I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Kamu dan Anakku


__ADS_3

Cittttt.


Bunyi ban mobil yang berdecit ketika rem diinjak secara mendadak memekakkan telinga. Bara membuka pintu mobil tanpa menunggu Morgan membukakan pintu itu untuknya.


Dengan kepanikan yang tak bisa lagi disembunyikan, Bara bergegas mengikuti Morgan yang sudah lebih dulu memasuki sebuah bangunan apotik.


"Morgan, kamu tidak salah tempat?" tanya Bara ketika mereka berdua diawasi oleh beberapa orang yang nampaknya sedang mengantri obat.


"Tidak, ini adalah titik koordinat di mana Nona Kyra berada, Pak." Morgan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Ada yang bisa kami bantu?" seorang Wanita tiba-tiba sudah berdiri di belakang Morgan dan Bara.


"Di mana istri saya!?" kecam Bara tanpa babibu.


Ekspresi wajah wanita itu mendadak berubah. "Maaf, sepertinya anda mencari istri anda di tempat yang salah."


"Tidak. Kami sudah berada di tempat yang benar. Klinik aborsi ilegal yang berkedok sebagai apotik." Morgan memutuskan pembicaraan itu seraya menunjuk beberapa orang wanita yang sedang mengantri, ada yang bersama pasangannya, ada juga yang mengantri seorang diri.


"Di mana istri saya! Cepat tunjukkan di mana!" teriak Bara murka.


"Maaf, tapi siapa nama istri anda?"


"Kyra Sada Batari. Apa ada wanita dengan nama itu datang ke mari?" jelas Morgan menengahi.


Bola mata wanita itu membulat, ia lantas meminta Bara dan Morgan mengikutinya. Meskipun menjadi tontonan beberapa orang yang sedang mengantri tadi, Bara tak peduli. Dengan langkah lebar, ia mengikuti wanita itu.


Tok tok tok.


"Dokter," panggil wanita tadi sembari mengetuk pintu.


Bara meringsek maju, ia menggedor pintu itu dengan keras. "Dokter, buka pintunya! Jangan lakukan apapun pada istri saya!" teriaknya kesetanan.


Morgan mundur untuk memberi tempat bagi Bara yang mulai kehilangan kendali.


"Dokter!!" teriakan Bara semakin menggema.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Dokter baru saja memasang sarung tangan karetnya dan bersiap untuk melakukan tugasnya ketika ketukan di pintu itu mengganggu konsentrasinya. Ia urung meletakkan pantatnya di kursi dan memilih untuk membuka pintu itu daripada pekerjaannya terganggu karena tak bisa fokus.


Brak.


Bara mendorong pintu dengan kuat ketika seseorang membukanya dari dalam. Seorang lelaki berpakaian jubah panjang berwarna hijau sontak terhuyung ke belakang ketika terdorong oleh pintu..


Dengan nanar dan emosi yang masih meledak-ledak, Bara menemukan Kyra sudah terbaring di ranjang pasien dengan kedua kakinya yang sudah terangkat ke atas.


"Apa yang kau lakukan pada istriku, bajingann!" Bara mendorong Dokter itu dengan kuat.


"Maaf, anda siapa?!"


"Dia suami wanita itu, Dok."


"Tapi dia belum menikah, statusnya di KTP masih belum menikah."


"Persetan!" hardik Bara marah. "Apa kau sudah melakukannya? Apa kau sudah mengeluarkan bayi kami?"


Dokter itu menggeleng cepat. "Belum. Bayi kalian masih aman berada di rahim ibunya!"


"Ayo, Morgan. Kita bawa Kyra pergi dari sini." Bara pun langsung bangkit kembali dan menurunkan kaki Kyra dari besi penyangga lantas menutupi sebagian kakinya yang sudah tak mengenakan apapun.


Wanita tadi menyerahkan pakaian dan tas milik Kyra pada Morgan sementara Bara sudah menggendong Kyra pergi dari kamar sempit itu.


Beberapa jam kemudian. Di penthouse mewah milik Bara, Kyra masih belum sadarkan diri dari efek obat bius.


