
Dokter menyatakan berhasil mengeluarkan martil peluru dari tubuh Bara. Namun, karena pendarahan yang cukup hebat membuat lelaki itu masih belum juga sadar. Melenceng 0,5 cm saja, peluru itu bisa saja menembus jantungnya. Beruntung Tuhan masih berbaik hati sehingga tembakan Edy tidak tepat mengenai organ penting di tubuhnya.
Daniel langsung terbang ke Singapore setelah mendapat kabar bila adiknya terluka. Ia tak mengabari Elena karena tak mau membuat wanita itu panik dan khawatir. Ia memilih untuk terbang dulu dan mengabari Mamanya itu nanti setelah mendapat kepastian kondisi Bara.
Semalaman usai operasi itu, Kyra menunggui suaminya yang masih berada di ruang pemulihan dan belum juga sadar. Sudah berkantong-kantong darah yang ditranfusikan, sudah berbagai macam obat yang disuntikkan, akan tetapi Bara belum juga membuka mata.
"Kyra, pulanglah. Biar aku yang menjaga Bara di sini. Bukankah Dokter bilang bila keadaannya sudah stabil?" bujuk Daniel tak tega melihat adik iparnya masih betah duduk di depan ruang recovery.
"Aku mau nunggu Bara sampai bangun, Kak Niel," tolak Kyra dengan gelengan lemah.
Raymon yang sejak tadi menunggui mereka, pada akhirnya kesal juga. Sejak tadi sang kakak tak mau beranjak bahkan untuk makan dan ganti baju. Bau anyir darah yang telah mengering di pakaiannya tak pelak membuat Ray mulai risih. Ia bangkit dan menghampiri kursi sang kakak.
"Ayo, pulang. Kamu harus beristirahat. Kamu juga belum makan seharian ini. Apa kamu tidak sayang dengan tubuhmu sendiri, hah!?" cecar Raymon tak sabar, ia menarik tangan Kyra yang terkulai lemah.
Daniel mengawasi tingkah menakjubkan Raymon yang terlihat sangat melindungi Kakaknya. Tadi Kyra sempat memperkenalkan mereka berdua ketika Daniel baru tiba.
"Dia benar. Pulanglah, Ky. Aku janji akan mengabari perkembangan Bara." Daniel ikut bangkit dan berdiri di samping Raymon.
Mendengar bujukan itu membuat air mata Kyra menetes lagi, kenapa semua orang tak paham pada perasaannya yang dirundung rasa bersalah. Suara tembakan itu masih terngiang-ngiang di telinga, lantas bagaimana bisa Kyra tidur? Bahkan Bara sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana karena telah mempertaruhkan nyawanya demi Kyra.
__ADS_1
"Kak, aku mohon. Ayo, pulang." Raymon bersimpuh di sebelah kursi Kyra dan menggenggam erat tangan wanita itu. "Kamu membuatku semakin cemas. Tidak tahukah kamu bila sejak tadi aku ikut tersiksa melihatmu hancur seperti ini?! Kamu harus menjaga kesehatanmu, kalo kamu sakit lantas siapa yang akan menjaga lelaki itu?!"
Untuk pertama kalinya, Kyra mendengar Raymon memanggilnya dengan sebutan Kakak. Ia menyeka air matanya dan menatap sang adik dengan lembut.
"Kamu memanggilku siapa tadi?" gumam wanita itu tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Raymon membuang muka dengan canggung. Wajahnya yang terlihat memerah membuat Kyra teringat pada Bara yang selalu tersipu malu bila kedapatan merayu. Dan air mata itupunĀ menetes lagi.
"Jangan menangis! Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Ayo kita pulang. Aku janji besok aku akan mengantarmu kemari pagi-pagi sekali."
Dan bujukan itu akhirnya berhasil membuat Kyra menyerah dan luluh. Setelah melihat keadaan Bara dari balik kaca dan berpamitan, ia pun pulang. Tepat ketika Kyra masuk ke dalam mobil Raymon, disaat itu pula Carlo baru tiba dan bergegas menuju ruangan recovery.
Carlo tak menemukan Kyra di sana. Namun, seorang pria yang sekilas mirip dengan Bara menyita perhatiannya. Pada akhirnya, Carlo menghubungi Morgan melalui telepon. Dari sana pemimpin Bodyguard itu tahu bila lelaki yang sedang duduk mengawasi tembok kaca itu adalah Kakak dari Tuannya.
Lelaki berusia 30an yang tengah melamun itu tersentak dan mengawasi Carlo dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Apa aku mengenalmu?"
"Tidak. Anda belum mengenal saya, Tuan. Jadi ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah Carlo Don Benjamin yang disewa Tuan Bara untuk menjaganya selama berada di Singapura." Carlo membungkuk memberi hormat.
__ADS_1
Mendapat sapaan hangat itu, Daniel pun akhirnya bangkit dari kursinya.
"Oh, kamu Bodyguard-nya tapi tidak berhasil menjaga keselamatan adikku?"
"Saya mohon maaf, Tuan. Kami memang lalai karena tidak mendahulukan SOP dibanding permintaan klien. Sekali lagi kami mohon maaf."
Daniel tersenyum kecut. "Apa permohonan maafmu bisa mengembalikan keadaan? Atau mungkin bisa membuat adikku sadar?" rutuknya kecewa.
Hening. Carlo memang bersalah, ia sudah mengabaikan keselamatan Tuannya dan membuat nyawanya dalam bahaya. Dia memang pantas mendapat hukuman dari keteledorannya.
"Untuk apa kamu datang kemari? Apa karena adikku belum membayar penuh jasamu?"
"Bukan, Tuan. Bahkan Tuan Bara sudah membayar full dimuka untuk penjagaan selama seminggu penuh. Itulah kenapa kami baru kemari setelah menyelesaikan pemeriksaan dan identifikasi mayat Edy."
Daniel tertegun. "Edy tewas?"
Dengan sigap Carlo mengangguk. "Betul, Tuan. Saya sudah melemahkan target dengan tembakan di kepala. Saya juga sudah menjelaskan keadaan Tuan Bara pada kepolisian."
Diantara rasa sedih karena keadaan adiknya, sebersit rasa bahagia membuncah di dada Daniel. Akhirnya Edy telah membayar kontan kejahatannya dengan kematian. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?
__ADS_1
"Saya bisa meminta Dokter untuk mengijinkan anda menunggui Tuan Bara di dalam, apa anda mau, Tuan?"
...****************...