I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
si Tuan Lemah


__ADS_3

Bara didiagnosa Tifus setelah hasil lab keluar beberapa jam pasca ia dirawat. Alhasil, dia harus dirawat lebih lama lagi di Rumah Sakit hingga kondisinya benar-benar pulih. Keesokan hari usai semalaman berada di ICU, akhirnya Bara bisa dipindah ke ruang rawat inap. Beruntung Daniel dan Morgan setia menemani Kyra hingga Bara dibawa ke kamar VVIP room.


"Kamar President suite penuh, jadi aku memilih kamar ini untuk Bara," jelas Daniel sembari berjalan beriringan dengan Kyra, mengikuti Bara yang dibawa menggunakan brankar menuju kamarnya.


"Nggak apa, Kak Niel. Terima kasih banyak sudah membantuku dan Bara."


Tiba di kamar rawat inap, Bara yang sudah sadar sejak tadi subuh mengawasi keakraban Kyra dan Daniel dengan risih. Sesekali Kyra tertawa ketika mengobrol dengan Kakaknya itu.


"Aku lapar, tolong suapin aku makanan!" keluh Bara dari ranjang pasien.


Daniel dan Kyra yang sedang asyik mengobrol, menoleh bersamaan ke arah ranjang. Kyra bahkan tak menyadari bila Bara sudah membuka mata sejak tadi saking serunya mengobrol dengan Daniel.


"Dokter menyarankan untuk makan makanan yang lembut dulu sementara waktu. Biar aku minta Morgan membeli bubur ayam, ya? MakananĀ  dari Rumah Sakit masih belum diantar kemari," jelas Kyra sembari bangkit dan menghampiri ranjang suaminya.


"Tidak mau, aku mau makan nasi goreng buatanmu!" Bara membuang muka.

__ADS_1


Kyra yang sudah berada di sisi ranjang Bara, hanya bisa menghela napasnya lelah. Ia menoleh pada Daniel untuk meminta bantuan membujuk suaminya.


"Apa kau tahu, Kyra masih cantik loh!" puji Daniel dari sofa. Ia mengawasi adik iparnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Merasa sedang diperhatikan dengan lekat, Kyra berpaling dengan keki. Sayangnya, wajah yang tersipu itu terlihat oleh Bara yang juga sedang mengawasinya.


"Kalo kamu sampai meninggal, pasti banyak yang akan mengantri untuk menikah dengan janda kaya seperti dia."


Bara mendengus mendengar sarkas Daniel. Ia mengamati ekspresi Kyra yang semakin memerah bak tomat.


"Ya sudah, suruh Morgan beli buburnya!" putusnya kesal.


"Kamu pulanglah dengan Morgan. Istirahatlah di rumah. Biar Niel yang menjagaku hari ini," lanjut Bara memerintah.


"Nggak mau, aku bisa istirahat di sini, kok! Tuh di sini juga ada tempat tidur." Kyra menunjuk tempat tidur untuk pendamping yang berada di pojok ruangan.

__ADS_1


Bara berdecak mendengar penolakan istrinya. "Bandel sekali! Sana pulang."


"Bara benar, istirahatlah dulu di rumah kalian. Nanti sore kamu bisa kembali ke sini dan gantian menjaga Bara." Daniel bangkit dari sofa dan menghampiri suami istri itu. "Pulanglah, toh Bara hanya butuh istirahat. Masa kritisnya sudah lewat. Kamu tidak akan menjadi janda."


"Niel! Mulutmu lamis sekali!" protes Bara kesal. Ia memelototi Kakaknya itu dengan sinis.


"Sudah sudah, kalian seperti Tom dan Jerry. Baiklah kalo begitu aku pulang. Nanti sore aku kembali lagi."


"Hmmm." Bara melengos ketika Kyra akhirnya menuruti kemauannya.


Bukan tanpa alasan Bara meminta Kyra pulang. Ia ingin ngobrol berdua dengan Daniel untuk mengonfirmasi perkataan Vale. Meski sedikit meragukan perkataan mantannya itu, namun segala kemungkinan bisa terjadi di dunia bisnis, bukan? Bara tak ingin menutup kemungkinan itu.


"Bye, Kak Niel! Bara, aku pulang!" pamit Kyra sembari meraih tas ransel kecilnya di meja ruang tamu.


Bara menolehi istrinya, ia mengawasi Kyra hingga wanita itu menghilang di balik pintu. Kini tersisa dirinya dan Daniel, kakaknya itu berpindah posisi ke ranjang pendamping dan merebahkan tubuhnya di sana.

__ADS_1


"Niel, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah kamu mengenal Valeria?"


...****************...


__ADS_2