I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.


Kyra menghembuskan napas panjang sebelum menarik kopernya memasuki terminal keberangkatan sesuai dengan maskapai penerbangan yang sudah ia pesan sebelumnya. Matanya masih sembab usai bertangisan sebelum berangkat tadi. Roni benar-benar membuat Kyra jadi ragu untuk berangkat.


Sambil terus menggeret kopernya, ingatan Kyra melanglang buana ke memori setengah tahun yang lalu kala ia juga berangkat menuju Singapore untuk liburan dengan Kapar Pesiar. Begitu cepat waktu berlalu dan kini Kyra kembali menuju Singapore untuk tujuan yang berbeda.


Meski sempat berharap Bara akan datang untuk mengantarnya, akan tetapi perlahan harapan itu musnah begitu saja ketika Kyra kini sudah berada di ruang tunggu keberangkatan yang masih tersisa 30 menit lagi. Tidak boleh ada yang masuk ke ruangan ini selain calon penumpang, tapi dengan bodohnya Kyra terus saja berharap Bara datang meski hanya untuk mengatakan selamat jalan.


"Lupakan dia, Kyra! Bara nggak mungkin datang! Jangan konyol!" gumam Kyra pada dirinya sendiri.


Tak ingin terus memikirkan hal tak penting, akhirnya Kyra memilih menyibukkan dirinya dengan membaca majalah yang tertata dengan rapi di meja ruang tunggu.


Sementara itu di Penthouse, Bara baru saja selesai sarapan roti ketika bel pintu apartemennya berdenting berkali-kali. Sambil membawa gelasnya ke ruang tamu, Bara memperhatikan door screen dan mengernyit bingung ketika wajah Daddy-nya nampak memenuhi layar. Dengan gerakan cepat, Bara membuka pintu dan membiarkan Friz masuk.


"Ada apa, Dad? Tumben sepagi ini ke mari?" selidik Bara terheran-heran.


Friz tak menyahut, ia terus melenggang masuk ke dalam penthouse putranya dan memperhatikan setiap sudut rumah mewah itu.


"Dad?"


"Apa kau punya kotak perhiasan atau semacamnya?"


Friz dan Bara saling bertatapan untuk beberapa saat. Cara mereka saling berpandangan nampak seperti Ayah dan anak yang akur.


"Hari ini adalah hari Anniversary-ku dan Elena. Dan aku butuh kotak untuk memberi ini." Friz mengeluarkan sejuntai kalung berlian dari saku celananya. "Ini peninggalan Nenekmu, dan selama ini selalu tersimpan di dalam brankas."

__ADS_1


Dengan penasaran Bara pun mendekat dan meraih kalung yang masih berkilauan dengan indah. Melihat modelnya yang sedikit kuno, Bara percaya bila kalung itu memang peninggalan mendiang Neneknya. Keluarga Lazuardi yang memang kaya turun temurun pastilah memiliki banyak peninggalan perhiasan.


"Hari ini Elena ada kelas merangkai bunga. Aku mau memberinya kejutan dengan menjemputnya ke sana! Tapi ..." Friz menggantung perkataannya dan mengawasi putranya.


"Tapi apa?"


"Tapi aku butuh mobilmu, Nak. Kejutanku akan gagal total bila Elena melihat mobilku. Kau tahu kan Elena sangat perfeksionis dan--"


Bara tertawa melihat wajah gugup Daddy-nya. Mungkin seperti itulah gambaran dirinya bila hendak merencanakan momen romantis namun tak ingin ketahuan Kyra. Oh, Kyra?! Bara harus segera berangkat sebelum terlambat!


"Bawalah mobilku, Dad! Tapi sebelum itu bisa kan mengantarku ke airport? Ada satu hal yang harus aku bereskan!" Bara berlalu dari hadapan Friz dan masuk ke dalam kamarnya.


Berhubung tadi Friz meminta kotak perhiasan, alhasil Bara masih harus mencarikan salah satu kotak perhiasan milik Kyra dan mengeluarkan isi-nya. Sambil menenteng box beludru berwarna navy itu, Bara menarik tas kopernya dan bergegas keluar lagi dari kamar.


"Yuk, Dad!" ajaknya terburu-buru sembari menyodorkan box itu pada Friz.


"Rahasia! Yang pasti aku mau menyelesaikan beberapa kesalahpahaman. Tiga hari lagi aku kembali."


"Tiga hari?" Friz terbelalak. "Kenapa lama sekali?! Bagaimana dengan kantormu!"


"Oh, C'mon, Dad! Ada Daniel yang standby di kantor. Dia tidak akan selicik Edy!"


Friz bungkam ketika mendengar nama Edy disebut. Ia pun lantas berlalu dan merebut kontak mobil putranya.


"Kau berangkatlah naik mobilku! Taruh saja mobil itu di bandara. Untuk sementara aku akan membawa mobilmu."

__ADS_1


"Oke!"


.


.


45 menit kemudian, Bara baru tiba di bandara. 20 menit waktu tersisa sebelum pesawat take off dan ia benar-benar terlambat karena terjebak macet. Sambil sesekali memperhatikan arlojinya, Bara menarik kopernya dengan sangat tergesa-gesa.


Terminal 3, Bara memasuki ruangan itu dan bergegas menyerahkan tiketnya. Sambil menunggu kopernya di cek, Bara memperhatikan ruang tunggu penumpang yang mulai hectic. Beberapa penumpang nampak antre untuk masuk ke lorong.


Di antara  para penumpang yang saling berdesakan itu, sesosok perempuan berjaket coklat menyita perhatian Bara. Perempuan paling cantik diantara puluhan penumpang lainnya, Kyra Sada Batari. Dengan tak sabar, Bara menunggu kopernya yang bergerak sangat lambat di mesin detektor. Sedetik terasa seperti satu jam bila ia sedang terburu-buru seperti ini!


"Hurry!" decak Bara kesal pada tasnya sendiri.


Namun, sebelum tasnya tiba, getaran ponsel di dalam saku kemejanya membuat Bara tersentak. Damn, ia bahkan lupa tak mematikan ponselnya tadi!


Daniel is calling  ...


"Halo, ada apa, Niel?"


"Apa kau sudah di bandara?"


"Ya, sebentar lagi aku masuk ruang tunggu penumpang, bila tak ada yang penting aku tu--"


"Daddy kecelakaan. Kondisinya kritis, Bara."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2