
Butuh waktu beberapa menit bagi Bara untuk kabur dari dalam rumah Edy. Tepat di saat Edy memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Bara melompat keluar dari jendela dan lekas bersembunyi di balik pepohonan. Nasib baik masih berpihak pada Bara hingga ia pun bisa keluar dari sana tanpa ketahuan.
Plop.
Bara mendarat mulus dari atas pagar tembok yang cukup tinggi itu namun ia tak menemukan mobil Daniel di sekitarnya.
Sementara itu, Edy yang baru saja menutup pintu rumah, merasa curiga tatkala melihat tirai jendelanya tersingkap dan tertiup angin. Rasa lelah setelah seharian ini bercinta dengan Vale mendadak lenyap. Keringat dingin mulai membasahi kening dan seluruh tubuhnya.
"Siapa di sana?" teriak Edy sembari mengunci jendela dan berjingkat masuk ke dalam.
Ia tak pernah membuka jendela, pun begitu tak ada siapapun yang mengetahui rumahnya ini selain klien-klien pilihannya.
Memasuki area lorong menuju garasi, kecurigaan Edy semakin bertambah ketika melihat pintu kacanya juga terbuka.
__ADS_1
"Keluar kau! Siapapun dirimu keluarlah sekarang juga!" ancam Edy penuh kewaspadaan.
Tak jua menemukan siapapun di dalam rumahnya, akhirnya Edy memutuskan mengecek CCTV yang ia letakkan di tempat tersembunyi.
Beberapa menit membuka aplikasi CCTV-nya, tubuh Edy mulai mematung tegang ketika melihat lelaki yang sangat ia kenal menerobos masuk ke dalam rumahnya melalui jendela.
"Jadi akhirnya kau menemukanku, huh?" tawa Edy sumbang. "Baiklah, kini saatnya memulai permainan seru kita!"
Masih dengan tatapan lurus ke laptop, Edy merogoh ponsel di saku celananya dan menghubungi nomor Valeria.
.
.
__ADS_1
"Kita langsung ke kantor polisi?" Daniel menolehi Bara yang menatap kosong ke luar jendela.
"Besok pagi saja, Niel. Aku tidak membawa dokumenku." Bara menyahut dengan tak bersemangat.
Melihat kondisi adiknya yang nampak frustasi, Daniel akhirnya memilih untuk diam hingga mereka tiba di Penthouse. Menemukan bukti bila Edy adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa dan menewaskan ayahnya, tak pelak membuat perasaan Bara sangat hancur. Dia terluka, betapa teganya seorang Edy yang merupakan sepupu kandungnya, yang dirawat sejak SMP oleh Daddy-nya, ternyata merencanakan kejahatan yang menewaskan orang yang sudah sangat berjasa di hidupnya.
"Istirahatlah, Bara. Aku akan menjemputmu besok pagi. Kita akan ke Kantor Polisi bersama-sama!" bujuk Daniel ketika Bara melepas seatbelt di sisi kanan tubuhnya.
Masih dengan rasa lemah di seluruh tubuhnya, Bara mengangguk dan bergegas keluar dari mobil kakaknya. Daniel benar, dia harus istirahat dan bersiap untuk besok. Hari besarnya telah tiba untuk membalaskan dendam sang Ayah.
Setelah mandi dan mengenakan piyama tidur, Bara naik ke atas ranjang empuk berukuran kingsize. Kasur ini tak lagi nyaman sejak Kyra tak ada disampingnya, bahkan Bara lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak setelah kehilangan wanitanya. Tiap tengah malam, ia akan terbangun dengan perasaan hampa dan baru bisa tertidur lagi menjelang subuh. Begitu terus hingga jadwal tidurnya kacau dan mempengaruhi kinerjanya di kantor.
Akan tetapi, sebentar lagi penantiannya akan berakhir. Bara akan bertemu dengan Kyra setelah membereskan urusan Edy. Mungkin lusa atau paling lambat minggu depan, ia sudah bisa memeluk tubuh istri cantiknya itu.
__ADS_1
"I miss you, Ky. Tunggulah aku sedikit lagi ..."
...****************...