
Kyra baru saja turun dari taksi online ketika ponselnya bergetar di dalam tas. Ia mengacuhkan panggilan itu dan mengawasi bangunan yang tak seberapa besar yang kini menjulang di hadapannya. Masih jam 10 pagi, panggilan telepon barusan pasti dari ayahnya. Di jam segini pasti Bara sedang sibuk-sibuknya dan tak mungkin mengangkat telepon dari sang ayah.
Dengan memantapkan hati, Kyra memasuki bangunan yang lebih mirip disebut apotek itu tanpa keraguan sedikitpun. Sesuai yang ia baca semalam, klinik ini memang terselubung dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Semalaman mencari di google, Kyra tak menemukan apapun. Tak kehilangan akal, ia mencoba log in ke jejaring forum diskusi online dan mendaftar menggunakan akun palsu. Dari sanalah akhirnya Kyra tahu alamat klinik ini dari salah satu pasien yang pernah aborsi.
"Mba, saya mau kontrol kandungan," ucap Kyra begitu mendaftar di loket.
Kalimat itu adalah password bagi pasien yang hendak melakukan abor-si. Dan benar saja, petugas wanita yang berjaga itu pun meminta data diri Kyra. Dengan sigap, Kyra memberikan ID card-nya yang ia simpan di dalam dompet.
"Baik, silahkan tunggu sebentar. Nanti akan kami panggil sesuai nomor antrian, sambil menunggu silahkan isi data diri dan surat pernyataan ini." Petugas wanita itu mempersilahkan Kyra duduk dan menunggu di kursi panjang yang berada di ujung lorong.
Kyra membawa kertas pendaftaran itu dan membaur dengan beberapa wanita seusianya yang sudah lebih dulu mengantri di sana. Dengan cekatan, Kyra mengisi data diri dan menandatangani surat pernyataan di sebuah lembaran kosong.
Sambil menunggu, Kyra memperhatikan sepasang ABG yang duduk mengantri tak jauh darinya. Mungkin mereka masih SMP atau SMA, dan yang lebih membuat Kyra miris, seusia itu sudah melakukan hubungan terlarang dengan pasangannya yang juga masih sangat belia. Kyra menghela napasnya panjang.
Entah sudah berapa lama menunggu, Kyra yang mulai jenuh akhirnya merogoh ponsel yang sejak tadi ia abaikan. Melihat ada 67 panggilan tak terjawab, bulu kuduk Kyra sontak meremang. Dengan tangan gemetaran, Kyra memeriksa nama yang sudah menghubunginya. Dan ketika nama Bara muncul, debaran di dada Kyra semakin bergemuruh dengan cepat.
"Kyra Sada." Panggilan dari seorang wanita membuat Kyra tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan ponselnya.
Dengan sigap Kyra berdiri. Petugas itu mengawasinya lantas meminta Kyra untuk mengikutinya ke dalam. Sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, Kyra mengikuti langkah wanita itu yang berhenti di sebuah pintu.
"Boleh saya minta lembaran pendaftaran dan surat pernyataan tadi?" pinta wanita itu sambil menadahkan tangan.
"Oh, iya. Ini." Kira memberikan lembaran itu sebelum kemudian wanita tadi lantas membukakan pintu berwarna coklat.
__ADS_1
Seorang pria -yang mengenakan jas putih selayaknya seorang Dokter- tersenyum ketika Kyra memasuki ruangan. Dengan dengan malu-malu Kyra masuk dan duduk setelah Dokter tadi mempersilakannya.
"Saudari Kyra Sada?" tanya Dokter itu dengan senyumnya yang ramah.
Kira mengangguk." Betul, Dokter," ucapnya lirih.
"Ada alergi obat sebelumnya? Atau riwayat penyakit mungkin?"
"Saya memiliki asma, Dokter." Kyra memotong.
Dokter itu mengangguk-angguk sembari memeriksa lembaran data diri Kyra. Ia lantas melipat kedua tangannya di meja dan mengawasi Kyra dengan serius.
