I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Daniel


__ADS_3

Hanya sebentar Elena menemui Kyra, setelah menyampaikan maksud dan tujuannya mengunjungi gadis itu, Elena langsung berpamitan pulang. Setelah melihat secara langsung gadis yang sudah membuat Bara jatuh cinta dan berpaling dari Valeria, Elena kini paham mengapa Bara sampai terjerat dan terpesona. Gadis bernama Kyra Sada itu cantik alami, meskipun dalam keadaan lusuh dan sakit, aura kecantikannya tak pudar. Pun begitu, ia memiliki magnet yang entah mengapa membuat Elena tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Meski hanya melihat sekilas, Elena yakin bila Bara akan semakin terjerumus bila tak segera dijauhkan dari gadis itu.


Langkah anggun Elena yang berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit seketika terhenti ketika ia melihat sosok yang sangat ia rindukan tiba-tiba berdiri tak jauh dirinya.


"Niel ..." lirih Elena dengan tatapan penuh kerinduan.


Sementara itu, Daniel yang baru saja mengambil nomor antrian untuk daftar ke Poli Jantung, hanya bisa mematung untuk sesaat. Usai memindai penampilan Elena yang kini nampak semakin gemuk dan mulai tua, Daniel tersenyum tipis.


Menyadari putranya tersenyum, Elena mengayunkan langkahnya menuju tempat Daniel mematung. Dua orang lelaki yang sejak tadi mengikuti di belakang Elena sontak menghalangi langkah sang majikan.


Elena melotot kesal, kedua tangannya mulai naik ke pinggang.


"Oh ayolah! Jangan terlalu ketat. Aku hanya mau memeluk anakku sebentar!" hardiknya jengkel.


"Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas." Salah seorang bodyguard bersuara.


Melihat situasi yang tak pernah berubah sejak lima tahun belakangan, Daniel akhirnya melanjutkan langkahnya dan melewati Elena begitu saja. Dua bodyguard tadi memblok jalan Elena agar tak mendekat pada Daniel.


"Niel! Niel, Mama merindukanmu, Niel!" teriak Elena dengan sedih.


Namun, teriakan itu tak membuat langkah Daniel terhenti. Ia tetap melangkah hingga menghilang di ujung lorong menuju ruang Poli. Sambil tetap berjalan, Daniel mulai berpikir untuk apa Elena ke Rumah Sakit? Namun, ketika teringat bila tempo hari Kyra sakit dan opname, langkah Daniel sontak terhenti. Ia meremas kertas antrian di tangan kirinya dan berbalik dengan cepat.


Bougenville 24.


Daniel membaca nomor kamar yang tertera di pintu sebelum kemudian mengetuknya dengan ragu. Cukup lama Daniel menunggu sebelum kemudian daun pintu tersebut bergerak ke dalam.


"Permisi, apakah benar ini ruangan tempat Sada di rawat?" tanya Daniel ketika seorang lelaki paruh baya muncul dan tersenyum hangat padanya.


"Kyra, apakah dia temanmu?" Roni melebarkan daun pintu agar putrinya bisa melihat tamu yang sedang berdiri di luar.


Tatapan Daniel dan Kyra bersirobok untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Iya, dia temanku, Ayah," sahutnya setelah cukup lama tertegun melihat Daniel.


Roni mengangguk, ia lantas mempersilakan Daniel masuk.


"Ayah akan tunggu di luar, mengobrollah kalian!" pamit Roni sebelum kemudian keluar dan menutup pintu.


Suasana mendadak hening. Daniel masih berdiri di ujung ruangan dan tak tahu harus berbuat apa, mengapa ia datang ke kamar ini pun masih jadi misteri padahal dia sudah membuat janji dengan Dokter Steven.


"Kemarilah. Bukankah kamu ke sini untuk menjengukku?" sambut Kyra sembari menunjuk kursi yang tadi di duduki oleh Elena.


Daniel mengangguk. Ia beringsut maju dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh Kyra.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya lirih.


Senyuman Kyra tersungging. "Aku sudah lebih baik. Besok sepertinya sudah boleh pulang."


Hening lagi. Daniel tak tahu harus bertanya tentang Elena dari mana, tidak mungkin tiba-tiba dia memberondong Kyra dengan pertanyaan tentang ibunya itu.


Daniel mengangguk. "Tentu, dia kan CEO di perusahaan. Tidak mungkin aku tidak mengenal dia."


"Iya juga sih!" Kyra menggaruk keningnya keki. "Cuma yang aku heran, tadinya Bara bilang nggak kenal sama kamu, tapi ketika aku di interogasi di ruangan pak Ronald, Bara ternyata mengenalmu. Aku jadi bingung."


Daniel tersenyum lirih. "Benarkah Bara bilang tidak mengenaliku?


Dengan cepat Kyra mengangguk. "Aku benci bermain teka-teki. Tapi sejak mengenal Bara, hidupku tak ubahnya seperti buku TTS!" keluhnya kesal sendiri.


Daniel terkekeh. "Apa yang ingin kamu ketahui tentangku, Kyra?"


Deg. Kyra mengawasi Daniel dengan tatapan syok. Semua orang di kantor memanggilnya dengan sebutan Sada, tapi ketika Daniel menyebutnya Kyra, seolah lelaki itu mengetahui banyak hal tentang dirinya.


"Bara memanggilmu Kyra, kan? Mengapa kamu harus terkejut begitu?!"

__ADS_1


"Ah, nggak. Aku cuma heran darimana kamu tahu tentang itu?" tukas Kyra tak enak hati. "Apakah selama ini kamu memata-mataiku?"


Daniel terkekeh lagi. Entah mengapa kepercayaan diri Kyra sangat tinggi, apakah karena terlalu sering bergaul dengan Bara?


"Beberapa kali aku mendengar Bara memanggilmu dengan sebutan itu. Bisakah kamu jangan terlalu percaya diri?"


"Ck!" decak Kyra cepat. "Lalu kalian sebenarnya memiliki hubungan apa? Kenapa gaya bicaramu sekilas mirip dengan Bara, huh!?"


"Oh, ya? Kamu sangat hafal pada kebiasaan Bara rupanya!"


"Tentu saja, hampir setiap hari dia menggangguku, bagaimana bisa aku nggak hafal dengan semua kebiasaannya!" keluh Kyra sembari menghembuskan napasnya panjang.


"Baguslah kalo begitu. Tapi sebelum aku menjelaskan tentang diriku lebih jauh. Aku ingin bertanya satu hal lebih dulu." Daniel menatap Kyra dengan serius.


"Apa itu?" tanya Kyra penasaran.


"Apakah tadi ada seorang wanita berpakaian warna Biru datang menjengukmu?"


Deg. Kyra menghela napasnya untuk sesaat. Dari mana Daniel tahu bila tadi Mamanya Bara mengunjunginya ke sini? Siapa sebenarnya Daniel ini!


"Apakah dia datang kemari?" ulang Daniel ketika Kyra hanya membisu dengan tatapan misterius.


Dengan ragu Kyra mengangguk. "Iya, apakah kamu mengenalnya?"


Hembusan napas Daniel yang berat membuat Kyra semakin penasaran dan ingin tahu. Pun ketika tangan Daniel mulai mengusap wajahnya dengan kasar seolah menyesali sesuatu.


"Daniel, siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu tahu segala hal tentang Bara?" desis Kyra dengan frustasi.


Lama Daniel terdiam dan menundukkan kepala sebelum kemudian ia kembali menatap Kyra.


"Kami bersaudara, tapi berbeda Ayah."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2