
[Cepat kembali! Aku sendirian!]
Daniel tersenyum membaca pesan dari adiknya. Ia lantas bangkit dan mengajak Kyra untuk kembali ke kamar Bara.
"Apa orang tua Bara sudah pulang?"
"Bukankah orang tua Bara juga orang tuamu?" ledek Daniel sembari membayar ke Ibu Kantin.
"Mereka juga orang tua Kak Niel!" Kyra meledek balik sembari mendengus.
Suasana kantin yang mulai ramai dengan orang-orang dan perawat yang hendak makan siang membuat Daniel mempercepat langkahnya. Kyra yang mungil nampak kesusahan menjajari langkah kakak iparnya yang lebar.
"Kak Niel, berjanjilah untuk merahasiakan tentang Edy sampai kita tahu kepastian tentang rumor ini." Kyra menarik lengan Daniel sebelum mereka berbelok ke lorong menuju kamar Bara.
Meskipun berat, akhirnya Daniel mengangguk setelah menatap mata adik iparnya yang terlihat sangat tulus. "Baiklah. Hanya sampai kita mendapat kepastian dan bukti yang valid!"
"Oke!" Kyra mengacungkan jempolnya dengan gembira.
Dengan langkah terburu-buru, Daniel dan Kyra bergegas berbelok menuju ruangan Bara. Namun, segerombolan Bodyguard yang berdiri di pintu membuat langkah Daniel terhenti.
"Mereka belum pulang," lirih Daniel sendu. "Ayo, kita kem--"
"Niel."
Suara wanita yang tak asing membuat Kyra menoleh cepat ke arah pintu. Elena sudah berdiri di depan pintu bersama dengan seorang lelaki tinggi, gagah dan tampan. Tunggu, tunggu dulu! Kyra menajamkan penglihatannya. Dia kannn?? Lelaki yang tempo hari dia lukai di perusahaan Bara! Mampus!! Jadi dia Ayah Bara??
Tatapan Kyra dan Friz bertemu dan terkunci. Dua sorot yang saling bertolak belakang itu membuat suasana jadi mencekam untuk beberapa saat.
"Kyra, ayo pergi!" Daniel menarik pergelangan tangan adik iparnya dengan paksa dan menyeretnya pergi.
Pada akhirnya Kyra hanya sempat membungkukkan badan sebagai tanda salam dan hormat pada kedua orang tua Bara. Elena tersenyum hangat membalas sapaan menantunya sementara Friz masih menatap tajam pada wanita yang sedang mengandung cucunya. Buncit di perutnya sudah mulai nampak, calon penerus Lazuardi yang akan segera jatuh ke tangannya.
"Kak Niel, kita mau ke mana?!" Kyra berusaha melepas cekalan Daniel namun lelaki itu sangat erat mencengkram pergelangan tangannya.
Begitu sudah cukup jauh mereka menghindar, Daniel melepas tangan mungil itu dan memejamkan mata lelah.
"Kenapa Kak Niel begini? Memangnya mau sampai kapan kalian saling membenci seperti ini?"
"Aku tidak membenci dia. Dia yang membenciku!" bentak Daniel kesal. Membahas Friz selalu membuatnya jadi sensitif. "Maaf, Kyra. Aku tidak bermaksud membentakmu."
Wajah Kyra yang sempat terkejut karena mendengar suara keras Daniel perlahan berubah melunak.
__ADS_1
"Tidaklah kamu melihat sorot matanya padaku dan kamu? Seharusnya dari sana kamu bisa menilai seberapa bencinya dia pada kita berdua!"
"Dia hanya belum mengenalku, Kak Niel. Sama sepertimu. Dulu pun kamu tak menyukaiku, bukan?" selidik Kyra membela diri.
"Aku hanya tidak suka mengenal orang baru," kelit Daniel.
"Bisa saja Ayah kalian juga punya pikiran seperti itu. Mom Elena juga sempat tak menyukaiku. Aaah, dasar memang kalian keluarga aneh!" gerutu Kyra kesal sendiri. Ia merasa terjebak di keluarga Lazuardi yang sangat misterius yang wataknya bisa berubah di setiap menitnya.
Percakapan mereka berdua terhenti ketika ponsel Daniel berdering. Panggilan dari Bara.
"Kamu kembalilah ke kamar Bara. Aku akan pulang dulu untuk mandi," perintah Daniel tanpa mengangkat telepon dari adiknya.
Kyra mengangguk. Ia pun lantas membalikkan badan dan berlalu begitu saja.
Melihat kekecewaan di mata Kyra, membuat Daniel jadi merasa bersalah. Entah mengapa sorot mata Friz pada Kyra tadi seolah dejavu. Sorot itu pernah ia lihat beberapa tahun lalu ketika Daniel memperkenalkan Clara.
"Semoga kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan," ucap Daniel penuh harap sebelum kemudian ia pun berlalu pergi.
Sementara itu, Kyra yang sudah tiba di kamar Bara, membuka pintu kamar itu dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia takut Bara tidur dan menggangunya.
"Kenapa lama se--" ucapan Bara terhenti ketika ia melihat yang masuk ke kamarnya adalah Kyra. "Kenapa kamu kembali ke sini! Bukankah aku sudah menyuruhmu beristirahat di rumah!"
