I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Membuka Mata Tanpamu


__ADS_3

Dingin, gelap dan sangat hening. Rasa sakit dan kaku diseluruh tubuh, membuat wanita yang telah seminggu lebih koma tersebut enggan untuk membuka mata. Namun, ada dorongan kuat di dalam batinnya yang mengharuskan ia membuka matanya dan memastikan satu hal.


Gerakan lemah di kelopak mata membuat seseorang yang sejak tadi menunggui dirinya sontak tersenyum lega.


"Kyra."


Bukan, bukan suara ini yang Kyra ingin dengar. Ada suara berat nan angkuh yang sangat Kyra rindukan, suara yang menuntunnya kembali ke dunia dan membuatnya ketakutan setengah mati ketika dia mengatakan akan pergi.


Sesosok lelaki paruh baya tertangkap oleh retina Kyra ketika kedua matanya telah sepenuhnya terbuka. Cinta pertamanya di dunia.


"Ya Tuhan, Terima kasih! Akhirnya kamu kembali, Nak!" Roni memeluk putrinya dengan deraian air mata. "Ayah sangat merindukanmu, Ky!"


Seorang lelaki berpakaian putih dan dua orang suster di samping kanan kirinya membuat Kyra yakin bila lelaki itu adalah Dokter yang menanganinya. Dokter itu tersenyum ramah dan melepas stetoskop yang sejak tadi menempel di kedua telinganya.


"Welcome back, Kyra! Baru kali ini saya percaya bila keajaiban itu nyata."  Dokter muda itu mengawasi pasien wanitanya dengan pandangan takjub luar biasa.


Seluruh tubuh Kyra masih terasa kaku, ia tak bisa merespon apapun selain melalui gerakan mata. Saat tak menemukan sosok yang ia cari di dalam ruangan yang penuh dengan berbagai macam alat itu, sinar di mata sayu itu perlahan berubah sendu. Ia pun kembali memejamkan mata dan berharap Bara segera datang menemuinya.


Tapi, tunggu... Dengan segenap kekuatannya yang tersisa, Kyra meraba perutnya dengan susah payah. Rasa sakit yang tadinya hanya ia rasakan di tubuh, kini menjalar ke dalam hati ketika perut yang tadinya buncit itu kini telah rata. Tidak! Jangan bilang bila Kyra telah kehilangan bayinya!!


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kandungan anda, tapi pendarahan itu membuat nyawa kalian berdua berada dalam bahaya. Kami mohon maaf," jelas Dokter tadi dengan kepala tertunduk.


"Yang sabar, Ky. Bayimu sudah tenang bersama Tuhan."

__ADS_1


Kyra menggeleng lemah, selang di hidungnya membuat setiap gerakan kepala yang ia lakukan terasa menyakitkan. Namun, kini tak ada yang lebih menyakitkan selain mendengar berita duka ini. Air mata menetes membasahi dua sudut mata Kyra, ia telah kehilangan bayinya. Bayi yang mati-matian dijaga oleh Bara, bayi yang perlahan ia cintai sepenuh hati.


Andai bisa berteriak, mungkin Kyra akan melakukannya saat ini juga. Nyatanya, hanya air mata pilu yang menjadi respon atas rasa sakit di dalam hatinya. Sangat menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan dari sekedar meninggalkan Bara.


"Suster, tolong pantau keadaannya hingga 24 jam ke depan."


"Baik, Dokter!"


Kyra memperhatikan tiga orang berpakaian serba putih itu keluar dari ruangannya. Kini hanya Roni dan dirinya yang tersisa. Keduanya sama-sama menangis dengan rasa yang berbeda. Bila Kyra menangis karena berduka, Roni justru menangis karena bahagia melihat putrinya telah kembali.


"Istirahatlah, Ky. Kondisimu masih belum stabil," pinta Roni sembari mengusap air mata di pelipis putrinya.


Entah karena benar-benar belum stabil atau karena terlalu syok, Kyra akhirnya kembali tertidur beberapa menit kemudian. Melihat keadaan putrinya yang nampak sangat terpukul dengan kematian bayinya, Roni hanya bisa mengusap kening putrinya itu dengan sedih.


Flashback On.


Bara belum benar-benar pergi ketika suster-suster itu berlarian masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia masih berjalan gontai melewati koridor ketika salah seorang suster itu berteriak dan dengan jelas Bara mendengarnya dari celah pintu yang tak tertutup.


"Pasien positif respon!"


Dan langkah Bara terhenti seketika, sebuncah harapan seketika mencuat di dalam hatinya. Dengan cepat, Bara berbalik dan berlari kembali menuju ruangan Kyra. Dari balik kaca, ia bisa melihat beberapa orang suster memeriksa setiap kabel yang menempel di tubuh Kyra. Jari telunjuk Kyra yang bergerak lemah membuat Bara menganga tak percaya. Air mata kembali membasahi pipinya, air mata haru dan bahagia!


"Terima kasih, Ky. Terima kasih, Tuhan!"

__ADS_1


Berkali-kali Bara mengucapkan kata syukur itu sembari mengusap wajahnya dengan lega. Ketika seorang Dokter memeriksa monitor dan tersenyum pada Bara yang berada di luar ruangan, Bara semakin yakin bila Kyra-nya telah kembali.


"Bangunlah, Ky. Aku janji akan pergi asal kamu mau membuka matamu dan hidup dengan bahagia seperti dulu. Aku mohon, bangunlah."


'Apakah kamu bangun karena mendengar janjiku? Apakah kamu benar-benar ingin aku pergi?'


Sekelumit rasa nyeri kembali menusuk di dada Bara. Setelah puas melihat suster-suster dan Dokter itu menangani Kyra-nya, Bara pun mengusap dinding kaca itu dengan pilu. Setidaknya meskipun mereka tak bisa lagi bersama, Kyra masih hidup dan bernafas di alam yang sama.


Masih dengan sisa air matanya, Bara pun berbalik dan menguatkan hati untuk pergi dari ruangan itu. Ia harus menepati janji, bukan? Bara tak mau Tuhan kembali murka dan merebut Kyra dari dunianya.


Belum sampai di ujung koridor, langkah Bara terhenti ketika Roni tiba-tiba berdiri di depannya. Dengan keki, Bara lekas menyeka air matanya dan membungkuk memberi hormat pada mertuanya. Ia lantas melanjutkan langkah dan bertingkah seolah tak terjadi apapun.


"Apa kamu tidak mau menemui Kyra? Bukankah dia sudah bangun?" selidik Roni ketika Bara terlihat sangat terburu- buru.


Bara berhenti, ia menoleh dan mengawasi Roni yang juga sedang menatapnya dengan tajam.


"Ayah, saya kembalikan cinta saya pada Ayah. Tolong maafkan saya, saya merasa tidak pantas lagi menjaga Kyra."


"Kenapa kamu berpikir demikian?"


Setetes air mata Bara menetes lagi namun dengan sigap ia menyekanya. "Tolong jangan tanya kenapa, Yah. Saya lebih takut melihat Kyra pergi daripada saya harus meninggalkan dia. Maafkan saya!"


FlashBack Off.

__ADS_1


__ADS_2