I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Izland


__ADS_3

Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Bara lebih memilih untuk tidak naik kapal pesiar itu agar Kyra tak pernah hadir di dalam hidupnya.  Bara tidak pernah menyesal sudah mencintai Kyra. Ia hanya berpikir, mungkin Kyra jauh akan lebih bahagia bila tak mengenal seorang Bara.


"Dia mengalami pendarahan hebat, bayinya tidak bisa diselamatkan. Hanya keajaiban yang bisa membangunkannya dari koma karena pendarahan itu telah membuat beberapa organ penting di tubuhnya perlahan mulai kehilangan fungsi."


Penjelasan Dokter beberapa saat yang lalu bagaikan hantaman batu karang ribuan ton. Bara hanya bisa melihat istrinya dari balik kaca dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan steril itu. Hatinya hancur melihat Kyra terpejam tak berdaya dengan selang oksigen dan beberapa kabel menempel di tubuhnya. Pun demikian, mengetahui bayi mereka tak bisa diselamatkan membuat Bara semakin merasa bersalah.


"Bara, pulanglah. Biar aku yang berjaga di sini sampai nanti malam." Daniel menepuk bahu adiknya yang sejak tadi tak sekalipun  beranjak dari dinding kaca yang menjadi batas ruangan Kyra.


Bara menggeleng. Ia tak ingin beranjak dari samping Kyra. Ia takut, berbagai pikiran buruk memenuhi kepalanya.


"Dia tidak akan pergi kan, Niel?" racau Bara dengan lirih.


"Kyra wanita yang kuat. Dia pasti bisa melewati masa kritisnya. Sekarang fokuslah dulu untuk mengubur bayi kalian. Kasihan bila dia terlalu lama menunggu," saran Daniel sembari menolehi ruangan lain di mana janin itu sudah dibersihkan dan siap dikuburkan.


"Morgan sudah menunggumu di tempat parkir. Kami juga sudah mengatur pemakamannya. Bayimu akan dimakamkan di samping pusara mama. Cepatlah! Kasihan bayimu." Sekali lagi Daniel menepuk pundak adiknya agar tak terus melamun.


Meski berat meninggalkan Kyra, pada akhirnya Bara menuruti saran kakaknya. Ia membawa bayinya yang sudah disimpan di peti kecil dengan hati hancur. Tadi sebelum peti itu di tutup, Bara diperbolehkan melihat janinnya yang ukurannya tak lebih besar dari telapak tangannya. Sudah terbentuk tangan dan kaki, dan yang paling membuat Bara hancur adalah ketika Dokter mengatakan bila bayi mereka berjenis kelamin lelaki.

__ADS_1


"Kita berangkat, Pak?" tanya Morgan sembari melirik Boss-nya dari spion tengah.


Bara mengangguk lemah, ia masih memeluk peti kecil itu dengan tatapan kosong. Ia tak pernah menyangka di hari kelahirannya, ia justru harus melepas darah dagingnya.


"Maafkan Daddy, Jagoan. Maafkan Daddy  ..."


Entah sudah berapa kali Bara mengatakan kata penyesalan sembari memeluk peti itu dengan erat.


"Tolong, jangan bawa Mama pergi. Biarkan Mama tetap di sini bersama Daddy."


Morgan yang bisa mendengar dengan jelas ucapan demi ucapan memilukan itu, hanya bisa mengamini doa Bara dalam hati. Baru kali ini ia melihat Boss-nya sedemikian terpuruk, bahkan putus dengan Valeria saja Bara tak sampai menangis. Sosok lain seorang Bara yang rapuh bisa dilihat dengan sangat jelas hari ini.


"Kita sudah sampai, Pak."


Suara Morgan membuat kesadaran Bara kembali. Ia mengawasi kompleks pemakaman elite yang merupakan tempat peristirahatan terakhir pada konglomerat. Sambil tetap memeluk erat peti berisi bayinya, Bara mengikuti Morgan menuju blok makam milik keluarga Lazuardi.


Dua orang petugas yang stand by untuk menguburkan jasad menerima peti dipelukan Bara dan dengan sigap turun ke dalam lubang yang sudah di gali. Mereka selesai menyelesaikan tugasnya tiga puluh menit kemudian.

__ADS_1


"Izland El Lazuardi"


Nama yang tertulis dengan pena emas di batu nisan itu membuat Bara menghembuskan napas panjang. Nama itu sudah ia persiapkan sejak lama, ia ingin kenangannya di pulau bersama Kyra menjadi abadi di nama bayi mereka. Namun, takdir berkata lain. Baby Izz tak bisa terus hidup ditengah mereka lagi.


"Maafkan Daddy, Izz. Beristirahatlah dengan tenang. Daddy janji, setelah ini Daddy akan menjaga Mama dengan baik." Setetes air mata lolos sekali lagi dari sudut mata Bara. "Tolong, biarkan Mama tetap tinggal di sini bersama Daddy."


Dengan sigap, Morgan mengulurkan selembar tisu pada Boss-nya dan berpaling untuk menghindari pemandangan mengharukan itu. Ia benci perpisahan.


Setelah membaca doa, Bara pun bangkit dan menghampiri makam Mamanya.


"Mom, titip Izland ya, dia cucu pertamamu yang akan menemanimu di sana. Tolong jaga baby Izz sampai tiba waktunya kita semua berkumpul kembali."


Morgan menyeka air matanya yang seketika menetes. Ia berbalik dan berusaha menulikan telinganya dari setiap perkataan Bara yang menusuk hati.


"Morgan, setelah ini antarkan aku menemui Ayah Roni."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2