I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Pedekate


__ADS_3

Sebulan berada di Singapura, Kyra sudah  mulai beradaptasi dengan lingkungan dan tak lagi bergantung pada Raymon setiap pergi ke kampus. Hubungannya dan Raymon pun belum begitu membaik, adiknya itu masih menjaga jarak.


Gadis-gadis yang sempat mengganggu Kyra diawal dia datang ke kampus adalah para penggemar Raymon. Salah satu dari mereka bernama Anya yang merupakan teman Raymon sejak TK. Anya sangat terobsesi pada Ray dan tak pernah lelah mencari perhatian teman kecilnya itu. Saat tahu bila Kyra adalah kakak Raymon, Anya mulai meluncurkan serangan merajuk pada calon kakak iparnya itu. Anya begitu percaya diri bila Raymon memiliki perasaan yang sama dengannya meskipun sudah ratusan kali Ray menolak dia.


Seperti di sore ini, Kyra yang baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhirnya, sejenak mampir ke Salon di sekitaran kampus untuk potong rambut. Anya dengan sengaja mengikuti Kyra dan berpura-pura hendak creambath ketika Kyra memergokinya. Alhasil, sepanjang treatment, Anya tak henti menginterogasi kegiatan Raymon dan mencari tahu segala hal tentang pria idolanya.


"Apa kau tak punya stok pria lain selain adikku?" ledek Kyra ketika ia mulai jenuh pada setiap pertanyaan Anya.


"Nope. Raymon is my life. My whooole life!" Anya menyentuh dadanya ketika menyebut nama Raymon.


"Kau tahu, Anya, jika aku menjadi dirimu, aku tak akan menyia-nyiakan masa mudaku dengan menunggu Ray! Kamu cantik, pintar dan tak mungkin pria menolak gadis sepertimu. Daripada terus menunggu Raymon yang sekeras batu, lebih baik buka hatimu untuk mengenal pria lain!" usul Kyra iba, ia pernah sebucin Anya ketika mencintai Keanu.


Untuk beberapa saat, Anya menghela dan menghembuskan napasnya berat. "Kau benar, Kak. Akan tetapi hidupku sudah aku persembahkan untuk Ray. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirinya."


"Ray hanyalah lelaki biasa yang sama dengan lelaki lainnya. Cobalah lihatlah Ray dari kacamata yang berbeda! Tidaklah kau lelah mengejarnya selama 19 tahun!?" Kyra memutar bola matanya gemas, ia bingung harus menyadarkan Anya dengan cara bagaimana lagi.


"Ya, kau benar. Tapi aku belum akan berhenti mencintai Ray sampai dia memiliki kekasih. Selama dia masih sendiri, aku menganggap Ray juga mencintaiku!"


Dan percakapan sore itu terhenti ketika hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Tak ada mendung, tak ada angin, cuaca mendadak tak bersahabat dan membuat Kyra bingung karena ia tak membawa payung.


"Kau mau pulang denganku, Kak? Aku bawa mobil!" usul Anya sambil membayar bill-nya di kasir.


"Tidak, terima kasih, Anya. Ray akan sangat marah padaku bila tahu aku pulang bersamamu!" tolak Kyra tak enak hati.


Dan akhirnya hingga jam 7 malam, hujan tak kunjung berhenti. Hujan  masih deras dan panggilan telepon di dalam saku celana Kyra membuatnya terperanjat.


Raymon is calling ...


"Halo, Ray?"


"Di mana kau? Kenapa belum pulang?" sosor Ray ketus. "Aku lapar, tak ada makanan di rumah, Mama juga belum pulang sejak tadi sore!"

__ADS_1


Kyra mendengus kecewa mendengar kalimat terakhir adiknya. Tadinya ia pikir Ray bertanya karena khawatir, ternyata di hanya kelaparan!


"Aku terjebak di Salon. Masih hujan deras di sini. Beli online saja kalo kamu lapar!"


"Kirim lokasimu! Aku akan menjemputmu sekarang! Dasar menyusahkan!"


Tit.