"Sebelum saya melakukan tindakan, biasanya saya akan bertanya beberapa hal pada pasien. Bukan bermaksud untuk ikut campur dalam urusan pribadi pasien, hanya saja saya ingin memastikan tidak ada penyesalan yang bisa saja terjadi di kemudian hari." Dokter itu mulai menatap Kyra dengan intens. "Apakah janin yang Anda kandung memiliki ayah sah? Apakah suami atau pasangan anda tahu bila anda akan melakukan tindakan ini?"
"Pasangan saya adalah pria yang sudah mempunyai istri, Dokter. Dia tidak menghendaki kehamilan ini, begitu juga dengan saya, itulah mengapa tekad saya sudah bulat untuk melakukan aborsi." Kyra mengucapkan kebohongan itu dengan kepala tertunduk dan hidung yang mulai gatal.
"Apakah tidak ada jalan lain selain aborsi?" selidik Dokter tadi dengan tatapan muram.
Kyra menggeleng dan membalas tatapan Dokter itu. "Tidak ada, Dokter. Ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah kami."
Cukup lama suasana menjadi hening beberapa saat, masih dengan tatapan muram itu, Dokter tadi mencoba membaca ekspresi wajah Kyra yang sepertinya sudah tak sabar untuk segera dilakukan tindakan.
"Baiklah, jika itu keputusan kalian berdua. Tindakan ini tak akan berlangsung lama, hanya 30 menit saja. Tapi efek obat bius baru bisa hilang setelah 3 jam. Jadi nanti anda akan dipindahkan ke ruang lain selama belum sadar. Apakah ada seseorang yang menemani anda?"
__ADS_1
Kyra menggeleng cepat. "Tidak ada, Dokter."
Dokter pun bangkit dari kursinya, petugas wanita tadi menghampiri Kyra dan memberinya baju pasien.
10 menit kemudian, Kyra sudah merebahkan diri di sebuah ranjang dengan lampu besar di atas dadanya, tangan kanannya telah dipasangi jarum infus.
Sebelum semuanya berakhir malam ini, Kyra menyentuh perutnya dengan perasaan campur aduk. Ia melakukan semua ini bukan karena tak sayang pada janinnya, justru demi kebaikannya di masa depan, Kyra harus merelakan darah dagingnya dan Bara gugur dengan cara seperti ini.
"Sudah siap? Sudah berdoa?" tanya Dokter ketika memasuki ruangan yang tak seberapa luas ini.
Kyra berusaha menarik kedua ujung bibirnya dengan sekuat tenaga meskipun rasa gugup mulai menjalarinya.
"Sudah, Dokter," sahutnya kelu.
Dokter yang tak Kyra ketahui namanya itu tersenyum. Ia lantas meraih sebuah jarum suntik berukuran kecil dan mendekat ke selang infus di tangan Kyra.
"Rileks, ya. Kita akan memulai prosesnya sekarang. Saat anda terbangun nanti, semoga semua masalah anda selesai." Dokter mulai menyuntikkan obat bius di pangkal selang infus di pergelangan tangan Kyra secara perlahan.
Seiring dengan mengalirnya obat bius itu di dalam venanya, hati Kyra terasa sangat sakit untuk beberapa saat. Sekelebat wajah Bara yang sedang tersenyum tiba-tiba melintas di ingatan Kyra. Lalu berganti dengan wajah babak belurnya yang sedang menatap Kyra penuh harap.
"Maafkan aku, Bara."
Kyra menahan air matanya agar tak menetes dengan sekuat tenaga. Ia tak ingin Dokter tadi menyadari tangisannya dan malah membatalkan aborsi ini. Namun, ternyata Kyra tak sanggup menahannya, dorongan air mata itu terlalu kuat hingga tangisnya pun pecah sebelum kemudian semuanya mulai menghitam dan berputar-putar. Suara berdengung yang sangat nyaring membuat Kyra tak sanggup lagi untuk membuka mata. Serasa puluhan ton beras bertumpu di atas kelopak matanya. Efek obat bius itu mulai bekerja.
__ADS_1
...****************...