
"Dulu aku dan Niel sangat dekat, bahkan kami tidur sekamar sampai dia SMA." Bara menerawang sembari tak lepas memeluk Kyra yang kini berada di ranjang yang sama dengannya.
Kyra mendongak mengawasi suaminya. "Berapa tahun selisih umurmu dan Kak Niel?"
Bara menunduk sekilas. "Lima tahun," sahutnya sembari mengeratkan pelukannya di tubuh mungil istrinya. "Kami mulai jauh ketika Niel kuliah di luar negeri. Dia pergi di saat aku terpuruk usai mendengar perkataan Elena."
Giliran Kyra yang memeluk Bara semakin erat. Ia hanya ingin berbagi kekuatan agar suaminya itu tahu bila dia tak sendiri.
"Setelah Niel kuliah, lalu datanglah Edy. Dengan Edy, aku menemukan sosok saudara yang berbeda cara pandang dan pergaulannya. Edy yang sejak kecil terbiasa hidup di Amerika, mulai mengajariku bagaimana cara hidup di sana. Kami tumbuh besar bersama, mendapatkan apapun dalam porsi yang sama."
Bara terdiam sejenak, dari sorot matanya yang kosong, Kyra bisa memahami betapa Bara sangat terluka atas perbuatan Edy yang tega merebut kekasih yang hampir saja menjadi istrinya.
"Hingga akhirnya dia menganggap semua yang aku miliki, adalah milik dia juga," lanjut Bara dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi aku dan bayi ini hanya milikmu, Bara." Kyra merapatkan pelukannya hingga pria itu merasa hangat dan nyaman. "Kami hanya milikmu."
Bara mengangguk dan menatap netral coklat milik Kyra. "Ya ... Hanya kalianlah yang aku miliki saat ini."
__ADS_1
"Boleh aku tanya lagi satu hal?"
"Tentu saja. Jangankan satu, seratus pertanyaan pasti aku jawab!" goda Bara terkekeh.
"Mengapa dulu kamu berpura-pura tidak mengenal Kak Daniel? Masalah apa sebenarnya yang terjadi di keluarga kalian? Aku dengar gosip dari teman-teman kantor, katanya Kak Niel seorang duda, benarkah begitu?"
"Pertanyaanmu jumlahnya tiga, bukan satu," tandas Bara meledek Kyra yang langsung mencubit lengannya.
"Jawab saja kenapa, sih! Kamu senang sekali menggodaku!" sungut Kyra.
"Niel memang duda. Dia pergi meninggalkan mansion karena lebih memilih untuk hidup bersama kekasihnya yang akhirnya ia nikahi dan kemudian meninggal karena leukimia."
Bola mata Kyra sontak terbelalak. "Benarkah? Kasian sekali Kak Niel."
"Dad tidak menyetujui hubungan mereka karena gadis yang Daniel nikahi adalah gadis miskin yang sakit-sakitan. Entahlah saat itu aku tak habis pikir dengan keputusan kakakku itu, tapi sekarang aku paham mengapa dia sampai rela meninggalkan mansion demi wanita," jelas Bara dengan wajah serius.
Mendengar penjelasan itu, Kyra seketika ingat perkataan Elena bila Bara sempat bersujud di depan orang tuanya hanya untuk meminta restu.
__ADS_1
"Bahkan ada yang sampai rela bersimpuh dan menyampingkan egonya, ya?" sindir Kyra terkekeh.
Bara mendelik, ia menatap Kyra penuh selidik. "Apa Elena yang menceritakannya padamu? Dasar comel!"
"Heii, jaga ucapanmu. Bayimu bisa mendengar semua perkataan dan umpatanmu, tahu!" sungut Kyra kesal.
"Ups, iya." Tangan kekar Bara terulur perlahan ke perut istrinya. "Maaf ya, Baby. Daddy keceplosan. Ingat, jangan masukkan perkataan Daddy barusan ke dalam kamus bahasamu, oke?"
Malam yang semakin larut tak membuat Bara dan Kyra berhenti bercerita tentang masa lalu mereka berdua. Sesekali Kyra tertawa ketika kekonyolan Bara membuatnya gemas. Pun ketika Bara bercerita tentang kerinduannya pada sosok mendiang mama yang tak pernah bisa ia ingat wajahnya, Kyra akan memeluk suaminya itu untuk sekedar membagikan kekuatan. Kyra paham bagaimana rasanya karena ia sendiri pun tak memiliki sosok seorang ibu dalam hidupnya.
"Aku akan belajar untuk berubah demi kamu dan bayi kita. Mungkin tidak bisa berubah secara drastis tapi aku janji akan melakukannya perlahan-lahan. Selama proses itu, aku harap kamu selalu berada di sampingku dan mensuportku." Bara menggenggam tangan mungil Kyra ketika mengucapkan janjinya. "Aku juga berjanji akan membuka hatiku, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini adalah cinta atau bukan, tapi yang pasti aku tidak mau kehilangan kamu, Kyra."
Kyra tercekat mendengar kalimat menggetarkan hati itu, ia hanya merespon dengan senyuman.
"Kamu pun berjanjilah untuk membuka hati. Agar ketika anak kita lahir, kita berdua sudah yakin bila kita saling mencintai."
...****************...
__ADS_1