Kyra mengawasi ponselnya sambil menggeram. Semakin ke sini, tingkah Raymon semakin mirip dengan Bara. Alih-alih melupakan Bara hingga menepi ke Negeri Singapura, Kyra malah dihadapkan pada sifat adiknya yang 11-12 dengan suaminya!


Dengan sekali pencet, Kyra mengirim lokasinya pada Raymon melalui pesan. Perutnya memang sudah kelaparan sejak tadi tapi mengingat adiknya juga sedang kelaparan, mungkin  baiknya Kyra membeli makan berdua saja nanti.


30 menit kemudian, hujan yang masih deras seolah tak memberi jeda pada ratusan manusia untuk pulang ke rumah mereka yang nyaman. Panggilan telepon dari Raymon di ponselnya membuat Kyra tersentak dari lamunan dan sontak mengawasi jalanan.


"Kau sudah sampai?"


"Cepatlah keluar. Aku di mobil berwarna putih!"


"Kau tidak lihat di luar masih hujan? Atau kau sengaja mau--"


Tit.


Kyra mendengus sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas. Awas saja nanti, Kyra akan memasakkan menu beracun untuk Ray!


Pintu Salon yang terbuka membuat Kyra reflek mengawasi pintu kaca itu, sosok lelaki jangkung yang mengenakan jaket capuchon berwarna navy dan sebuah payung di tangan membuat Kyra menghembuskan napas lega. Buru-buru gadis berjaket biru langit itu berdiri dan menghampiri adiknya.


"Ayo, cepat!" Ray menyerahkan payung di tangannya pada Kyra.


"Wahh, kalian romantis sekali! Beruntungnya punya pasangan tampan dan perhatian seperti itu," seloroh seorang wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kyra.


Dalam hening, Ray dan Kyra saling pandang dengan canggung.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Dia adik saya," jelas Kyra dengan sopan. "Terima kasih sudah memujinya!"


Belum sempat Kyra menyelesaikan perkataannya, Ray mendadak menarik lengannya agar bergegas pergi. Sambil melebarkan payung, Kyra mengomeli perbuatan adiknya yang tak sopan.


"Cepatlah masuk! Jangan cerewet!" dengus Raymon sembari lebih dulu membuka pintu mobil di sisi kanan.


Kyra mengernyit, namun karena tetesan air hujan  yang semakin deras membasahi sebagian pakaiannya, mau tak mau Kyra pun beringsut membuka pintu mobil.


"Kau bisa menyetir?" decak Kyra tak percaya.


Terakhir kali, Raymon berkata bila ia tak bisa menyetir mobil dan memang tak pernah membawa mobil ke mana pun ia pergi.


"Kalo aku tak bisa menyetir, tidak mungkin aku sampai di sini dengan selamat!" Ray menyalakan mesin dan lekas melajukan mobil miliknya.


"Ck, berarti selama ini kau berbohong? Dasar bocah labil!"


"Terima kasih atas pujianmu. Sejauh ini aku menjemputmu dan tapi kau malah mengucapkan terima kasih pada nenek-nenek itu!" dengus Ray ketus.


Kyra yang sempat kesal, akhirnya tertawa mendengar sarkas Ray. Sungguh, Raymon lebih pantas menjadi adik Bara daripada adiknya!


"Terima kasih, Ray. Aku terharu dengan perhatianmu ini. Sebulan tinggal serumah, dan ini kali pertama kau menelepon plus menjemputku. Aku sangat terharu!" puji Kyra sembari mendekap kedua tangannya di dada.


Raymon yang sedang fokus pada kemudi lantas meliriknya sekilas.


"Berterima kasihlah pada hujan! Bila bukan karena hujan  deras ini, aku tidak sudi menjemputmu!"


"Ya ya ya, terima kasih hujan... Terima kasih karena berkat turunnya dirimu, adikku yang tampan dan misterius ini mendadak baik hati padaku." Kyra mendongah dari kaca jendela untuk mengawasi tetesan hujan.


Melihat tingkah konyol kakaknya, senyum mahal Raymon tersungging.


"Wah, lihatlah! Betapa tampannya dirimu ketika sedang tersenyum, Ray!"

__ADS_1


"Shut up!"


...****************...


__ADS_2