I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Baby Born


__ADS_3

"Pak, bisakah saya saja yang menyetir mobilnya?" Morgan merapatkan seat belt-nya sementara tangannya yang lain berpegangan pada handle di atas kaca jendela mobil.


Tadinya mereka berdua hendak bertemu klien di Restoran, akan tetapi belum juga sampai, Bara mendapat telepon dari Kyra yang mengabari saat ini istrinya itu sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena ketubannya pecah.


Mendadak panik dan cemas, itulah yang Bara rasakan sejak tadi. Ia merampas kunci mobil Morgan dan bergegas pergi menyusul ke Rumah Sakit. Dan sekarang, dengan mobil yang melaju kencang bak pembalap F1, Bara yang saat ini berada di belakang kemudi menulikan telinga atas protes Sekretarisnya itu.


"Pak, hati-hati. Saya belum menikah, Pak." Morgan melirik Bara yang sedang berkonsentrasi penuh pada jalanan di depannya.


"Diamlah, Morgan. Jangan mengganggu fokusku! Mobil ini punya asuransi, kan? Jadi jangan khawatir berlebihan!"


"Mobilnya memang punya asuransi, Pak. Tapi nyawa saya hanya ada satu dan--"


Ciiit.


Bara menghentikan mobilnya di depan lobi Rumah Sakit dan bergegas keluar tanpa mendengarkan perkataan Morgan.


"Fiuh! Thanks, God!" Morgan mengelus dadanya dengan sekujur tubuh yang masih gemetaran.


Sementara itu di ruang bersalin. Kyra baru saja selesai di cek oleh Dokter. Rasa mulas dari setiap kontraksi yang mulai ia rasakan sejak tiba di Rumah Sakit, membuat Kyra memejamkan mata sembari meremas selimut yang menutupi badannya.


Bara tiba ketika Dokter baru saja keluar dari ruangan. Melihat istrinya yang tergeletak menahan sakit, membuat dadanya ikut terasa nyeri.


"Sayang," sapa Bara sedih sembari menggenggam tangan Kyra yang terkepal. "Kita operasi saja, ya?"


Kyra menggeleng cepat. "Aku pengin melahirkan secara normal, Bara. Aku masih kuat, kok!" tolaknya mentah-mentah.


"Tapi aku yang tidak kuat melihat kamu kesakitan seperti ini. Operasi saja, ya?"

__ADS_1


"Nggak mau! Aku --uhh!" Kyra memejamkan matanya rapat-rapat ketika rasa mulas itu kembali datang dan seolah *******-***** isi perutnya.


Genggaman tangannya mulai mencekal erat tangan Bara.


"Dokter bilang aku sudah bukaan 6, tinggal sedikit lagi, kok," hibur Kyra pada dirinya sendiri dan suaminya yang semakin panik.


Kyra sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Ia ikut senam yoga kehamilan, rutin berenang dan berjalan kaki setiap pagi. Disaat wanita-wanita lainnya takut merasakan sakit dan memilih untuk melahirkan bayinya secara operasi, Kyra justru kekeh ingin menjalani proses bersalin secara alami. Bukan sekali dua kali Bara membujuknya untuk operasi cesar saja, akan tetapi Kyra bersikukuh ingin melahirkan normal.


Rasa mulas yang datang setiap 15 menit sekali, kini mulai terasa semakin intens. Cengkeraman Kyra di lengan Bara sudah membuat lengan suaminya itu memerah dan terasa kebas. Namun, Bara tak peduli, yang ia rasakan saat ini belum ada apa-apanya dibanding pengorbanan dan rasa sakit yang dirasakan Kyra.


"Bara, aku minta maaf kalo selama ini aku belum bisa membahagiakan kamu."


Bara menoleh kaget. "Kamu bicara apa, sih!" protesnya tak suka.


"Kalo nanti terjadi apa-apa denganku, berjanjilah jangan menikah lagi sebelum anak kita berusia 20 tahun!"


"Aku uuuh, sakit banget, Bara!" rintih Kyra seraya mencekal erat lengan Bara entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Cesar saja, ya?"


"Nggak mau!" Kyra menggeleng cepat sembari mencubit suaminya. "Dikit lagi ini!"


"Tapi kamu kesakitan! Aku tidak tega lihat kamu seperti ini."


"Pak, permisi ya, kami mau cek bukaan Ibu dulu." Suster yang sedari tadi berada di dalam ruangan, meminta ijin dengan sopan.


Bara mengangguk. Sembari memperhatikan Suster itu, Bara melirik keadaan istrinya yang tengah memejamkan mata untuk berelaksasi.

__ADS_1


"Bukaannya sudah lengkap. Kita bisa mulai sebentar lagi. Saya akan memanggil Dokter sebentar, ya," pamit Suster itu sembari bergegas keluar. "Pak, tolong pastikan Ibu tidak mengejan dulu."


What?!


Bara mengawasi Suster yang telah pergi dengan terbelalak. Bagaimana caranya meminta Kyra untuk tidak mengejan? Dan mengejan yang bagaimana yang dimaksud oleh Suster tadi? Apakah mengejan seperti selayaknya kita buang air besar?


"Sayang, jangan mengejan dulu kata Susternya," bisik Bara sembari mengusap kening istrinya yang mulai basah.


"Nggak bisa, Bara! Ini rasanya sudah mau keluar!" jerit Kyra tertahan dengan wajah memerah.


"Apa?! Jangan! Jangan dikeluarin dulu!" teriak Bara panik.


Ia beranjak untuk mengecek keadaan di bagian bawah tubuh Kyra yang mengangkang dan ditutupi selimut. Bukannya lega, Bara justru semakin panik ketika melihat bagian yang biasanya nampak indah menggemaskan itu kini terlihat sangat berbeda.


"Bara! Mau keluar! Di mana Dokternya!"


"Jangan dikeluarin dulu! Dokternya masih dipanggil!"


"Uugghk!" Tanpa bisa di tahan, rasa ingin mengejan itu muncul begitu saja.


"Ky, jangan! Jangan sekarang! Plis, tunggu sebentar!"


"Nggak bisa, Bara. Aku sudah kebelet uuuhkkk!"


"T-tunggu, tidak!!"


Bara masih di sana, diantara kedua belahan paha istrinya. Sesuatu yang bulat dan kecil dengan cepat keluar begitu saja hingga secara reflek Bara menahan dengan kedua tangannya. Bayi ... Ya! Bayi mereka sudah lahir.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2