Di sudut kamar, Bara mengawasi tubuh mungil yang kini tergolek di ranjang super besar itu dengan perasaan hancur. Segalanya terjadi begitu cepat dalam ingatan Bara. Selama di mobil tadi, air mata Kyra terus saja menetes meskipun ia masih tak sadarkan diri. Bara tak bisa menebak, apakah itu air mata penyesalan, ketakutan atau kebahagiaan. Sungguh, baru kali ini Bara merasa dunianya hancur karena ia hampir saja kehilangan bayinya. Pada sosok yang belum pernah ia lihat bentuknya namun sudah ia cintai sepenuh hati, jiwa dan raganya.


Lenguhan suara Kyra membuat Bara kembali tersadar dari lamunannya. Ia memperhatikan gerak-gerik wanita itu yang sepertinya mulai sadar. Tangan mungil dan lembut yang belakangan menjadi candu untuk digenggam, perlahan bergerak mengelus perutnya.


Bara masih diam menyaksikan semua itu dari sofa, mengamati gerakan demi gerakan Kyra yang masih lemah tak bertenaga.


Sementara di atas ranjang. Kyra yang masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang telah terjadi 3 jam belakangan, mengusap sudut matanya yang basah. Ia masih mencoba mencerna potongan demi potongan kejadian yang berlangsung sebelum ia disuntik obat bius. Bara ... ya, saat itu yang ada di ingatan Kyra hanya Bara.


"Hiks ..."

__ADS_1


Air mata Kyra kembali menetes. Ia sudah berhasil mengatasi beban berat yang selama tiga hari ini menghancurkan hidup Bara. Ia telah memilih jalan yang tepat meskipun nantinya Bara akan sangat membencinya.


"Apa arti tangisanmu itu, Kyra?"


Deg. Kyra membuka matanya yang masih penuh dengan air mata yang menggenang dipelupuknya. Suara Bara barusan seolah menyeretnya ke dunia nyata. Dengan cepat Kyra menoleh ke sisi ranjang di mana seorang pria sedang berjalan menuju ke arahnya. Bara!


Tunggu, di mana ia sekarang? Kenapa Kyra baru sadar bila ia tidak lagi berada di klinik itu.


Dengan sangat lemah, Kyra mencoba bangkit sekuat tenaga. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya yang masih terasa sangat ringan bak daun kering tertiup angin.


"Jelaskan padaku, apa arti tetesan air matamu itu? Apakah itu air mata penyesalan?" sambung Bara yang sudah tiba di depan tubuh Kyra.


Kyra tak menyahut, ia mengawasi sekeliling kamar luas yang sangat mewah ini dengan tajam.


"Kenapa diam?"


"Kenapa aku ada di sini!?" Kyra beralih menatap Bara yang masih bergeming dari tempatnya. "Kenapa kamu membawaku ke tempat ini?"


"Karena ini akan menjadi rumahmu juga mulai besok. Kenapa? Apa ada yang salah?" Bara tersenyum tanpa ekspresi.


Menyadari bila wajah Bara terlihat menakutkan, Kyra memalingkan tatapannya. Ia tahu waktu ini akan datang, ia tahu kemarahan Bara pasti akan menyeramkan, namun Kyra telah pasrah, apapun yang akan terjadi nanti terjadilah!


"Terima kasih sudah menjemputku. Saat nanti pusingku sudah hilang, aku akan pulang."


"Pulang?" Bara memotong lagi, kedua tangannya ia masukkan di saku celananya yang masih mengenakan setelan kemeja kerja.


"Bila kamu mau marah, marahlah, Bara. Nggak perlu menahannya. Karena mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya kamu melihatku."


Tawa Bara pecah, ia mengawasi wajah Kyra yang nampak cemas dan panik. Untuk apa ia marah? Toh bayinya masih mendekam hangat di rahim Kyra!


"Jangan pernah lakukan hal itu lagi, Kyra. Cukup sekali ini saja kamu berbuat onar dan mengacaukan hariku. Aku kehilangan customer dan rugi puluhan Milyar hanya untuk membawamu dan anakku pulang dari klinik itu."


Kyra menahan napasnya syok. "Apa maksudmu?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2