Kyra menutup pintu dan mendekat ke ranjang suaminya. "Aku nggak bisa tidur!" sahutnya sembari duduk di tepian ranjang.
Kening Kyra mengerut. "Kok kamu tahu?"
Giliran Bara yang terhenyak dan salah tingkah. "Itu ... Itu karena kalian berisik sekali!"
"Berarti kamu sebenarnya sudah sadar dari semalam?" selidik Kyra sembari memicingkan mata.
"Bagaimana tidak sadar, suara tawamu kencang sekali! Bahkan orang mati bisa mendadak bangun hanya dengan mendengar suara tawamu yang membahana!" tuduh Bara tanpa titik dan koma.
"Memangnya kenapa kalo aku ketawa? Daripada aku harus nangis-nangis, nanti kamu tambah marah! Jangan nangis, aku nggak mau anakku kenapa-kenapa!" Kyra menirukan kalimat terakhirnya dengan logat bicara Bara.
Mimik tegang Bara mendadak luluh, sorot matanya mulai meredup.
"Setidaknya bersedihlah untukku. Kamu bahkan bertingkah seolah aku tidak penting untukmu," curhatnya tiba-tiba.
"Dih! Tumben sekali kamu bicara seperti ini? Apa efek obat itu membuatmu lupa pada perkataan terakhirmu padaku?" olok Kyra terkekeh. Namun, hatinya mendadak tak santai mendengar suara Bara yang sangat lembut.
Bara menatap netral milik Kyra. "Memangnya aku bicara apa?"
__ADS_1
Menyadari arah pembicaraan mulai menjurus ke obrolan mengenai hati, Kyra menggeleng dan bangkit dari samping Bara. Ia tak ingin terjerumus lagi dan merasa ge-er sendiri.
Namun, belum sempat Kyra menjauh, Bara lebih dulu menahan pergelangan tangan istrinya itu dan menariknya untuk kembali.
"Memangnya apa yang kamu tangkap dari perkataan terakhirku padamu?"
"Perkataanmu membuatku membatasi diri untuk mengenalmu lebih jauh, Bara. Aku sudah berhenti untuk berharap lebih padamu. Jadi tolong jangan bahas masalah ini lagi agar kita nggak bertengkar," mohon Kyra.
"Kenapa kamu takut untuk berharap lebih? Bukankah kita sudah berjanji untuk belajar membuka hati?" desak Bara kecewa.
"Di sini hanya aku saja yang berusaha, sementara aku tidak melihat usaha yang sama darimu. Kamu masih menyimpan perasaan pada Valeria dan hubungan ini tidak akan berhasil."
Bara mengeratkan genggamannya di tangan Kyra. "Kenapa kamu masih membahas Valeria? Aku sudah melupakannya, Kyra. Aku harus bagaimana lagi agar kamu percaya bahwa pertemuan dengannya saat itu hanyalah kebetulan."
Dengan gerakan lemah, Kyra berusaha melepas genggaman Bara. Namun, suaminya itu justru semakin kuat mengeratkan jemarinya.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" tanya Bara penasaran. "Apa aku berhasil membuatmu jatuh cinta pada pesonaku?"
"Dih, percaya diri sekali kamu!" cibir Kyra kesal. "Kamu adalah lelaki terakhir yang aku pilih seandai-- hmpp!"
Belum sempat Kyra menyelesaikan perkataannya, Bara lebih dulu menarik tubuh istrinya itu dan menempelkan bibir mereka. Kyra terbelalak untuk beberapa detik. Namun, Bara memaksanya untuk membuka bibirnya sedikit agar bibir mereka bisa saling bertaut. Selama satu menit, ciuman hangat dan basah itu membuat tubuh Kyra memanas bak di sauna. Akan tetapi, sebuah gerakan di perutnya membuat Kyra kembali terbelalak dan menarik bibirnya perlahan.
"Ada apa?" tanya Bara bingung ketika Kyra buru-buru menyibak jaket cardigannya dan menatap perutnya.
"Dia bergerak, Bara!" jerit Kyra tertahan ketika sebuah tendangan kembali menyapanya.
"Oh ya?" Bara buru-buru menempelkan tangannya di perut Kyra.
"Sebelah sini, coba pegang." Kyra mengarahkan tangan suaminya di sisi perutnya yang lain agar Bara juga bisa merasakannya.
Dug.
Sebuah gerakan kecil terasa oleh tangan Bara. Ia tertawa bahagia ketika untuk pertama kalinya, keberadaan buah hatinya bisa ia rasakan dengan tangannya sendiri.
"Halo, Jagoan! Ini Daddy," sapa Bara diantara tawanya.
Sebuah gerakan kecil menyendul sekali lagi dan membuat tawa Bara semakin membahana. Ia menyeka sudut matanya yang basah karena terharu dengan kejutan kecil membahagiakan ini.
Melihat Bara menangis, membuat Kyra jadi ikut mellow. Ia mengusap air mata itu dengan jemarinya yang lentik.
"Terima kasih, Kyra. Terima kasih sudah menjadi ibu untuk anakku," ucap Bara bersungguh-sungguh. Ia menarik tubuh istrinya itu dan membawanya ke pelukan. "Aku mencintaimu."
__ADS_1
...****************...