I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Jalan Buntu


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja hingga tanpa terasa tiga bulan terlewati. Perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Friz masih menjadi misteri. Mr. Hito belum jua menemukan siapa pemilik mobil sedan itu karena nopol yang digunakan adalah nomor palsu. Beliau juga sudah menelusuri pembeli mobil tipe tersebut di tahun mobil itu launching namun hingga kini, semua masih berupa jalan buntu. Beberapa mobil itu telah terjual ke pihak lain yang tak bisa ditelusuri keberadaannya.


Bara yang masih penasaran, tak berhenti begitu saja dengan kesulitan yang ia hadapi. Ia bergerak sendiri meskipun berkali-kali gagal dan tak mendapatkan apapun dari investigasi diam-diam yang ia lakukan. Tentu saja hal tersebut membuat pekerjaannya terbengkalai dan membuat Daniel curiga. Daniel mengira, adiknya tengah depresi setelah ditinggal Kyra.


Siang ini, rapat penting yang seharusnya dihadiri Bara pada akhirnya diwakili oleh Daniel dan Morgan karena adiknya itu mendadak pergi setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Tak ingin sang adik semakin menggila, akhirnya Daniel memutuskan mendatangi penthouse Bara untuk menanyakan keadaannya yang semakin meresahkan semua orang di kantor.


Tak ada siapapun di living room ketika Daniel tiba di sana. Sejak Kyra pergi, Daniel bertanya pada Morgan password pintu rumah Bara untuk berjaga-jaga bila terjadi suatu hal yang tak diharapkan. Dan ternyata dugaannya benar, tingkah Bara semakin diluar nalar.


Satu jam menunggu, pintu lift yang terbuka perlahan membuat Daniel tersadar dari lamunannya. Bara muncul dan tersentak kaget melihat kakaknya duduk di sofa sambil mengawasinya.


"Sejak kapan kamu datang?" dengus Bara sembari melanjutkan langkahnya dan melempar sebuah map di meja.


Usai mengendurkan tali dasinya, Bara menghempaskan pantatnya di sofa. Berpanas-panasan seharian membuat kepalanya mendidih, rambutnya terasa kering karena terpapar sinar matahari.


Melihat sang adik terlihat sangat kelelahan membuat Daniel semakin curiga. Apa saja yang ia lakukan hingga nampak kucel, kusut dan dekil begitu?


"Sejak pulang kantor tadi." Daniel bangkit dari sofa dan menghampiri kursi adiknya. "Dari mana saja kamu seharian ini, Bara? Orang produksi dan marketing menunggumu untuk memutuskan eksekusi produk baru yang minggu depan harus dilaunching!" sungut Daniel.


Alih-alih menjawab, Bara justru memejamkan matanya yang terasa diberi dumble seberat 10 kilo. Ia sangat mengantuk, sangat lelah.

__ADS_1


"Bara, aku bisa mencarikanmu psikolog bila perlu."


Mendadak rasa ngantuk itu sirna mendengar Daniel menganggapnya gila. Bara membuka mata dan beringsut duduk dengan kesal.


"Bisa-bisanya kamu menganggapku gila, Niel!" rutuk Bara dengan wajah terlipat kusut. "Aku masih waras!"


"Tapi kelakuanmu menunjukkan sebaliknya. Apa kamu tidak sadar bila kami semua mengkhawatirkanmu?"


"Aku hanya sedang sibuk dengan sesuatu. Tidak bisakah kalian memaklumi apa yang sedang aku lakukan?" pinta Bara memohon. "Aku serius, Niel. Aku masih waras!" dengusnya ketika Daniel masih saja menatapnya dengan pandangan menelisik.


Tak ingin membuat sang adik semakin marah, akhirnya Daniel mengalah. Ia beringsut duduk di sebelah Bara dan memperhatikan map yang tadi dilempar di meja. Penasaran, Daniel meraih map tebal itu dan membuka isinya. Tumpukan kertas berisi data diri beserta foto ID card, beberapa lembar foto hasil rekaman CCTV dan tak ada hal yang mencurigakan dari sana.


"Ada yang sedang berusaha membunuhku, Niel. Tapi dia salah sasaran."


"What?" Daniel mendelik syok. "Bara, jangan bercanda dengan ini!"


"Maaf karena aku baru memberitahumu. Aku menyewa detektif sejak beberapa bulan yang lalu setelah Daddy meninggal. Dan hasilnya adalah foto-foto itu, ada yang sengaja mencelakai Daddy." Bara menunjuk map yang masih berada di pangkuan Daniel.


"Aku belum bisa menemukan siapa pelakunya. Mobil itu platnya bodong dan sampai hari ini aku kesulitan mencari pemiliknya!" sesal Bara sedih.

__ADS_1


Lembaran-lembaran foto yang sejak tadi menyita perhatian Daniel membuatnya kembali terluka. Rasa dukanya belum hilang setelah kehilangan Daddy-nya. Terlebih, foto yang menampilkan bagaimana mobil itu dihantam oleh truk seolah menggambarkan betapa menyeramkannya keadaan saat itu.


"Lihatlah, mobil ini sudah mengintaiku sejak tiga hari sebelum kejadian." Bara menarik selembar foto yang menampilkan mobil sedan itu dan menunjukkannya pada Daniel. "Dan dia dengan sengaja berhenti tepat di tempat yang strategis agar mobilku yang saat itu dikendarai Daddy celaka!"


Daniel menarik foto di genggaman Bara dan memperhatikannya dengan teliti. Sebuah sedan merah memang terlihat parkir di dekat apartemen dengan tanggal yang berbeda. Tunggu, sedan merah?


"Sepertinya aku pernah melihat sedan ini, " desis Daniel menerawang.


"Tentu saja kamu pernah melihatnya, meskipun ini mobil mahal tapi pembelinya sudah berjumlah ratusan di kota ini!"


"Edy! Aku pernah melihat Edy mengendarainya, Bara. Bahkan Edy punya rumah yang tersembunyi di tengah hutan." Daniel menunjuk sedan merah di foto itu dengan pasti. "Aku tidak yakin dengan nomornya karena waktu itu aku dan Kyra sedang mengintai diam-diam."


"Kyra?" ulang Bara tercekat. "Apa yang kalian selidiki? Kenapa kalian melakukannya tanpa memberitahuku?"


"Itu karena Kyra memintaku merahasiakannya darimu. Dia mendapatkan alamat Edy dari temannya. Kalo kamu mau, kita bisa ke rumah itu sekarang!"


Semangat Bara yang tadi sempat kendur, mendadak berkobar kembali setelah mendengar ajakan Daniel. Meskipun lelah, setidaknya ada sedikit titik terang pada perkembangan kasusnya.


"Ayo, berangkat, Niel!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2