut luruh seiring dengan guyuran air dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia merasa sangat sakit hati dengan perkataan Bara yang seolah menyiratkan bila Kyra bukanlah wanita yang penting di hidupnya. Bara bertahan dengannya hanya karena bayi yang ia kandung, dan memang harusnya Kyra tak boleh berharap terlalu banyak mengingat sejak awal Bara sudah mengatakan bila hubungan yang mereka jalani tak berdasarkan atas cinta. Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Mengapa air mata ini tak juga berhenti meskipun Kyra ingin.


Dengan kelu, Kyra mengusap perutnya yang mulai membuncit. Andai saja saat itu ia tak memaksa Bara untuk melakukan hubungan terlarang mereka, pasti rasanya tak akan sesakit ini, bukan?


Sementara di luar kamar mandi, Bara sedang duduk di sofa ruang tengah sembari menatap televisi dengan nanar. Terbesit perkataan Valeria sesaat sebelum ia tertangkap basah oleh Kyra.


"Daniel? Benarkah kamu tega menjegalku dan merencanakan semua ini dengan Vale?" desis Bara murka.


Sorot matanya memerah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Rasa pusing yang sesaat tadi sempat hilang ketika bertemu Mr. Lucas, kini mengganyang lagi di kepalanya. Entahlah, Bara bingung bagian mana yang lebih membuatnya kesal. Apakah karena Daniel yang bersekongkol dengan Vale atau karena Kyra yang memergokinya?


"Damnn you two!" Bara melempar bantal yang menjadi sandarannya di sofa.


Terlalu lelah dengan keadaan psikis dan fisiknya, Bara akhirnya ketiduran di sofa. Ia masih tak ingin bertemu Kyra di kamar, rasanya sangat menyakitkan melihat istrinya itu menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian padahal ia tak melakukan apapun dengan Valeria.

__ADS_1


Di dalam kamar, Kyra baru selesai mandi setelah hampir satu jam ia habiskan dengan menangis di bawah guyuran shower. Sekarang perasaannya sudah sedikit lebih baik setelah menumpahkan kekecewaan dan sakit hatinya melalui tetesan air mata. Matanya yang bengkak membuat Kyra kebingungan harus bagaimana untuk menyiasatinya. Ia tak mau Bara ge-er dan semakin tertawa puas melihat Kyra yang rapuh.


Akibat terlalu lama menangis, Kyra pun mulai merasa lapar lagi. Merasa kesal karena ia akan bertemu Bara di luar, Kyra menahan rasa lapar itu dan mengalihkan perhatiannya dengan bermain game. Namun, sebuah pesan dari Lena ternyata muncul di layar ponselnya.


[Kyra, besok adalah hari ulang tahun Daniel. Apakah kamu mau ikut memberi surprise denganku dan kawan-kawan?]


Seutas senyum tersungging di bibir tipis Kyra. Ia mulai membalas pesan itu.


[Jam berapa, Kak Len?] send.


[Jam makan siang seperti biasa. Detail skenario surprise akan aku beritahu besok. Jangan terlambat, ya!]


[Oke! Aku akan datang.]


Usai mengetik pesan balasan itu, Kyra kembali menyibukkan dirinya dengan game hingga larut malam. Setelah lelah, ia memutuskan untuk tidur dalam keadaan perut kosong.

__ADS_1


Sedikit penasaran, Kyra bertanya-tanya ke mana Bara pergi? Mengapa ia tak masuk ke dalam kamar sama sekali sejak mereka pulang tadi? Apakah Bara keluar lagi?


Merasa frustasi sendiri dengan pikirannya yang melantur ke mana-mana, Kyra akhirnya memejamkan mata. Pasca dipijat Spa tadi siang, seluruh tubuhnya tak lagi disiksa rasa pegal dan kaku. Tak sampai 10 menit, Kyra sudah benar-benar terlelap dan terbuai dalam dunia mimpi.


Berbanding terbalik dengan Kyra yang telah hangat dibawah pelukan selimut tebal, Bara justru merasa kedinginan tidur di sofa. Ia membuka mata tengah malam ketika tubuhnya terasa membeku oleh suhu AC yang menusuk tulang. Untuk sesaat, Bara termenung sembari mengumpulkan sukmanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Ketika ingatannya tentang kejadian tadi sore kembali melintas, Bara beringsut duduk sambil mendengus marah. Ia meraih ponsel yang ia geletakkan di meja dan memeriksa notifikasi di layar. Ada 18 panggilan tak terjawab dari Morgan dan dua pesan darinya. Dengan cepat, Bara membuka pesan itu.


[Pak, apakah semua baik-baik saja? Saya telepon berkali-kali mengapa tidak terangkat.]


[Pak, saya lampirkan transaksi perbankan milik Pak Daniel selama periode sebulan terakhir. Tidak ada yang mencurigakan. Sesekali Pak Daniel juga masih tidur di kantor dan tercatat hanya seminggu 3x pulang ke rumah kontrakannya. Oh satu lagi, besok adalah hari ulang tahun Pak Daniel. Sekian laporan dari saya.]


Bara mencoba mengingat tanggal berapa besok sambil melihat kalender di widget layar ponselnya. Tanggal 30 Maret. Benar, ulang tahun Daniel dan dirinya hanya terpaut beberapa hari.


"Berhati-hatilah dengan Daniel."


Perkataan Valeria kembali terngiang dan membuat Bara berpikir keras lagi, sebenarnya permainan apa yang sedang mereka mainkan?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2