I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Berharap Keajaiban


__ADS_3

Sepulang dari rumah Roni, Morgan mengantar Bara kembali ke penthouse agar bisa beristirahat. Namun, bukan Bara namanya bila menurut begitu saja. Ia bersikeras kembali ke Rumah Sakit dan pulang ke penthouse hanya untuk mandi dan membawa beberapa baju ganti.


"Pak, untuk apa anda membawa baju ganti? Memangnya anda mau tidur di mana?"


"Di mana saja boleh. Yang penting aku masih bisa melihat Kyra." Bara memasukkan lembar terakhir pakaiannya ke dalam  travel bag dan memasang resletingnya.


"Tapi, Pak, anda butuh istirahat. Anda tidak boleh terlalu lelah--" Tutur kata Morgan terhenti ketika Bara menoleh padanya dan menatapnya dengan tajam.


"Akan lebih melelahkan menunggu Kyra sadar, Morgan. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku dengan menunggunya di sini. Aku akan berada di samping Kyra sampai dia bangun!" putus Bara sebelum kemudian mengangkat  travel bag-nya dan menyampirkannya di pundak.


Tak tega melihat Boss-nya membawa tas itu dengan wajah meringis kesakitan karena luka memar bekas cambukan ikat pinggang Roni, Morgan akhirnya merebut tas itu dan membawanya. Setidaknya hanya inilah yang bisa ia lakukan meski tak seberapa. Morgan paham, Bara masih berduka dan tak ingin  jauh dari istrinya.


Tiba di Rumah Sakit. Ternyata Roni sudah ada di sana dan sedang mengobrol dengan Daniel. Wajah tegang Daniel menggambarkan betapa seriusnya pokok pembahasan dua orang itu. Meski dari jauh Roni sudah menatapnya dengan sinis, akan tetapi Bara tak serta merta gentar untuk mendekati ruangan istrinya. Ia tetap mengayunkan langkahnya hingga tiba di depan Roni dan Daniel.

__ADS_1


"Ay--"


"Pergi dari sini sebelum aku meminta satpam mengusirmu! Bukankah sudah jelas yang aku katakan tadi, jangan sekalipun menampakkan batang hidungmu di hadapanku." Roni menatap Bara dengan tajam dan dingin.


Daniel yang menjelaskan secara rinci kejadian yang dialami Kyra, pada akhirnya juga menjadi korban pelampiasan amarah Roni. Ia memperhatikan luka memar di pipi dan tangan adiknya dengan cemas. Sepertinya ia paham dari mana luka memar itu berasal.


"Ijinkan saya ikut menjaga Kyra. Saya janji tidak akan mendekat. Saya akan menunggunya di sana."


Bara menunjuk koridor di seberang ruangan Kyra yang merupakan ruang penyimpanan obat-obatan.


Roni memalingkan wajahnya dengan jengah. Ia tak menyetujui ataupun melarang. Selama Kyra belum sadar, dia akan membiarkan Bara melakukan apapun yang ia mau.


Dan hingga dua hari, tak ada perkembangan apapun dari Kyra. Bara yang setia menunggunya di kursi panjang di depan ruang penyimpanan obat yang dingin, tak sekalipun beranjak pergi. Meski satpam beberapa kali memperingatkannya untuk tidak tidur di sana, namun bukan Bara namanya bila menurut begitu saja.

__ADS_1


Roni pun demikian, ia sama kerasnya dengan Bara. Meskipun beberapa kali sempat di panggil oleh Dokter dan diminta untuk menunggu di rumah, Roni menolak dengan tegas dan bersikeras menunggu Kyra sampai sadar di Rumah Sakit.


Hingga hampir seminggu, kondisi kesehatan Kyra tak juga ada kemajuan. Morgan dan Daniel juga Elena sudah datang untuk membujuk Bara pulang. Dan semuanya berakhir sia-sia karena Bara tetap teguh pada pendiriannya.


Sebenarnya, Bara memiliki kesempatan untuk melihat Kyra dari dekat ketika Roni sudah tidur. Setiap malam, ia akan mendekat ke ruangan Kyra dan menatap istrinya yang masih betah memejamkan mata itu hingga pagi. Bara selalu mengajak Kyra mengobrol meski suaranya terhalang kaca tebal diantara mereka.


Dan Roni selalu berpura-pura tidur lebih awal agar Bara tak takut untuk mendekat dan melihat Kyra. Ia mendengar setiap perkataan dan janji Bara, bahkan ikut menahan tangis ketika menantunya itu menceritakan tentang cucunya yang telah tiada.


Dan hari itu, tepat di hari ke 10 Kyra koma, Morgan datang sembari membawa jas dan tas kerja Bara. Ia membangunkan Boss-nya yang baru tidur satu jam yang lalu itu dengan gusar. Cukup lama Morgan berusaha membangunkan Bara hingga akhirnya dia terbangun 5 menit kemudian.


"Ada apa, Morgan? Kenapa kamu ke sini pagi sekali!" rutuk Bara kesal sembari menahan matanya yang masih berat untuk terbuka.


"Pak, hari ini dewan komisaris mengadakan pertemuan darurat. Sepertinya Pak Edy sudah mulai meluncurkan serangan. Anda harus datang, Pak! Posisi anda sedang berada di ujung tanduk!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2