
Keesokan hari, Kyra sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan spesial suaminya. Selama hamil, Kyra yang tak suka aneka macam seafood, pagi ini justru memasakkan menu seafood kesukaan Bara.
Seporsi kerang bumbu rica-rica dan seporsi cumi hitam bakar sudah tersaji lengkap dengan sambal serta nasi hangat.
"Hmmm, sepertinya ini akan jadi sarapan ternikmat untukku!"
Belum menyantap, Bara sudah lebih dulu memuji masakan Kyra yang aromanya memenuhi ruang makan. Ia bergegas menuang beberapa sendok kerang ke piring dan melahapnya usai berdoa.
"Enak?" tanya Kyra memastikan.
Bara mengangguk cepat. "Ini kerang terenak yang pernah aku makan! Besok masakin lagi, ya!?"
"Nggak mau, ah! Terlalu banyak makan seafood nanti malah bahaya untuk kesehatanmu," tolak Kyra enggan.
Tak cukup dengan kerang, Bara meraih cumi bakar dan mencobanya. "Ini juga empuk! Wah, kamu benar-benar mempraktekkan ilmu memasakmu dengan baik!" Sorot mata yang bersinar itu tidak sedang berbohong, Bara benar-benar menyukai masakan Kyra.
"Nanti malam, aku akan bilang sama Daddy kalo kamu bisa masak cumi yang enak. Daddy juga sangat suka cumi. Aku yakin dia pasti akan ketagihan dimasakin kamu!" lanjut Bara sambil mengunyah sarapannya dengan penuh kenikmatan. Sesekali ia meneguk air putih hangat yang sudah disiapkan Kyra di samping piringnya.
__ADS_1
"Bara, boleh aku ngomong sesuatu?" ucap Kyra ragu ketika sedari tadi ia hanya bungkam.
"Ngomong aja, ngapain pake ijin segala!"
Untuk beberapa detik, Kyra mencoba memilah kata yang tepat agar Bara mengerti maksud dan arah pembicaraannya.
"Aku mau kamu selalu hidup dengan baik."
Bara menghentikan gerakan tangannya yang hendak meneguk air dan menatap Kyra dengan bingung.
Kyra menggeleng cepat. "Nggak, aku hanya berkaca pada pengalaman Ayahku."
Bara jadi urung meneguk air itu, ia meletakkan kembali gelasnya dan mengawasi Kyra dengan lekat.
"Semalam kamu mimpi buruk, ya? Tumben sekali sepagi ini sudah mellow!"
Hanya seutas senyum sumbang yang menjadi respon Kyra. Sebuah tendangan kecil dari perutnya membuat Kyra seketika paham bila ia harus kuat untuk bayi mereka.
__ADS_1
"Jangan coba-coba pergi lagi dariku, Kyra. Kamu tahu seberapa besar usahaku untuk menikah denganmu. Aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun dan menyeretmu pulang!"
Kyra tertawa untuk menutupi rasa galaunya. Bila ia harus meninggalkan Bara beberapa bulan yang lalu, mungkin Kyra akan melakukannya tanpa berpikir panjang. Tapi kini semua sudah berubah setelah ia mengenal suaminya itu lebih dekat. Di balik semua sikap menyebalkan dan temperamen Bara, dia hanyalah sosok kesepian yang haus kasih sayang. Bara yang di luaran segarang singa, akan berubah menjadi sejinak kucing saat berada di dekat Kyra.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Makanlah sarapanmu dan segera minum vitamin." Bara kemudian meneguk air minumnya dan menatap Kyra dengan lekat. "Nanti malam kita akan makan di rumah Daddy. Untuk pertama kalinya, aku akan mengenalkanmu secara resmi pada keluargaku. Berdandanlah yang cantik."
Kyra mengangguk, ia mengantar Bara hingga menghilang di pintu lift. Begitu sosok suaminya telah tak terlihat lagi, perlahan-lahan tubuh Kyra pun luruh di lantai. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang beban berat yang dipikulnya seorang diri. Demi kebaikan Bara, suami yang ia cintai, pun demi masa depan anak yang ia kandung, Bara harus tetap berada di posisinya sebagai seorang CEO.
[Nanti malam aku akan membuat semuanya berakhir untukmu dan putraku. Bersiaplah, dan tunggu instruksi dariku.]
"Bara ...."
Air mata Kyra menetes tanpa mampu ia bendung. Hatinya sangat sakit, melihat Bara tersenyum padanya sebelum pintu lift tertutup tadi membuat rasa sesalnya pada Bara semakin dalam. Hanya inilah satu-satunya jalan, bukan?
"Kenapa kehilangan terasa lebih menyakitkan ketika rasa cinta mulai tumbuh di antara kita berdua," rintih Kyra diantara isak tangisnya yang menyesakkan dada. "Maafkan aku, Bara."
...****************...
__ADS_1