
Sebulan berlalu, pasca kejadian yang menghebohkan itu Bara masih belum benar-benar sembuh dan harus kontrol setiap minggunya ke Rumah Sakit. Ia menempati apartemen milik keluarganya yang berada di pusat kota Singapore. Kyra pada akhirnya ikut menemani di apartemen untuk merawat sekaligus melayani suaminya.
Pada pagi hari hingga siang, Kyra akan pergi kuliah. Meskipun Bara telah memintanya untuk cuti sementara karena tak ingin Kyra kelelahan membagi waktu antara merawat dirinya dan kuliah, akan tetapi Kyra menolak saran itu dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Ia berjanji tak akan memforsir dirinya sendiri.
Urusan pekerjaan di Indonesia, sementara waktu ditangani oleh Daniel dan Morgan hingga Bara dinyatakan sembuh oleh Dokter. Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan karena luka di dadanya sudah mengering, akan tetapi Dokter masih tak mengijinkan Bara terlalu banyak beraktifitas mengingat luka tembakan itu nyaris mengenai jantungnya. Dan memang sesekali rasa nyeri bisa kadang-kadang datang menyerang saat dirinya terlalu lelah.
Siang ini, Bara sudah menyiapkan kejutan untuk Kyra. Sudah sejak lama ia ingin mengulang momen yang seharusnya berlangsung dengan romantis namun malah berakhir tragis.
Sembari menunggu Kyra pulang kuliah, Bara menyibukkan dirinya dengan merapikan kamar tidur mereka. Melihat bantal milik Kyra yang teronggok tepat di samping bantalnya, Bara tersenyum lega. Meskipun mereka masih belum melakukan hubungan suami istri kembali, akan tetapi Bara yakin Kyra pasti mau melakukannya bila dia memberi kejutan itu. Selama sebulan ini, Kyra yang selalu kelelahan pasti akan terlelap lebih dulu dibanding Bara. Dan dia mana tega memaksa Kyra untuk melayani hasratnya mengingat istrinya itu pasti sangat lelah usai kuliah dan pulangnya masih harus merawat dirinya.
Cklek.
Bara yang sedang asyik melamun tersentak kaget dan menoleh cepat ke arah pintu.
"Kamu ngapain?" tanya Kyra heran melihat Bara sedang memeluk bantalnya.
Sambil mendekat, Kyra melempar tasnya ke atas sofa. Ia menelisik perubahan di wajah Bara yang mendadak panik dan gugup.
Seperti maling yang kedapatan mencuri, Bara meletakkan bantal itu dan berdiri.
"Aku sedang merapikan kasur!" sahutnya kikuk.
"Aku tadi sudah merapikannya sebelum berangkat. Hayoo, kamu berhalusinasi ya sama bantalku?"
"Dih, untuk apa!" elak Bara cepat sembari melenggang keluar dari kamar.
__ADS_1
Kyra tertawa kecil melihat wajah yang tersipu memerah itu. Bara seperti anak kecil ketika sedang malu, sangat menggemaskan!
"Kemarilah, aku mau menunjukkan sesuatu sama kamu!" perintah Bara dari luar kamar ketika ia sudah bisa menguasai dirinya yang malu akibat tertangkap basah menciumi bantal istrinya.
Dengan rasa gugup yang tak bisa ditutupi, Bara menyimpan amplop kejutan untuk Kyra dibalik badannya. Ia menunggu cukup lama hingga akhirnya Kyra muncul setelah berganti pakaian.
"Kamu sudah minum obatmu?" Kyra mengawasi tumpukan obat di meja makan sambil beringsut duduk di sebelah suaminya.
Bara mengangguk ketika Kyra menatapnya. Rasa grogi bercampur malu membuat Bara menundukkan kepala ketika tatapan istrinya nampak sangat lekat mengawasinya.
"Dih, kamu kenapa, sih? Aneh banget hari ini!" ledek Kyra terkekeh.
Bukannya menjawab, Bara menarik keluar tangannya dari balik punggung dan memberikan amplop itu pada Kyra.
"Bukalah! Jangan cerewet!" rutuk Bara kesal karena semakin lama Kyra mengoceh malah membuatnya semakin grogi dan malu.
Sambil terus menertawakan keanehan suaminya, Kyra membuka amplop itu dan terdiam untuk beberapa saat ketika mengeluarkan isinya. Sebuah tiket ... Kapal pesiar.
"Bara ini?"
"Ayo, kita berangkat minggu depan. Aku ingin mengulang momen indah itu bersamamu," pinta Bara memohon.
"Tapi kamu belum sembuh. Dokter--"
"Aku sudah minta izin sama Dokter dan dia memperbolehkanku berangkat dengan satu syarat."
__ADS_1
Kyra mengerutkan keningnya penasaran. "Syarat apa?"
"Syaratnya adalah kamu ikut denganku agar bisa terus merawat lukaku." Bara meraih tangan Kyra dan menciumnya dengan lembut. "Mau kan berangkat? Kita bahkan belum pernah bulan madu!!"
Wajah yang sesaat lalu tersipu malu, lantas berubah memelas dan sekarang berubah lagi menjadi bersungut itu tak pelak membuat Kyra kembali tertawa. Bara cukup ekspresif belakangan ini.
"Kita pergi berapa lama?"
"Seminggu!"
Kyra mendelik. "Seminggu? Terus gimana dengan kuliahku!?"
"Ck, bukankah aku sudah memintamu cuti! Kenapa keras kepala sekali, sih! Kamu bisa melanjutkan kuliahmu nanti di Indonesia saat kita sudah kembali. Apa salahnya menyenangkan suami sekali-kali!"
Ocehan yang bernada protes itu kembali membuat Kyra tertawa. "Kamu sekarang mirip ibu-ibu yang lagi ngomelin anaknya yang nakal!"
Bara mendengus. Ia merampas tiket yang masih berada di tangan kiri istrinya dan beringsut berdiri.
"Ya sudah kalo tidak mau! Aku hibahkan saja tiket ini ke--"
Ucapan Bara terhenti ketika Kyra lebih dulu memeluknya dengan erat dari arah belakang. Istrinya itu bersandar dan menghirup aroma tubuh Bara yang selalu membuat jantungnya berdebar.
"Baiklah, mari kita berangkat minggu depan!"
...****************...
__ADS_1