I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Menantuku?


__ADS_3

Setelah Bara terbuka mengenai kisah masa lalunya, hubungannya dan Kyra menjadi lebih baik dan solid. Demi bayi yang dikandungnya, saat ini Kyra sedang berupaya untuk membuka hati atas kebaikan dan ketulusan Bara. Pun demikian dengan pria temperamen itu, demi menjadi sosok suami yang diidam-idamkan Kyra, ia berusaha mati-matian untuk mengontrol emosi dan kesabarannya yang setipis lembaran tisu.


Memasuki usia kandungan 4 bulan, Kyra yang selalu aktif tak sekalipun memiliki waktu luang untuk bermalas-malasan. Ia mengambil kelas belajar make up, berenang 3x seminggu untuk terapi asma-nya, ikut kelas memasak dan kelas ketrampilan lainnya agar tak suntuk berada di Penthouse sendirian. Dua kali seminggu, ia akan mengunjungi kantor Bara untuk makan siang bersama atau bertemu teman-temannya.


Seperti pagi ini, sejak Bara berangkat ke kantor, Kyra sudah disibukkan dengan bahan makanan yang akan ia masak untuk bekal makan siang suaminya. Kemarin ketika kursus memasak, Kyra praktik menu baru dan hari ini ia ingin memasak menu itu agar bisa di cicipi oleh Bara. Sambil bersenandung, ia mengupas bawang dan semua bahan yang sudah ia siapkan.


Jam 11 siang, Kyra berangkat menuju kantor Bara setelah Pak Tino menjemputnya. Selama di perjalanan, Kyra yang ramah pada siapapun, mengobrol dengan supir paruh baya itu hingga mereka tiba di kantor Bara.


Semua staf membungkuk hormat ketika berpapasan dengan istri Sang CEO itu di sepanjang lobi dan lorong menuju ruangan Bara. Meskipun Kyra jadi canggung karena tak terbiasa mendapatkan perlakuan spesial seperti itu dari orang-orang, ia berusaha untuk menghargai sapaan setiap staf itu dengan balas membungkukkan badan pada mereka.


Tting.


Lift terbuka di lantai 25. Sambil mengayunkan langkah keluar dari lift, Kyra memperhatikan paper bag yang ia tenteng. Ia tak mau ada barang yang ketinggalan karena Bara pasti akan kesal bila sifat pelupa Kyra kambuh di saat- saat genting.


Saking fokusnya mengecek isi paper bag, Kyra jadi tak memperhatikan langkahnya. Hingga ketika berbelok di lorong menuju ruangan Bara, tubuh mungilnya bertabrakan dengan badan tinggi besar yang sangat wangi.


Tanpa sengaja, Kyra yang sedang mengeluarkan sendok dan garpu, malah menggores telapak tangan pria itu dengan garpunya ketika mereka bertubrukan.


"Oh, maaf! Maafkan saya!" mohon Kyra dengan rasa bersalah sembari meletakkan paper bag-nya di lantai dan meraih tangan lelaki itu.


Darah yang keluar dari telapak tangan yang besar itu membuat Kyra seketika panik bukan main. Ia mendongah sekilas karena pria yang itu hanya diam tak berkata apapun.


"Maafkan saya, Tuan. Saya nggak sengaja." Kyra menarik tas ranselnya ke depan dan merogoh kotak kecil berisi peralatan p3k yang tak boleh absen ada di dalam tasnya.


Dengan sigap, Kyra mengeluarkan plester luka bergambar emoticon 'peace and love' lantas memasangnya pada luka berdarah itu. Saking paniknya, Kyra asal memilih plester itu tanpa memilih lebih dulu motifnya.


"Maafkan saya ya, Tuan. Ini lukanya sudah saya obati," pinta Kyra seraya memberanikan diri mengawasi pria itu.

__ADS_1


Bukannya menjawab, lelaki seusia Ayah Kyra itu hanya diam menatapnya. Sekilas, Kyra merasa familier dengan wajah pria ini, sepertinya mereka pernah bertemu, tapi di mana, ya? Atau jangan-jangan dia salah satu dewan komisaris di perusahaan Bara.


"Baiklah, bila Tuan sudah memaafkan saya, saya permisi dulu. Sekali lagi saya minta maaf." Kyra membungkuk sopan dan buru-buru meraih paper bag yang tadi ia geletakkan di lantai.


Karena pria itu masih bungkam, dengan langkah terburu-buru, Kyra segera berbelok menuju ruangan suaminya. Bisa gawat kalo Bara sampai tahu ia sudah melukai orang lain di kantor ini.


Sementara itu di ujung lorong tadi, Friz mematung kaku sambil memperhatikan plester bergambar emoji kekanakan itu sambil tersenyum kecut.


"Diakah orangnya, Wil?" tanya Friz sembari menolehi Sekretarisnya yang berdiri di belakang.


"Betul, Pak. Wanita itu adalah menantu anda, istri Pak Bara."


.


.


Tak ingin membuat Kyra sedih, meskipun rasa masakan ini tak jelas manis dan asinnya, Bara hanya mengangguk.


"Enak," sahutnya lirih. "Tapi aku lebih suka kamu membawakanku bekal ayam teriyaki atau ayam lalapan daripada makanan absurb seperti ini."


"Absurb?" Kyra memotong cepat. "Ini makanan yang aku praktekkan di tempatku les kemarin. Resep ini dari chef internasional!"


"Iya iya, ini enak kok, Sayang," puji Bara mulai panik karena ekspresi Kyra berubah tegang. "Enak sekali, loh!"


Tatapan Bara beralih pada Morgan yang sedang memperbaiki mesin printer di meja kerja Bara. "Kamu mau mencicipinya, Morgan?"


Kyra menolehi Morgan yang sontak berdiri dengan keki.

__ADS_1


"Morgan belum makan siang? Kalo begitu makanlah punyaku, Morgan."


Sambil mengunyah makan siang yang tak jelas rasanya, Bara menatap Morgan dengan bahagia. Sementara itu, Morgan hanya bisa menghela napas pasrah ketika sadar telah dikerjai lagi oleh Boss-nya.


"Makanlah!" tawar Kyra sembari mengulurkan kotak bekal berwarna pink miliknya pada Morgan.


"Baik, Nona," sahut Morgan patuh."Terima kasih."


"Kalian makanlah dengan tenang, aku sedang ada panggilan war! Awas kalo makanan ini nggak kalian habiskan!" ancam Kyra sembari menatap Bara dan Morgan bergantian.


Kedua lelaki itu mengangguk patuh. Sambil menelan makanan itu dengan susah payah, Bara dan Morgan saling menatap dari kejauhan.


"Rasakan kau!" tawa Bara dalam hati sambil mencibir dan menjulurkan lidah pada Morgan dari meja di tengah ruangan.


"Makanan ini enak sekali, Nona. Bagaimana kalau besok anda membawakan bekal seperti ini lagi untuk kami?"


Bara melotot mendengar permintaan Morgan. Ia mengepalkan salah satu tangannya di bawah meja sebagai kode bila ia akan menghajar Sekretarisnya itu.


Kyra yang sedang asyik melakukan serangan pada musuh virtualnya sontak berbinar mendengar pujian Morgan.


"Benarkah? Enak, kan?!" tanyanya memastikan sambil menatap Morgan.


"Enak sekali, Nona. Saya menyukainya."


"Baiklah, aku akan memasakkan menu itu lagi untuk kalian berdua besok!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2